Sabtu, 25 Februari 2012
Konsep Pertunjukkan "PANOTO MULI"
SENI PERTUNJUKAN
KONTEMPORER
BERBASIS TRADISI
Pengantar
Indonesia adalah “potret” sebuah negeri yang memiliki potensi seni pertunjukan cukup besar. Kebhinekaan dan kemajemukan daerah, etnis dan bahasa di Nusantara justru semakin mengukuhkan betapa beragamnya seni budaya kita. Kesenian bukan hanya semata hiburan, melainkan naskah dan dakwa, sebagai media penyadaran, media pendidikan dan media renungan. Selain sebagai ungkapan ekspresi, seni pertunjukan juga menggunakan idiom-idiom kebudayaan Nasional sebagai alat artikulasi, seperti seni sastra modern, teater modern, tari kontemporer, seni lukis kontemporer. Persoalan sekarang faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan dan sosial ekonomis masyarakat diberbagai belahan bumi ialah proses modernisasi. Pada hakekatnya modernisasi termasuk bagian penting dari proses sosial. Moderniasi sering diartikan sebagai perubahan total dari masyarakat tradisional menuju suatu masyarakat yang maju. Dengan harapan bahwa perubahan ini akan dapat menghasilkan perbaikan nasib. Pengaruh modernisasi dalam bidang kesenian adalah tampilnya berbagai jenis seni yang bermuara pada pemanfaatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu sendiri.
Bentuk Acara
Seni Pertunjukan Kontemporer Berbasis Tradisi berfokus pada kearifan budaya lokal suku Kaili, mengangkat kisah mitologi dan Musik tradisi pesisir dan pedalaman
Sanggar Seni yang Tampil
Sanggar seni Lentera kolaborasi dengan beberapa Komunitas, sanggar, kelompok seni yang ada di Kota Palu, yakni Anantovea, KST, Teater Copo, Technokrat 12, Teater 45, Sas Caraka, 3 in 1.
Pertunjukan Teater
“Panoto Muli”
Naskah sutradara M.Noerdianza
“Panoto Muli” naskah sutradara M.Noerdianza berangkat dari mitologi Tomanuru, dan membenturkannya dengan konteks kekinian. Zaman modern ini hal apa saja bisa dilakukan. Tapi sangat disayangkan lebih banyak melahirkan pemikiran negatif ketimbang pemikiran positif. Menciptakan senjata digunakan untuk saling membunuh. Ini sama halnya dengan pemikiran manusia purba. Zaman saja yang berubah tapi pemikiran-pemikiran kita masih sangat primitif suka meniru dan ikut-ikutan masa bodoh apakah itu buruk adanya. Kesenian bukan semata media hiburan, melainkan sebagai naskah dan dakwah, sebagai media penyadaran, media penyampai pesan dan media pendidikan. Apalah artinya kesenian bila terlepas dari derita lingkungannya.
Semiotika dalam naskah “Panoto Muli”
Semiotika adalah hukum tanda dan penanda. Gaya, aliran, dan bentuk pemanggungan kontemporer. Tetapi konvensi masa lalu tidak dibuang melainkan sebagai dasar pijakan. Misalnya; penghadiran dua tokoh Tomalanggai dan Tomanuru. Kedua tokoh inilah yang dijadikan dasar pijak mencipta tanda-penanda bahwa Tomalanggai sebagai gambaran manusia itu sendiri. Penghadiran Cahaya melalui LCD Proyektor adalah simbol turunnya Tomanuru atau ilham, yang merubah pola pikir manusia tradisi (kebiasaan yang diajarkan secara turun-temurun ) menjadi modern, yang di visualkan melalui transisi tubuh purba ke tubuh modern. Menggambarkan peristiwa tubuh purba saat beraktivitas dan tubuh purba saat berburu. Sementara pengkajian melalui folklor tidak ditemukan data-data tertulis gaya bahasa maupun dialog di era prasejarah Tomalanggai. Dalam naskah “Panoto Muli’ Penulis tidak serta-merta membuat bahasa, melainkan melalui observasi, ada yang bilang bahasa Kaili dulu hanya 2 huruf, yakni “Ai” berkembang menjadi “Iya”, lalu kemudian menjadi “Ai iya”. (nara sumber Kais). Ada juga yang mengatakan bahasa Kaili itu seperti penggabungan 4 bahasa, yakni Arab, Cina, Jepang dan India. (nara sumber Djaludin) Dari ke 4 bahasa ini penulis mencoba menggabungkan garis besarnya saja dari ragam bahasa tersebut misalnya; dalam bahasa arab lebih menekankan kata ‘Qa’, dan ‘Kha’. Sementara dalam bahasa cina lebih kepada ‘Ci’, Jepang ‘Haii’ dan India ‘Ceiya’ dan ‘nehy’. Alasan penciptaan bahasa baru ini bukan semata mencari sensasi ataupun sebagainya ini dikarenakan tidak adanya data-data peninggalan sejarah tertulis mengenai gaya bahasa zaman era pra sejarah Tomalanggai. Jadi menurut penulis sah-sah saja mencipta dan membuat kembali bahasa baru kemudian disepakati bersama Aktor dan Sutradara. Bukankah bahasa tercipta melalui sebuah kesepakatan? Sementara penghadiran gerak tari antara Tomalanggai dan Tomanuru sebagai simbol dari sifat manusia yang hidup berawal pada peniruan dan penanda kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki. Serta proses penciptaan ide/gagasan antara manusia dengan pikirannya. Bunyi suara bayi menangis. sebagai simbol berhasilnya proses penciptaan, divisualkan melalui gedung-gedung, tombak, parang,Sumpit.
Lahirnya benda-benda dari hasil penciptaan melalui ide/gagasan atau ilham seperti sumpit, panah, senjata dan parang, malah digunakan untuk membunuh sesama. Dengan anggapan biar dibilang pemberani, biar disegani, biar dibilang hebat, merasa diri benar, tidak mau mengalah dan merasa diri lebih berkuasa. Zaman modern hanya nampak pada perkembangan teknologi, dengan hadirnya gedung-gedung, jembatan dan sebagainya tetapi pada pemikiran individu manusia masih sangat primitif. Contoh kasus yang terjadi dalam realitas sosial kita di Kota Palu, perkelahian sesama suku. Tanpa kita sadari apa bedanya kita dengan manusia primitif.
(M.Noerdianza)
SAKSIKAN PERTUNJUKKAN "PANOTO MULI"
SANGGAR SENI LENTERA
SABTU, 19 MARET 2012
PUKUL 19.30 WITA
TAMAN BUDAYA SUL-TENG
HTM Rp.15.000,-
Rabu, 15 Februari 2012
Ritual Penyembuhan Etnis Kaili di Sulawesi Tengah (kahar Palloe)
Sebagai kata pembuka, ini adalah sebuah tulisan sederhana tentang ” Balia “, sebuah upacara ritual penyembuhan, wujud sebuah kebudayaan yang ada di kalangan etnis Kaili, yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Tengah. Secara singkat digambarkan bahwa etnis Kaili merupakan etnis yang memiliki populasi terbesar dari 12 etnis yang ada di Sulawesi Tengah, tersebar di 3 wilayah yaitu : Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi.
Secara etimologi “Balia” berasal dari bahasa Kaili “Nabali ia” artinya “berubah ia”. Perubahan yang dimaksud dalam pengertian ini adalah ketika seseorang pelaku Balia telah dimasuki oleh roh halus, maka segala perilaku, gerak, perbuatan, cara berbicara sampai pada cara berpakaian orang tersebut akan berubah. Salah satu contoh, seorang pelaku Balia wanita, bila roh yang masuk ke dalam tubuhnya adalah laki - laki, maka ia pun langsung merubah cara berpakainnya seperti memakai sarung, kemeja, kopiah dan merokok. Gerak, tingkah laku dan cara berbicaranya pun tak ubahnya laki-laki. Sebaliknya, hal ini juga berlaku pada pelaku Balia pria yang dimasuki oleh roh halus wanita, dalam bahasa Kaili disebut “Bayasa” ( laki-laki yang berperilaku wanita ).
Pengertian lain tentang kata “Balia” adalah “bali ia” atau “robah dia”. Dalam pengertian ini, kata “robah dia” lebih dikonotasikan pada penyakit yang diderita seseorang yang diupacarakan agar disembuhkan. Sederhananya dapat diartikan merubah seseorang yang “sakit” menjadi “sembuh”.
Seperti diketahui bahwa nilai budaya merupakan konsep - konsep mengenai apa yang hidup dan alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, penting, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat tersebut.
Demikian halnya dengan upacara ritual penyembuhan “Balia”. Dari pengertian kebudayaan serta unsur - unsurnya secara umum, Balia merupakan salah satu sistem kepercayaan etnis Kaili. Meskipun sebagian besar etnis Kaili ( To Kaili ) memeluk agama Islam, namun sampai saat ini masih memiliki kepercayaan yang berkaitan dengan animisme dimana segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik buruknya, semua ada yang mengaturnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa (bahasa Kaili: “Tupu Taala”). Selain kekuatan “Tuhan”, orang Kaili juga mempercayai adanya hal-hal gaib, kekuatan roh yang dapat mendatangkan petaka, musibah, penyakit, bila murka akan perilaku manusia.
Di kalangan etnis Kaili, kekuatan - kekuatan gaib itu dipercaya ada di mana-mana, dalam pengertian bahwa langit dan bumi serta segala isinya di dunia ini memiliki penghuni / penjaga. Kekuatan gaib di langit disebut “karampua” dan pemilik kekuatan gaib di bumi / tanah disebut “anitu”. Selain itu segala isi alam seperti batu, pohon, laut, gua, gunung, bukit, dan lain - lain, juga diyakini berpenghuni.
Kelalaian, pelanggaran dari perilaku manusia dalam kehidupannya membuat para penghuni dan pemilik kekuatan gaib tersebut murka dan memberikan azab bagi manusia berupa bencana atau penyakit. Konsekwensi dari segala kejadian tersebut, manusia diwajibkan untuk bertobat, memohon kepada “Penguasa” alam agar dijauhkan dari malapetaka, disembuhkan dari penyakit yang diderita. Wujud pertobatan itulah yang dilakukan oleh orang Kaili melalui upacara ritual “Balia” dengan memberikan sesajian sebagai persembahan seraya memohon kesembuhan dan keselamatan bagi umat manusia.
Mempelajari sejarah orang Kaili dari sudut antropologi, menurut legenda, cikal bakal orang Kaili berasal dari “bambu kuning”, erat kaitannya dengan “Sawerigading” Savi = lahir / timbul rigading = di bambu kuning ( bahasa Makassar ), artinya sama dengan bahasa Kaili “Topebete ribolovatu mbulava” atau “orang yang lahir / muncul dari bambu kuning”. Sawerigading diyakini oleh orang Kaili sebagai nenek moyang mereka, sehingga apa yang dilakukan oleh Sawerigading diikuti oleh oleh keturunannya, termasuk Balia.
Berdasarkan keterangan - keterangan dari tokoh - tokoh pelaku upacara ritual Balia, bahwa yang pertama - tama mempertunjukan Balia adalah Sawerigading. Balia yang dilakukan oleh Sawerigading berupa gerak - gerak tari seperti orang yang kesurupan sampai mengalami trance. Kala itu banyak orang yang datang menonton Balia, termasuk orang yang sakit. Anehnya ketika menyaksikan Balia, orang - orang yang sakit ketika sampai dirumahnya pulang menonton Balia, ia menjadi sembuh.
Dari peristiwa itulah, Balia mulai dilakukan oleh orang Kaili. Namun diyakini bahwa penyakit yang diderita tentu ada penyebabnya, hal ini sangat erat kaitannya dengan keyakinan dan kepercayaan kepada kekuatan gaib dan penghuni / penjaga alam semesta. Kaitan keterangan sejarah singkat orang Kaili seperti yang telah disebutkan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan semua apa yang dikerjakannya ( Ralfh L Beas dan Harry Hoijen:1954:2 ).
Ditengah perkembangan dan kemajuan peradaban dewasa ini, Balia sebagai salah satu media penyembuhan orang sakit, masih dilaksanakan oleh orang Kaili. Tak jarang dijumpai dalam pola hidup orang Kaili, bila ada anggota keluarga yang sakit, sudah dibawa ke dokter, diinapkan di rumah sakit, tapi tak kunjung sembuh, sebagai upaya penyembuhan secara adat istiadat diupacarakan dengan ritual Balia.
Pelaksanaan upacara ritual Balia umumnya dilaksanakan di tempat terbuka, seperti lapangan atau halaman rumah yang luas, terdapat sebuah bangunan besar tidak permanen yang dibangun secara gotong royong oleh keluarga yang akan melaksanakan upacara, dibantu oleh masyarakat sekitarnya. Bangunan ini disebut “Bantaya” atau balai pertemuan, tempat berkumpulnya para pelaku upacara selama prosesi upacara berlangsung. Waktu pelaksanaan upacara pada malam hari selama 3 - 4 hari berturut - turut. Penetapan waktu pelaksanaannya ditentukan oleh tokoh adat setempat, disesuaikan dengan hari baik menurut kepercayaan orang Kaili. Dalam upacara Balia instrumen musik berupa gendang, gong, lalove (suling panjang khas Kaili) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pelaksanaannya. Instrumen music ini dimainkan untuk mengiringi para pelaku Balia yang menari - nari (bahasa Kaili: Notaro) karena telah kesurupan roh halus.
Bila upacara Balia digelar, selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Ritual ini menjadi sebuah media pertemuan masyarakat dari segala tingkatan usia dan strata sosial. Selain sebagai sebuah bentuk upacara tradisi, Balia telah menjadi konsumsi hiburan masyarakat bahkan menjadi pasar kecil - kecilan karena masyarakat lainnya juga memanfaatkan momen ritual ini dengan menggelar dagangan makanan kecil seperti : kacang, pisang, kue-kue, minuman, dan lain - lain.
Balia adalah salah satu sistem kepercayaan etnis Kaili yang masih terpelihara, membentuk sebuah nilai, norma, etika, tatanan sosial orang Kaili di Sulawesi Tengah yang hingga kini belum ada satu pihak pun menolak keberadaannya. Terlepas dari ajaran Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas etnis Kaili, Balia memiliki nilai seni yang tinggi sebagai salah satu local genius ( kearifan lokal ), wujud dari sebuah kebudayaan yang telah diakui oleh masyarakat Sulawesi Tengah sebagai culture icon ( ikon budaya ).
Apresiasi dan penghargaan, itulah yang sangat diharapkan terhadap ke - Bhinneka - an kebudayaan negeri ini. Menjaga, merawat, memelihara dan melestarikan kebudayaan sebagai perekat pemersatu bangsa, tentunya menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai pemilik kebudayaan tersebut. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya.
sumber :http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/02/ritual-penyembuhan-etnis-kaili-di-sulawesi-tengah/
VALENTINE DAY ANTE BALIA (Sebuah Wujud Yang Jauh Dari Wujud)
Sebuah spanduk yang sudah beberapa hari terbentang di halaman Taman Budaya sul teng berisi informasi bahwa tanggal 14 februari nanti akan ada sebuah parade pertunjukkan kesenian (tari,teater dan musik) oleh salah satu kelompok kesenian kampus universitas tadulako sul teng. Kelompok ini bernama Sanggar Seni Balia,(sebuah sanggar di fakultas hokum UNTAD). Dari infonya, teman teman balia akan menggelar acara tahunan mereka yang bertajuk GASS (gelar aksi serba seni),dan tema mereka tahun ini “valentine day ante balia” (hari valentine bersama Balia). Acara tahunan tersebut kali ini di sponsori oleh sebuah produk rokok yang cukup populer serta memiliki konsumen yang terbilang banyak di kota palu dan sekitarnya. Konon tema yang diangkat teman teman balia tahun ini adalah sumbangsih perusaha’an rokok tersebut. Satu sisi,saya pribadi merasa lega jika tema itu benar merupakan ide yang lahir dari sebuah perusahaan bukan dari kawan kawan penggiat seni di Balia, sebab akan menjadi sebuah langkah mundur bagi balia sendiri apabila tema ini ternyata gagasan para pelaku seni yang harusnya mampu menafsir jauh lebih dalam terhadap persolan merespon momen seperti valentine ini misalnya. namun apapun itu, hendaknya Balia mampu memberikan penawaran-penawaran yang lebih kuat terhadap pihak sponsor yang notabene melihat kesenian sebagai sesuatu yang “sekedar ramai tepuk-tangan”,”joget-joget”,bahkan “hedonisme”. Pendeknya, balia harus punya konsep jelas terhadap penataan acara dan pengkaryaan. Saya sangat yakin,hal itu tidak akan menimbulkan radikalisme kesenian atau serta merta merubah cara pandang melihat seni sebagai seni, toh masih banyak ruang-ruang yang bisa jadi luwes guna mengapresiasi keinginan sponsor dan rasa entertain dalam acara tersebut jika memang hal itu dijadikan beban oleh teman teman balia. Paling tidak, janganlah kita terkesan malas memikirkan capaian kesenian itu sendiri apalagi mencederainya dengan gagasan-gagasan dangkal yang jauh dari mutu. Sudah seharusnya GASS tahun ini menjadi catatan bagi Balia ketika menggagasnya kembali tahun depan. Evaluasi kemudian menjadi hal yang tidak boleh tidak dilakukan guna kesiapan penyajian di kemudian hari. Saya melihat perlu ada kesiapan secara konsep dulu pada tingkatan panitia sebelum melemparkan bentuk kegiatannya ke pihak pendukung nantinya. Apakah memang GASS hanya berakhir pada parade kesenian saja,atau ingin mencapai sebuah gagasan utuh dalam menyikapi keadaan sekitar lewat prespektif kesenian yang total dan berkualitas.Diskusi diskusi sebelum event perlu banyak di genjot oleh kawan kawan dengan menghadirkan orang-orang yang berkompoten guna memberikan beragam pandangan terhadap idealnya sebuah pertunjukkan meskipun awalnya akan terkesan subjektif sampai dia menemukan landasan (ruang) yang paling tepat untuk menetaskan gagasan awal garapan tersebut.toh kebenaran bersifat sangat relatif ketika berada di atas panggung,namun tak ada alasan untuk mengabaikan strategi strategi menuju kesenian yang meiliki ruh dan "wujud" jelas. Begitupun pada ragam tampilannya,secara tekhnis pada tampilan-tampilan semalam terlihat teman-teman tidak boleh menyepelekan ide penggarapan maupun kemasannya.
Membangun kesadaran serta tanggung jawab sebagai pelaku dalam mengolah karya-karyanya.
Hal inilah yang penting untuk dihayati lebih khusyuk oleh teman teman pekerja seni kampus di kota Palu umumnya. Menjadikan proses berkesenian teman-teman kampus di luar daerah sebagai “referensi juang” di tanah kita juga barangkali menjadi salah satu alternetif dalam rangka membangun kesenian kampus yang patut dicoba. Lihatlah ketika bagaimana sanggar – sanggar kampus (misalnya sebagai contoh yang ada di wilayah jawa tengah dan timur) mampu memposisikan dirinya sebagai sebuah komunitas seni yang tidak boleh dilihat sebelah mata,bahkan mereka mampu menelorkan seniman-seniman yang tidak sekedar aktif dan produktif tapi juga kreatif dalam menterjemahkan gagasan kedalam setiap pertunjukkannya. Padahal seniman-seniman kampus kita (termasuk balia tentunya) hampir setiap tahunnya menghadiri event-event kesenian antar kampus se Indonesia, keadaan ini seharusnya mengurangi satu lagi alasan untuk tidak menjaga eksistensi dan konsistensi dalam melahirkan karya-karya yang baik guna mewarnai geliat kesenian kota palu dan sekitarya. Lebih dari pada itu jika kita melihat usia sanggar-sanggar kampus kita yang sudah tidak lagi tergolong anyar,semestinya kampus telah mampu menjadi sebuah ruang apresiasi alternatif atau bahkan kantong-kantong kesenian yang menawarkan pemikiran-pemikiran tajam terhadap keadaan sekitar dengan menjadikan lingkungannya tersebut sebagai materi bagi metode eksplorasi pra penciptaan. Perlu kita garis bawahi dan hendaknya selalu direnungkan bahwa kelompok-kelompok kesenian kampus adalah kelompok yang memiliki potensi besar untuk berkembang sebab lahir dan diolah oleh para mahasiswa cerdas,berpendidikan,kritis serta peka dalam melihat serta menafsir berbagai macam persoalan termasuk kesenian yang sarat dengan muatan – muatan etis,estetis guna pembentukkan karakter.
DI ATAS PANGGUNG GASS.........
Malam itu GASS di buka oleh sebuah pertunjukkan drama “sepasang mata indah” karya kirdjomuljo. Pada pertunjukkan yang digarap oleh dian (mahasiswi fak hukum untad yang juga tergabung dalam balia) ini masih perlu mengalami pembenahan keaktoran. Pertunjukkan sepasang mata indah dari S.S balia ini didominasi oleh tokoh “cowok” yang diperankan oleh rolis abie, sangat terasa lawan mainnya masih bingung dalam menginterpretasi karakternya sendiri.tokoh “cewek” dan”ayah” terlihat kewalahan dalam mengimbangi sang “cowok”,bahkan kehadiran 4 orang pengamen (3 orang sebagi waria dan seorang lagi wanita culun) yang menggegerkan suasana itu sesungguhnya memiliki nilai keaktoran (terutama mimik dan vokal) yang begitu lemah,suasana geger itu muncul tidak lebih karena sorak sorai penonton yang menertawakan teman sekampusnya menggunakan kostum wanita serta make up yang menor. Kesimpulannya,garapan sepasang mata indah semalam,terlalu buru-buru untuk ditampilkan. Belum lagi ilustrasi musiknya yang sangat “tanggung” dan hampir kehilangan fungsinya untuk memperkuat bagian-bagian tertentu. Dan konon musik ini di garap sehari sebelum pertunjukkan. Sudah sedemikian parahnya kah cara kita melihat sebuah peristiwa kesenian untuk disajikan bagi publiknya?
Setelah Sepasang mata indah,penonton diajak menikmati tari yang di koreo oleh Arafat, judul tari ini “ekspresi gerak”, entah ekspresi gerak apa yang dibidik oleh koreografer,hal inipun tidak dibahas gamblang dalam sinopsis. “Meraba-raba” dan “ngambang”,inilah kesan yang dominan hadir pada pertunjukkan tari ini.sangat sulit ditemukan substansi dari gerak maupun pola-pola lantai yang dihadirkan, sangat wajar juga jika Juli (penata musik tari tersebut) memilih ber “eksperimen” saja dengan bunyi-bunyian tanpa ada pendekatan tema bunyi yang jelas. Pada beberapa bagian garapan musiknya pun cukup beresiko terhadap “sound balancing” ketika bunyi string dari keyboard digunakan.
Setelah tari, GASS pun sampai di puncak acara (begitu menurut MC) yaitu kakula gaul. 2 hal yang menjadi masukkan untuk acara puncak ini
1. Penataan sound yang harusnya diberikan perhatian lebih serius.
2. Intimidasi accord guitar terhadap instrumen kakula sangat terasa.
selebihnya saya memilih no comment untuk bagian ini,sebab saya bingung untuk membahas mengapa “jogja” nya kla project serta sebuah lagu dari Alm Chrisye (maaf saya lupa judulnya) didaulat sebagai klimaks.
Dadendate
Masyarakat pemakai dadendate berasal dari Kecamatan Sindue. Kurang lebih 36 kilometer sebelah utara Kota Palu, tepatnya di Desa Taripa yang berjarak kurang lebih 6 kilometer arah timur Ibu Kota Kecamatan. Desa ini sekaligus merupakan sampel penelitian.
Photo By Ola
A. Keadaan Geografis
Desa Taripa tepat berada di lereng gunung. Penduduk setempat menamakan gunung-gunung yang mengitari pemukiman mereka sebagai berikut:
* Sebelah utara Gunung Simanggole
* Sebelah barat Gunung Simoaya
* Sebelah timur Gunung Toposo
* Sebelah selatan Gunung Toampana
Hampir seratus persen penduduk Desa Taripa mempunyai sumber penghidupan di bidang perkebunan coklat dan palawija. Hal ini didukung oleh iklim dan hawa pegunungan. Hanya 2% yang bekerja sebagai pegawai negeri. Luas wilayah Desa Taripa adalah 21 km persegi, dengan batas wilayah sebagai berikut :
* Sebelah utara dengan Desa Saloya
* Sebelah timur dengan gunung yang disebelahnya wilayah kecamatan Ampibabo
* Sebelah selatan dengan kuala (sungai) Lero
* Sebelah barat dengan Desa Sumari
B. Keadaan Demografis
Desa ini adalah desa yang paling sedikit jumlah penduduknya. Taripa berarti pohon mangga. Dari hasil penelitian, penduduk desa ini berasal dari Orang Kori pedalaman. Sampai saat ini daerah pemukiman Orang Kori masih dapat ditemukam. Yakni sebuah daerah apa yang mereka namakan Sitabo. Kurang lebih 5 kilometer naik ke daerah pegunungan sebelah Timur.
Sitabo sendiri berarti pohon yang bundar. Babasa yang digunakan orang Taripa adalah bahasa Kaili dengan memakai dialek Rai yang terkadang tercampur dengan bahasa Kori.
C. Kondisi Sosial Budaya
Masyarakat di desa ini mayoritas memeluk agama Islam sisanya memeluk agama Kristen. Dalam sektor pendidikan penduduk desa ini umumnya masih rendah.
Taraf pendidikan ini masih dapat dilihat lagi dari presentasi penduduk desa yang mengecap pendidikan. Menurut nara sumber, orang Taripa atau Kori termasuk Kaili pedalaman. Hal ini dapat dilihat dari bentuk fisik mereka yang berbeda dengan desa-desa Pesisir Kecamatan Sindue. Jarak antara Desa Taripa dan daerah pesisir pantai sekitar 8 km.
Beberapa kesenian yang ada, selain Dadendate dapat disebutkan seperti Kayori ( Musik Vokal berbentuk syair-syair) dan Dondi ( Upacara syukuran panen).
DADENDATE, NYANYIAN PEMBAWA BERITA
A. Pengertian Dadendate
Dadendate terdiri dari dua kata yakni dade dan ndate. Dade berarti lagu, sedankan Ndate dalam pengertian bahasa Kori seperti berikut ini : Misalkan seseorang berada di kaki bukit atau gunung. Ketika ditanyakan hendak kemana, maka bila dijawab Ndate berarti di atas bukit sana atau ia akan melakukan perjalanan dengan menaiki atau mendaki bukit itu sampai tujuan. Jadi Dadendate artinya lagu yang mengisahkan suatu dari bawah ke atas. Apa yang diuraikan dalam syair lagu Dadendate sifatnya menanjak dan menuju ke puncak. Bila dia menceritakan sesuatu, selalu dari awal sampai akhir cerita tersebut.
Jadi Dadendate menurut nara sumber adalah sebuah kesenian yang paling komunikatif di komunitas To Sindue atau daerah sekitar desa Taripa atau daerah disekitar desa Taripa. Dadendate bisa menceritakan apa saja, mulai dari sejarah, romantisme muda-mudi, silsilah, perjuangan, dan lain-lain. Contohnya paling sederhana adalah proses seseorang dalam mencapai pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi bahkan acara wisuda.
Banyak para pemerhati seni, budayawan, pengamat seni memberikan pengertian mengenai Dadendate ini. Tergantung dari perspektif mana orang memandang. Sebagian menyebut dadendate sebagai embrio teater daerah ini. Ada yang berpendapat bahwa Dadendate adalah sebuah seni sastra tutur, karena syairnya yang dilagukan secara spontan, puitis, tanpa teks maupun naskah. Karena mengandalkan improvisasi syair yang dilakukan senimannya.
Penulis sendiri memandang Dadendate sebagai nyanyian pembawa berita atau nyanyian berceritera. Dan pada literatur sejarah musik seperti nyanyian Troubadour di Perancis beberapa abad yang lalu.
B. Sejarah Dadendate
Dadendate, berawal dari Kimba a yang masih berupa doa-doa / syair-syair ritual orang tua dulu, berbentuk uraian dan masih bersifat individual. Dalam kurun yang cukup jauh berubah lagi menjadi dulua. Dibanding Kimba a, dulua sudah berbentuk lagu / nyanyian semisal Nopalongga (nyanyian menidurkan anak yang dilagukan ibunya dimana terkandung doa dan keselamatan yang ditujukan kepada wajah sang anak yang sedang berlayar mencari ikan). Kimba a dan Dulua belum menggunakan alat kecapi, masih berbentuk musik vokal semata. Dari dalua, bentuk kesenian ini berubah lagi menjadi bola-bola.
Perubahan yang menonjol adalah syair yang dibawakan tidak lagi berupa syair ritual, tetapi sudah menjadi syair yang profan. Semisal syair muda-mudi dalam acara memetik padi dan telah menggunakan kecapi. Tepatnya ketika orang mengambil waktu untuk istirahat. Kecapi digunakan sebagai pengantar dan perantara syair-syair yang digunakan (biasanya antara dua kelompok muda-mudi yang menggunakan sebagai lagu sebagai sarana komunikasi). Bola-bola dimulai oleh solo vokal dan didiikuti lainya. Ketiga bentuk kesenian ini masih bahasa Kori, induk dari bahasa Kaili Rai dan Bare’e.
Rampamole (pengenduran senor/tuning) adalah bentuk selanjutnya dari kesenian ini. Mulai dari Rampamole dan seterusnya sudah menggunakan bahasa Rai. Pada fase ini telah menggunakan kecapi bersamaan dengan nyanyian yang hampir mendekati Dadendate. Rampamole sendiri berarti dikendurkan, berarti diperkecil suaranya. Tidak terlalu lama dalam fase ini berubah lagi menjadi ciri-ciri yang ciri utamanya menjadi lebih panjang.
Pada fase ini, kesenian ini menyebar ke wilayah-wilayah lain sampai ke Toli-Toli. Ei-ei pada zamannya amat disukai oleh para muda-mudi.
Kurang lebih sekitar tahun 1952-1953 berubah menjadi Dadendate. Inilah bentuk terakhir dari kesenian ini. Menjadi sangat populer dan ciri khas kesenian dari daerah Sindue sekaligus kebanggaan mereka.
Orang Kori merasa kesenian ini adalah asli dari mereka. Tidak ada pengaruh Bugis, meskipun instrumen kecapinya mirip (bahkan dengan kecapi di Sulawesi Utara) dan lokasi sampel penelitian termasuk daerah pesisir. Kesenian ini menurut mereka tidak ditemukan di daerah lain.
Argumen yang mereka kemukakan adalah kata ndate buat To-Biromaru, To-Palu dan To-Tawaeli misalmya, berarti panjang. Sedangkan bagi To-Sindue bentuk menjadi panjang digunakan istilah nalonggo.
Namun hal ini menurut hemat penulis perlu di kaji lebih jauh karena menurut informan bentuk kecapi yang mirip perahu berkaitan dengan legenda Sawerigading. Selain dari itu perlu penelitian yang lebih mendalam apakah Dadendate benar-benar merupakan proses evolusi dari nyanyian ritual seperti Dulua dan Kimba a.
C. Pelaksanaan Dadendate
Dadendate dulunya adalah musik vokal individu yang kemudian berkembang ditambah dengan kecapi dan mbasi-mbasi, yang terkadang memainkan satu melodi yang sama.
Dadendate dapat dimainkan kapan saja dan dimana saja. Tidak ada batasan waktu yang pasti. Bisa sampai berhari-hari. Demikian juga dengan jumlah pemain tidak ada batasan pasti. Namun kecenderungan saat ini adalah, terdiri dari 3 orang pemain kecapi, 2 pria dan 1 wanita serta mbasi – mbasi. Pemain kecapi merangkap sebagi vokalis.
Dadendate bisa bercerita tentang apa saja, sesuai situasi atau pesanan dari orang. Syair-syair yang terlontar sangat spontan dan bisa berdasarkan apa yang nampak pada saat terselenggaranya Dadendate. Misalnya ketika permainan berlangsung ada suguhan teh, maka bisa saja momen penyuguhan teh itu terlontar dalam nyanyian tersebut.
Dadendate dimulai dengan penyeteman sederhana antara mbasi-mbasi dan senar kecapi. Kemudian Kecapi dan mbasi-mbasi memainkan satu tema sebagai pengantar atau intro dan kemudian disusul oleh vokal. Setiap permainan dadendate dimulai dan diakhiri dengan salam.
Dadendate terbagi dalam 12 (dua belas) jenis lagu:
1. Andi Anona
2. Dadendate
3. Andi – andi
4. Inalele
5. Tabe la laindo
6. 1 Gani
7. Malaeka (dimainkan pada waktu subuh)
8. Padang Masyhar
9. Janda Muda
10. Gunung Ladisayo
11. Lanja ea Nona
12. Rugi Temba mo aku e
Dalam sebuah permainan dadendate tidak harus kedua belas jenis lagu tersebut dimainkan dan urutan dimainkan lagu-lagu tersebut pun tidak mengikat.
Sebelum memulai permainanya, biasanya pemain dadendate akan menanyakan beberapa hal kepada yang punya hajat tentang tema yang mereka bawakan. Kalau dari pihak sang pengundang mengadakan syukuran atas kesuksesan salah seorang keluarganya menyelesaikan sekolahnya sampai sarjana, maka syair yang akan terlontar nantinya berkisar mengenai kisah pendidikan orang yang dimaksud. Mulai dari SD, SMP, SMA, merantau untuk kuliah, pun sampai wisuda.
D. Bentuk Fisik Kecapi Dadendate
Kecapi dadendate terbuat dari kayu lengo / Balaroa. Sedang senarnya dulunya menggunakan tali enau. Dan sekarang banyak yang berasal dari kawat kecil yang terbuat dari baja dan tali labrang rem sepeda.
Seperti yang telah diuraikan di depan bahwa bentuk kecapi pada permainan Dadendate menyerupai sebuah perahu. 0leh nara sumber hal ini berbubungan dengan legenda Sawerigading.
Sebuah kecapi terbagi atas bagian-bagian yang penamaannya diserupakan atau disamakan denga organ tubuh manusia. Seperti berikut ini:
* Lelona : Bagian ekor dari kecapi
* Pusena : Pusat / Penampang senar (Bridge)
* Taina : Perut / Badan bagian belakang Kecapi / Resonansi belakang
* Bombarana : Dada / Badan bagian depan Kecapi / Resonansi depan
* Koyampalona : Papan jari terdiri dari lima bidang bundar sama besar (Fingerboard)
* Ongena : Hidung / Penampang senar bagian depan (Nut)
* Potoro : Telinga / Penyetem senar / Tunning head. Terdiri atas 2 potoro kiri dan kanan
* Irana, : Daun / Kepala Kecapi / Head
* Tutugo : Leher / Bagian penghubung antara badab dan kepala kecapi
* Bengona : Bagian belakang Kecapi
* Bolona : Lobang pada bagian belakang Kecapi. Terdiri 3 bagian dengan
diameter yang berbeda
* Lelona berukuran panjang 8 c, tinggi 10 cm, dan Lebar 1 cm
* Pusena berukuran tinggi 5,5 cm, diameter 3,5 cm
* Taina Panjang 20 cm, lebar 14 cm, dan tebal 9 cm
* Bombarana Panjang 39 cm, lebar 11 cm, dan tebal 7 cm
* Koyampalona Diameter 2 cm, Tinggi 5 cm, Panjang 17 cm
* Ongena Panjang 3 cm, tinggi 0.5 cm, lebar 2 cm .
* Potoro berukuran panjang 3 cm
* Irana panjang 25 cm, tinggi 7cm, lebar 0.5 cm
* Bengona berukuran panjang 58 cm lebar 20 cm
* Bolona 1 berdiameter 2 cm, bolona 2 berdiameter 3,5 cm, dan bolona 3 berdiameter 5 cm.
Papan jari pada kecapi yang terdiri dari 5 bagian mempunyai kandungan pengertian akan 5 unsur dalam kehidupan, Masing-masing :
1. Sirih menggambarkan urat yang mengelilingi tabuh manusia
2. Pinang menggambarkan jantung
3. Tembakau menggambarkan empedu
4. Kapur menggambarkan tulang
5. Gambir menggambarkan paru-paru
Penggambaran ini apabila digabungkan akan menjadi warna merah yang menggambarkan darah yang ada dan dibutuhkan oleh tabuh manusia. Ini merupakan ketentuan adat yang dalam bahasa lokal disebut Sambulugana.
Kecapi terdiri dari dua senar berukuran panjang 39 cm dengan diameter 0,5 cm.
Dua senar kecapi menggambarkan orang tua (senar bawah) menyayangi yang muda (senar atas). 2 senar itu juga menggambarkan keselarasan dan keseimbangan alam. Seperti juga atas-bawah, bumi – langit, perempuan-Iaki-laki, dan seterusnya.
E. Tehnik Bermain Kecapi
Pada bagian ini, untuk menguraikan tehnik bermain pada permainan kecapi dibagi atas tangan kanan dan kiri. Tehnik tangan kiri menggunakan teknik slur yang terbagi atas hammer on (menekan, memukul senar) dan pull off (menarik senar).
Tangan kanan menggunakan tehnik petik (picking) yang menggunakan batang kecil yang terbuat dari kayu yang berukuran seperti batang korek api. Kayu tersebut dijepit oleh ibu jadri telunjuk dan jari tengah.
Kecapi dimainkan dalam posisi duduk di kursi dan diletakkan pada pangkal paha. Bagian belakang kecapi diusahakan sedemikian rupa sejajar dengan bagian perut pemain. Hal ini berfungsi mengatur keras lembutnya suara kecapi. Apabila ingin menghasilkan suara yang keras, maka lubang bagian belakang kecapi dijauhkm dari perut. Sedangkan bila ingin menghasilkan suara yang lembul maka dua lubang kecapi dirapatkan ke perut.
F. Musik Dadendate
Dua senar kecapi pada permainan dadendate, masing-masing terdiri dari nada c’ untuk senar atas dan g untuk senar bawah. Penyeteman ini akan berubah apabila yang dimainkan adalah Rampamole dan ei – ei , dimana untak senar bawah menjadi c’ dan senar atas menjadi nada g. Atau mudahnya kebalikan dari Dadendate.
Melodi yang dihasilkan oleh baik kecapi, vokal dan mbasi-mbasi walaupun mempunyai garis melodi yang mirip, namun tidak persis sama. Fungsi kecapi selain sebagai pengiring juga akan mengikuti garis melodi bila mbasi-mbasi dan kemudian diikuti vokal.
Pada bagian ini diupayakan untuk melakukan penotasian dengan menggunakan not balok secara bersama-sama (full score). Namun untuk kecapi tidak dirinci menjadi kecapi 1, kecapi 2 dan kecapi 3 sesuai dengan jumlah kecapi yang dimainkan. Namun cukup satu kecapi saja dengan alasan untuk mempermudah penotasian dan diantara ketiga kecapi itu tidak terlalu mencolok perbedaanya.
Penotasian dilakukan pada awal permainan dan satu lagu yang utuh. Yakni pada saat penulis meminta mereka untuk bermain secara khusus untuk kepentingan penotasian. Dan pemain dadendate mengira bahwa pengulangan perekaman karena, sebelumnya mereka bermain kasar. Hal ini nampak pada syair yang mereka bawakan.
Yang dimaksud satu lagu yang utuh adalah sebuah pengulangan 1 bagian yang terdiri dari intro, kalimat melodi 1 (pembuka) vokal , interlude, kalimat melodi 2 (isi) vokal, interlude, kalimat melodi 3 (penutup) masing-masing untuk vokal pria dan wanita.
Sangat mungkin terjadi perubahan dan varian-varian pada pengulangan-pengulangan lainnya. Hal ini terutama nampak pada vokal yang sering kali menyesuaikan melodi dan syair. Baik silabis ataupun melismatis. Artinya penyanyi bebas untuk menambah atau mengurangi gerak melodi dengan syair yang spontanitas. Yang justru merupakan kekuatan musik Dadendate.
Musik dadendate dimulai dengan petikan kecapi sebagai pengantar (tidak dinotasikan). Untuk kemudian disusul dengan mbasi-mbasi yang akan bersama-sama membuat intro atau pengantar. Mbasi-mbasi akan memainkan melodi yang menyerupai vokal mulai pada birama 1 sampai birama 61.
Melodi mbasi-mbasi dimainkan dengan tehnik pogantainosa (tehnik untuk membuat melodi yang dihasilkan tidak terasa terputus atau berhenti untuk mengambil napas).
Melodi vokal untuk pria dan wanita berbeda. Perbedam sangat menonjol terdapat pada potongan melodi pembuka birama 61 – 74. Vokal pria mendahului vokal wanita. Kalimat melodi 1 vokal pria mulai dari birama 61 – 80.
Kalimat melodi 1 berisi syair-syair pembuka tentang isi syair yang akan disampaikan nantinya. Pada birama 81 vokal pria berhenti selama beberapa saat yang diisi oleh kecapi dan mbasi-mbasi. Pada saat ini vokalis agaknya diberi kesempatan untuk beristirahat dan menyusun syair-syair yang akan dinyanyikannya. Dalam penotasian dituliskan birama yang dibutuhkan untuk istirahat. Namun sesungguhnya berubah-ubah untak setiap pengulangan. Vokalislah yang menentukan kapan dia akan mulai.
Vokal akan memulai kalimat isi (kalimat kedua) pada birama 85 ketukan 2 – 109. Birama 90 ketukan 2 – 109 berisi melodi pendek yang diulang-ulang beberapa kali dan berisi inti syair yang dikemukakan. Syair pada potongan melodi ini bersajak a – a – a – a.
Kalimat penutup (kalimat ketiga) dimulai pada birama 110 – 117.
Setelah penyanyi pria menyelesaikan lagunya maka akan disusul penyanyi wanita yang diantarai oleh permainan mbasi-mbasi dan kecapi 118 – 120. Kalimat melodi pembuka dimulai dari birama 122 – 141. Pada birama 142 – 145 ada interlude yang diisi oleh mbasi-mbasi dan kecapi untuk memberikan kesempatan penyanyi istirahat dan menyusun syair-syair berikutnya.
Kalimat kedua (Kalimat isi) dimulai pada birama 146 – 160. Potongan melodi pada birama 150 – 153 diuIang-ulang beberapa kali dan berisi inti syair yang ingin dikemukakan. Jumlah pengulangan berubah-ubah untuk setiap pengulangan lagu. Namun dalam penotasian tanda ulang ditulis hanya satu kali untuk mempermudah penotasian syair pada potongan melodi ini bersajak a – a – a – a.
Kalimat ke tiga (Penutup) dimulai pada birama 161- 167.
G. Prospek Dadendate Mendatang
Dadendate sebagai nyanyian bercerita, pembawa kabar, bertutur, atau apapun julukan buat dia, sangat layak untuk mendapat perhatian dalam perkembangan selaanjutnya. Berbagai upaya untuk pengembangan kesenian tradisi sebenarnya lebih diupayakan untuk terjadinya seleksi alami.
Kesenian tradisi yang memang mati secara alami tergilas oleh perputaran zaman tidak perlu ditangisi. Yang dapat kita lakukan adalah mencegah kepunahan kesenian-kesenian tradisi yang mati tidak secara alamiah. Artinya punah sebelum waktunya. Penotasian yang dilakukan ini adalah salah satu cara mengatasi kepunahan yang tidak alami.
Dengan penotasian seperti ini akan terbuka kemungkinan untuk analisa modus, melodi, harmoni, beberapa elemen musik yang ada dalam dadendate, syair atau apa saja yang terdapat dalam dadendate. Analisa seperti ini penting untuk dapat merumuskan apa yang dapat kita lakukan untuk pemanfaatan idiom-idiom musik dadendate.
Kalau lanngkah yang kita ambil adalah memanfaatkan idiom tradisi menjadi sebuah garapan pertunjukan, maka keseringan kita untuk membuat karya-karya tanpa proses analisis terlebih dahulu dapat tedihindari.
Untak seniman tradisi dan kesenian dadendate itu sendiri, menurut pengamatan penulis tidaklah nieng-khawatirkan. Dari pergaulan dengan seniman tradisi itu sendiri selama penelitian berlangsung nampak bahwa mereka sebagai seniman sadar akan hak dan tanggungjawab mereka sebagai seniman.
Frekwensi pertunjukan mereka untuk mengisi acara-acara hajatan sedikit banyak mampu untuk menjaga mereka tetap berkesenian. Proses regenerasi yang mereka lakukan dengan menurunkan kemampuan tersebut kepada anak-anak juga berlangsung.
Hanya saja masalah syair memang menjadi kendala. Para maestro Dadendate umumnya, tidak mempunyai kemampuan bahasa Indonesia yang baik. Sehingga kekuatan syair pada musik ini akan mempunyai hambatan pada masalah komunikasi apabila dipresentasikan pada komunitas non Kaili yang berdialek Rai. Lain dengan apa yang terjadi pada kesenian Madihin pada suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pemain-pemainnya mempunyai kemampuan bahasa Indonesia yang baik sehingga masalah diatas tidak terjadi.
Dalam sebuah diskusi seorang pengamat membayangkan apabila para pelaku Dadendate ini mempunyai kebiasaan membaca koran atau apa saja sehingga syair-syair yang mereka bawakan benar-benar masalah aktual yang terjadi pada masa dewasa ini. Hal ini dapat diatasi dengan seringnya megajak mereka berdialog tentang kondisi-kondisi terkini yang terjadi pada masyarakat Sesuai tradisi lisan yang mereka punyai.
Sumber: Perpustakaan Taman Budaya Sulawesi Tengah
Jl. Abd. Raqie Glr. Dato Karama No1 Palu. Telp. (0451) 423092
Senin, 13 Februari 2012
NEGERI EMAS YANG MEMUDAR
Dulu, negeri Indonesia kaya akan emas, sebagaimana disebut-sebut berbagai sumber kuno. Emas telah dikenal masyarakat Indonesia ribuan tahun yang lalu dan semakin populer setelah masyarakat berhasil menyempurnakan teknik peleburan bijih logam.
Diperkirakan logam mulia tersebut telah ada sejak tradisi megalitik, sekitar tahun 3000 hingga 2000 SM. Pendukung tradisi itu antara lain ditemukan di Nias. Di sana emas dan perhiasan merupakan perangkat penting untuk mengadakan owasa (pesta) karena emas dianggap mempunyai hubungan erat dengan “dunia atas” (alam baka) dan sebagai “pemberi hidup”.
Bahkan emas dianggap mempunyai cahaya kuat dan magis. Setiap kesempatan owasa, apa pun tujuannya, sering kali berhubungan dengan pendirian berbagai monumen. Untuk itu selalu diperlukan emas, sehingga tradisi megalitik dan emas tidak dapat dipisahkan (Sejarah Nasional Indonesia Jilid I, 1984).
Barang-barang terbuat dari emas banyak dijumpai pada sejumlah situs arkeologi, terutama di Jawa Barat dan Bali. Di tempat lain emas dikenal lebih belakangan, yakni pada akhir masa perundagian atau pada masa logam akhir sekitar tahun 500 SM.
Di Kalimantan kemungkinan besar perhiasan emas pertama kali dikenakan oleh Suku Dayak Biaju, berasal dari sekitar tahun 2000 SM. Gelang dan cincin banyak ditemukan dalam situs-situs purba di daerah itu.
Kitab Kuno
Dari berbagai kitab agama dan karya sastra kuno, nama Indonesia sebagai “Negeri Emas” juga sering disinggung. Dalam kitab Perjanjian Lama disebutkan sekitar tahun 1500 SM, Raja Sulaiman pernah mengirimkan ekspedisi ke Ophir (Ofir). Dari situ ekspedisi membawa 420 talenta emas. Pada 945 Raja Sulaiman (berbeda dengan Raja Sulaiman di atas) mengirim lagi kapal-kapalnya ke Ofir untuk mencari emas.
Menurut geolog Prof. S. Sartono dalam sebuah tulisannya, Ofir dikenal sebagai daerah yang kaya akan emas dan juga dianggap suatu daerah emas milik Raja Sulaiman. Mungkin Ofir terletak di Sumatera karena di daerah Tapanuli Selatan terdapat pegunungan Ofir. Di sebelah Timur Ofir ditemukan lagi gunung lain, Gunung Amas (Gunung Emas).
Banyaknya emas di Indonesia, tak luput dari perhatian orang-orang Yunani. Kitab Periplous tes Erythras thalasses dari masa awal Masehi, menyebut suatu tempat bernama Chryse yang berarti emas. Negeri ini terletak di sekitar Samudera Hindia yang menurut para pakar tidak lain adalah Indonesia.
Berita lain berasal dari kitab Geographike Hyphegesis karya Ptolomeus. Sungguh menarik kajian dari kitab ini karena di dalamnya disebutkan nama-nama tempat, seperti Argyre Chora (Negeri Perak), Chryse Chora (Negeri Emas), dan Chryse Chersonesos (Semenanjung Emas). Kitab itu juga menyebutkan nama Iabadiou (Pulau Jelai). Dugaan kuat menyatakan istilah Iabadiou identik dengan Yawadwipa dalam bahasa Sansekerta. Yang belum jelas adalah Yawadwipa itu Pulau Jawa atau bukan.
Perdagangan
Sebagai negara kaya, waktu itu Indonesia banyak berhubungan dagang dengan India, China, dan banyak negara lain. Peranan Indonesia dinilai amat penting. Terbukti barang-barang Indonesia mendapat tempat di pasaran internasional.
Berita dari dinasti Tang di China (618-906) mengatakan daerah Ho-ling (mungkin kerajaan Kalingga) telah menjalin hubungan dagang dengan China mulai abad ke-5. Barang-barang dari Indonesia yang paling disukai masyarakat China adalah emas, perak, dan kulit penyu.
Adanya negeri penghasil emas juga pernah dikemukakan seorang musafir China, I-tsing. Emas terbanyak dihasilkan oleh kerajaan Sriwijaya, begitu katanya. Para pakar menafsirkan bahwa emas tersebut diperoleh dari Lang-p’o-lu-ssu (Barus). Selama beberapa abad Sriwijaya sering dijuluki Negeri Emas, Pulau Emas, dan Kota Emas.
Catatan China lainnya menyebutkan kerajaan Koying sebagai penghasil emas dan batu mulia. Koying, katanya, merupakan suatu pelabuhan yang terletak di tepi pantai teluk Wen, menjorok ke arah Bukit Barisan.
Dokumen Arab dan Portugis
Kekayaan emas Indonesia banyak terdengar ke mana-mana. Dokumen Arab mengatakan kalau kerajaan Zabag (Muara Sabak) dan Zarbosa menguasai pertambangan emas dan perak. Diberitakan pula, Pulau Nias kaya akan emas sehingga para pedagang Portugis berusaha mencari emas di pulau itu. Kalah dan Sribuza, selain kaya tambang emas, juga penghasil timah terbesar.
Gambaran lain diberikan oleh sumber Portugis, terutama catatan Tome Pires. Konon Barus, Padir, Tikim, Indragiri, Pariaman, dan Kampar merupakan pelabuhan ekspor emas ke Portugis. Ditambahkan oleh sumber itu, Pulau Sumatera sangat kaya akan emas sehingga orang China menjulukinya Kintcheou (Pulau Emas).
Dari berbagai sumber kuno tergambar jelas bahwa tambang emas ada di mana-mana. Ekspor emas ke mancanegara begitu banyak, sehingga negeri kita mendapat julukan Negeri Emas, Pulau Emas, atau Kota Emas. Sayang, julukan demikian makin hari makin meredup. Ini disebabkan emasnya juga makin hilang, sehingga tak ada lagi kemakmuran yang bisa dinikmati masyarakatnya. Malah sekarang tambang-tambang emas Indonesia dikuasai pihak asing, sehingga julukan yang pantas untuk negeri kita sekarang adalah “Negeri Emas yang Memudar”.
Sumber : http://hurahura.wordpress.com/2010/03/02/negeri-penghasil-emas/
Minggu, 12 Februari 2012
BERDIALOG DENGAN BAHASA BUNYI
Musik merupakan bahasa bunyi atau bahasa suara untuk mengekspresikan perasaan. Oleh karenanya jika seorang musikus bermain musik maka hal itu sebagai pertanda bahwa dirinya sedang berdialog dengan orang lain menggunakan bahasa bunyi. Bunyi harus diolah agar maknanya bisa dipahami orang lain.
Isfanhari, dosen Universitas Surabaya jurusan musik mengemukakan, kita sering mendengar istilah ‘penyanyi kamar mandi’ sebagai sindiran bagi orang-orang yang bersuara jelek dan hanya layak bernyanyi di dalam kamar mandi. Mengapa demikian? jawabannya bisa bermacam-macam, namun yang pasti ketika seseorang bernyanyi di kamar mandi suaranya terdengar lebih merdu. Itu karena kamar mandi dikelilingi tembok yang memantulkan resonansi sehingga suara menjadi lebih tebal dan merdu.
Masalahnya, bagaimana kita bisa membawa kamar mandi kemana-mana agar dimanapun bernyanyi suaranya tebal dan merdu. Para ahli musik vokal mengatakan bahwa di dalam tubuh kita terdapat rongga-rongga yang bisa dipakai untuk meresonansi suara. Rongga itu adalah rongga mulut, rongga dada dan rongga kepala. Apabila seseorang mampu memanfaatkan sarana tersebut dipastikan bisa bernyanyi merdu seolah-olah di kamar mandi, dan Tuhan telah menyiapkan semua yang dibutuhkan agar bisa bernyanyi merdu.
Bentuk pelatihan vokal yang harus dilakukan agar memperoleh hasil yang baik kiranya perlu memahami tentang resonansi, attack, flexibility maupun sustained tones. Resonansi adalah peristiwa bergetarnya ruangan akibat adanya sumber getar yakni suara. Getaran ini merambat ke tempat-tempat di tubuh kita yang memiliki ruangan seperti rongga ada, rongga kepala dan rongga mulut.
Attack merupakan istilah lain dari insetting , yakni mengawali lagi dengan tepat tanpa terlambat. Sedang flexibility atau kelenturan adalah melatih agar suara menjadi lentur dan yang terakhir adalah nada yang ditahan (sustanined tones) merupakan latihan untuk menjaga stabilitas suara dalam waktu panjang dan suara yang berbeda intensitasnya.
Bernyanyi dengan baik juga sangat bergantung pada penguasaan pernafasan yang benar. Seperti halnya mobil, sebagus apapun kalau bahan bakarnya tidak mencukupi atau boros pasti akan mengganggu perjalanannya. Begitu pula dengan menyanyi, semerdu apapun, setinggi apapun teknik vokalnya apabila tidak dibarengi dengan penguasaan napas yang bagus akan mengganggu keindahan nyanyian.
Dalam menyanyi pernafasan yang dianjurkan adalah diafragma, yakni segumpal otot atau jaringan otot yang kuat yang memisahkan antara dada dan perut. Dengan melatih diafragma lewat olahraga tertentu akan menguatkan jaringan syarafnya. Pola kerjanya apabila seseorang menarik napas dengan menggunakan diafragma maka diafragma akan menjenjak ke kiri dan ke kanan lalu ke muka dan ke belakang. Posisinya menjadi datar atau flat jika posisi perut mengembung. Ketika mengeluarkan napas maka difragma menjadi cembung seperti mangkuk terbalik. Oleh karenanya lewat latihan intensif dengan bimbingan seorang guru maka bisa dipastikan akan memperoleh hasil maksimal.
Pengertian Musik
Musik termasuk seni manusia yang paling tua. Bahkan bisa dikatakan, tidak ada sejarah peradaban manusia dilalui tanpa musik. Musik adalah salah satu media ungkapan kesenian dan musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari sudut struktural maupun jenisnya dalam kebudayaan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 1990 disebutkan bahwa musik merupakan ilmu atau seni menyusun nada atau suara. Kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa hingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan.
Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu: irama, melodi, dan harmoni. Irama adalah pengaturan suara dalam suatu waktu, panjang, pendek dan temponya, dan ini memberikan karakter tersendiri pada setiap musik. Kombinasi beberapa tinggi nada dan irama akan menghasilkan melodi tertentu. Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan bunyi yang harmoni. ● Rasi
Filed under: Majalah BENDE Juni 2011
Sabtu, 11 Februari 2012
VALENTINE ???
Ada yang lucu pada perayaan Hari Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Biasanya, sebuah perayaan di jadikan momentum untuk mengingat dan mengenang sebuah peristiwa yang penting. Seperti perayaan 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Setiap orang pasti sepakat bahwa 17 Agustus adalah saat Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semua orang mengerti sejarahnya mengapa upacara peringatan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus. Namun perayaan hari valentine pada tanggal 14 Februari ini sangat tidak jelas sejarahnya. Bukan hanya sejarahnya yang tidak jelas, bahkan apa yang di peringati dan apa yang di kenang pun tidak jelas. Yang ada hanyalah cerita dari mulut ke mulut yang sudah sangat terkenal, namun tidak valid dan tidak akurat.
Setidaknya ada dua versi cerita tentang sejarah valentine day yang sangat terkenal. Yang pertama berkisah tentang seorang santo (orang yang di sucikan dalam agama katolik) yang hidup pada masa Kaisar Romawi Claudius II. Santo itu bernama Valentinus. Konon katanya, Santo Valentinus adalah satu-satunya orang pada zaman itu yang berani mengatakan di depan Kaisar bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan. Sikap tersebut kemudian menjadikan Kaisar marah dan menjebloskannya di dalam penjara. Orang-orang yang simpati dengan ketegarannya itu diam-diam mengiriminya surat di dalam bui tempat ia di penjara.
Versi kedua masih berkisah tentang Santo Valentinus versus Kaisar Claudius II. Tapi ceritanya berbeda. Dalam versi ini di kisahkan bahwa Kaisar Claudius II mengeluarkan sebuah maklumat yang berisi larangan bagi para pemuda yang tergabung dalam tentaranya untuk menikah. Karena menurutnya tentara yang belum menikah lebih kuat dan lebih tegar saat berperang. Titah Kaisar ini kemudian di tentang oleh Santo Valentinus. Diam-diam dia menikahkan pemuda dan pemudi sekaligus menjadi konsultan pernikahan bagi mereka. Namun aktifitas Santo itu akhirnya di ketahui oleh Kaisar, kemudian ia di jebloskan ke dalam penjara. Saat di penjara ia jatuh cinta dengan putri penjaga penjara. Keduanya diam-diam menjalin asmara. Sang gadis tersebut sering mengunjungi Santo Valentinus hingga saat ia di jatuhi eksekusi mati oleh Kaisar. Konon eksekusi mati tersebut terjadi pada tanggal 14 Februari.
Cerita diatas adalah dua versi yang paling terkenal tentang sejarah perayaan hari valentine. Keduanya sama-sama tidak memiliki landasan historis yang kuat. Bahkan gereja katolik pada tahun 1969 pun melarang umatnya untuk merayakan hari valentine, karena di anggap tidak memiliki dasar pijakan yang kuat. Namun, diakui ataupun tidak perayaan valentine day adalah sebuah penetrasi budaya Barat di Indonesia. Para muda-mudi di Indonesia banyak yang ikut-ikutan merayakannya, tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Toko-toko yang menjual coklat langsung di serbu oleh para remaja. Intinya, perayaan valentine day di Indonesia bisa di bilang sebagai sebuah budaya. Lebih tepatnya budaya jahiliyah. Karena dalam rangkaian perayaan itu sering terjadi juga pesta miras dan pesta sex.
Terlepas dari tau atau tidak tentang sejarahnya, namun pada umumnya para muda mudi yang merayakannya ketika ditanya tentang apa yang di peringati pada tanggal 14 Februari, mereka akan menjawab “untuk mengenang Santo Valentinus”!. Jadi mereka memperingati kematian seorang santo pada tanggal 14 tersebut. Sebenarnya sebagai umat Islam, kita memiliki cerita sendiri pada tanggal 14 Februari ini. Cerita tentang sebuah malapetaka yang sangat mengerikan.
Tanggal 14 Februari adalah saat jatuhnya Kerajaan Granada yang merupakan benteng pertahanan Islam terakhir di Spanyol. Granada adalah sebuah kota kecil yang menjadi ibukota Bani Nasrid saat memerintah di Spanyol. Kerajaan Granada yang kecil itu di himpit oleh dua kerajaan Kristen yang sangat besar, yaitu Kerajaan Arragon dan Castille. Walaupun kecil secara geografis ataupun jumlah tentara, namun Granada tetap bisa berdiri gagah sebagai tonggak peradaban Islam di Spanyol. Ratusan tahun lamanya. Dua kerajaan Kristen yang besar itu tak berdaya jika berhadapan dengan Granada. Dari sisi peradaban, Granada jauh lebih unggul di banding peradaban Aragon dan Castille. Kota Granada di penuhi dengan bangunan-bangunan dan istana dengan keindahan arsitektur yang tak tertandingi pada masa itu. salah satunya adalah istana Al-Hambra yang situsnya masih dapat di saksikan hingga saat ini. Isnana Al-Hambra adalah sebuah istana yang sangat indah, keindahannya selalu di gambarkan dalam syair-syair Spanyol saat itu. bahkan ia di juluki “sepotong surga di Eropa”.
Namun setelah sekian lama berdiri, para penguasa kerajaan Granada sudah mulai terbuai dengan indahnya dunia. Sehingga semakin hari Granada semakin lemah. Kondisi ini di perparah dengan bersatunya Kerajaan Arragon dan Kerajaan Castille dengan pernikahan Pangeran Ferdinand dan Ratu Issabela. Dengan bersatunya dua kerajaan kristen itu, mereka menjadi semakin kuat. Kelemahan internal di Granada itupun tidak disia-siakan. Granada di serang secara frontal dan dalam sekejap bisa di robohkan. Pertahanan Islam terakhir itupun runtuh. Dampak dari jatuhnya Granada ke tangan Kristen ini sungguh luar biasa. Setelah itu umat Islam yang tinggal di Spanyol mendapatkan perlakuan yang sangat kejam dari penguasa Kristen. Umat Islam di bantai dan disiksa dengan cara yang sangat biadab. Darah mereka membanjiri tanah Spanyol yang pernah menjadi ikon peradaban Islam. Mereka di perlakukan lebih hina dari binatang. Dalam sekejap Granada berubah menjadi neraka bagi umat Islam. Peristiwa ini terjadi tepat pada tanggal 14 Februari.
jadi, kita memiliki sejarah tersendiri tentang tanggal 14 Februari. Sejarah yang sangat jelas dan gamblang. 14 februari adalah hari dimana umat Islam mendapat bingkisan kado berdarah oleh penguasa kristen di Spanyol. Kado berdarah itulah yang oleh orang-orang barat disebut sebagai “kasih sayang” atau “valentine”. Maka tanggal 14 Februari seharusnya kita jadikan momentum untuk bermuhasabah dan mengambil pelajaran dari kisah jatuhnya benteng Granada yang begitu tragis. Bukan malah berhura-hura sebagaimana sebagian remaja kita. Karena siapapun yang merayakan hari valentine, itu sama dengan merayakan di bantainya saudara-saudara muslim di Spanyol pada tanggal 14 Februari. Say No To Valentine Day! (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)
Kakula dan Budaya Gong di Asia Tenggara
Oleh: Amin Abdullah, Praktisi Seni dan Kebijakan Kebudayaan, tinggal di Sulawesi Tengah.
Ansamble musik ini eksis di daerah Kaili. Ia bagian tak terlepas dari kebudayaan gong di Asia Tenggara. Kalau orang Kaili itu menyebut ensmbel bernama kakula ini sebagai musik “asli” mereka, bolehlah itu disebut perspektif.
Berbicara mengenai kakula atau kakula nuada atau kakula tradisi, istilah untuk menamakan sebuah ansambel gong yang dimainkan oleh etnik Kaili di Sulawesi Tengah, sesungguhnya kita juga membicarakan penyebaran budaya gong di Kepulauan Asia Tenggara. Meskipun sebagian orang Kaili menyebut kakula sebagai kesenian “asli” mereka, dia ternyata tidak turun dari langit. Ia memiliki hubungan dengan instrumen sejenis di Kepulauan Asia Tenggara yang dalam istilah etnomusikologi, umumnya disebut kulintang.
Tulisan ini tidak hanya mencoba menggambarkan hubungan kakula dengan penyebaran budaya gong dan Islam di kepulauan Asia Tenggara. Namun, juga melihat perkembangan kakula setelah zaman kemerdekaan. Terutama oleh pemerintah dengan membuat kakula kreasi baru dengan penambahan fungsi kakula, pengaruh musik Barat, dinamika gender serta pengaruh gamelan Jawa dan Bali.
Bagian Budaya Gong
Kakula tradisi, pada masyarakat suku bangsa Kaili di Palu, Sulawesi Tengah, memiliki fungsi yang tak terpisahkan dengan daur hidup masyarakat pendukungnya, misalnya sebagai upacara akil balik, perkawinan, juga upacara kematian. Yang paling umum saat ini adalah dipakai sebagai penanda status golongan tertentu pada saat perkawinan. Artinya, ketika kakula terdengar, maka itu bertanda ada golongan bangsawan Kaili yang melangsungkan perkawinan.
Kakula adalah sebuah istilah synecdoche yang berarti mempunyai pengertian umum dan khusus. Secara umum, kakula adalah istilah untuk menamakan sebuah ansambel yang terdiri dari kakula itu sendiri (berbentuk seperti bonang) yang berfungsi sebagai pembawa melodi dengan iringan dua buah go atau tawa-tawa, gong berukuran sedang dan satu atau dua buah gimba atau gendang. Adapun dalam pengertian khusus, kakula berarti instrumen yang terdiri dari tujuh buah gong kecil yang berderet. Bilah-bilah kakula diletakkan dalam penampang satu baris, di mana bagian bawahnya diberi tali. Di samping itu istilah kakula juga untuk menyebut musik yang dihasilkan oleh instrumen tersebut.
Penyebaran budaya gong di kepulauan Asia Tenggara—dengan kakula sebagai salah satunya—membentang mulai dari Sumatra hingga Filipina Bagian Selatan (Malm, 1977). Di luar wilayah Indonesia, kakula itu sejenis dengan kulintang di Philipina bagian Selatan pada suku bangsa Maranao (Cadar, 1996) dan Maguindanao (Kalanduyan, 1996) di Pulau Mindanao, juga mirip kulintangan di Sabah Malaysia (Frame, 1982) dan gulintangan pada etnik Brunai Malay dan Kendayan di Brunai (Brunei Delegation, 1974).
Di dalam wilayah Indonesia sendiri, kakula itu mirip dengan talempong, calempong atau canang di Sumatra Barat, serupa juga dengan kelintang atau kromong di Bengkulu, atau kromongan, canang, kelitang di Sumatra Selatan (Kartomi, 1998) dan gong sembilan atau gong dua belas di Maluku (Cadar, 1996). Sangat dimungkinkan masih bisa ditemukan ansambel sejenis di daerah-daerah lain yang belum diketahui.
Di pulau Sulawesi, budaya gong sejenis kakula terdapat juga di Sulawesi Utara. Kaudern menggunakan istilah musik kolintang sebagai musik yang mengiringi mongolong, matarek dan tarian perang orang Minahasa (Kaudern, 1944). Budaya gong selanjutnya juga terdapat di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Di Sulawesi Tengah, selain di komunitas orang Kaili, juga terdapat di Buol dan Tolitoli.
Keberadaan sebuah instrumen dapat menjadikannya indikator kontak budaya antar manusia. Bila bentuk yang sama dari instrumen ditemukan di daerah yang terpisah, ada kemungkinan kuat bahwa instrumen itu dibawa dari sebuah tempat ke tempat yang lain, atau dari dua wilayah ke wilayah yang ketiga.
Gong olehnya diidentifikasi sebagai salah satu alat perdagangan yang digunakan oleh pedagang-pedagang Melayu yang nota bene Islam. Itulah sebabnya, oleh Joce Maceda (etnomusikolog Filipina) disebut sebagai (bagian dari) “Malay culture”. Anthony Reid, sejarahwan, menyebut “abad perdagangan” periode abad ke-15 hingga ke-17 sebagai masa di mana instrumen ini menyebar. Di mana pada saat itu hubungan dagang di antara kepulauan Asia Tenggara sangat aktif dibanding dengan abad-abad yang lain. Para pedagang itu diidentifikasikan sebagai orang Melayu dengan mengindahkan bahwa mereka dapat saja berasal dari Jawa, Mon, India, China dan Filipina (Reid, 1988).
Kakula Kreasi
Perkembangan Kakula di Sulawesi Tengah menjadi menarik terutama setelah zaman kemerdekaan. Pemerintah melalui Instansi Kebudayaan mengembangkan fungsi kakula tradisi bukan hanya dalam fungsinya pada upacara perkawinan, namun untuk mengiringi tari dan lagu daerah serta komposisi baru. Kakula ini disebut kakula kreasi baru.
Beberapa perubahan yang terjadi dapat ditengarai sebagai pengaruh Barat, dinamika gender, gamelan Jawa dan Bali. Pengaruh Barat dapat dilihat dari berubahnya tangga nada dari locational tunning (penyeteman berdasarkan kebiasaan pemain lokal di mana tidak ada jarak nada yang tetap) menjadi mengacu pada well-tempered Barat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mengiringi lagu daerah dengan memainkan pergerakan triad chord secara arpeggio. Di sini kita melihat pengaruh musik Barat yang sederhana erat mempengaruhi perkembangan kakula kreasi. Seperti kita ketahui, di Indonesia Bagian Timur pengaruh musik Barat yang sederhana cukup kuat mempengaruhi perkembangan musik tradisi.
Selain itu, dinamika gender juga terjadi pada perubahan kakula tradisi ke kakula kreasi baru. Sejatinya, kakula tradisi dimainkan oleh wanita atau gender ketiga (waria). Namun, setelah kakula kreasi dimainkan di proscenium stage, laki-laki kemudian kebanyakan mengambil alih fungsi tersebut.
Pengaruh gamelan Jawa dan Bali dapat terlihat pada posisi memainkan instrumen dan gaya musik. Pada kakula tradisi, pemian kakula sebagai pembawa melodi, duduk di atas kursi. Pada panggung proscenium pemain kakula kreasi biasanya duduk di lantai sebagai mana pemain gamelan Jawa bermain. Pengaruh gaya gamelan Bali juga terdapat pada kakula kreasi. Terutama gaya musik yang memainkan dinamika keras dan lembut.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kakula tradisi pada orang Kaili dan perkembangan selanjutnya yang disebut kakula kreasi, tidak dapat terlepas dari hubungannya dengan budaya gong yang lain di Kepulauan Asia Tenggara. Jadi, kalau orang Kaili menyebut bahwa kakula adalah musik “asli” mereka, maka bolehlah itu disebut perspektif lokal.
Awal dari sebuah kampanye sosial Masyarakat Bebas-Bising
Menurut penelitian kedokteran, gaya hidup masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta, sangat rawan bila dilihat dari tingkat kebisingannya. Contoh: di mal, banyak pusat permainan yang ditujukan bagi anak-anak dengan bising yang seharusnya tidak boleh didengar lebih dari 15 menit. Atau music player yang harusnya punya batas aman tertentu, namun di Indonesia dibiarkan dipakai konsumen remaja tanpa aturan pemerintah yang menjaga kesehatan telinga. Selain itu kebisingan di tempat kerja, terkait dengan pengoperasian mesin dengan bising tinggi harus menjadi perhatian pemilik perusahaan bersama karyawan. Demikian pula dengan bising yang ditimbulkan oleh suara moda transportasi seperti knalpot motor, kendaraan umum, dan lain sebagainya. Termasuk pula penggunaan alat pengeras suara secara tidak tepat di rumah-rumah ibadah.
Memang membicarakan bising, pada akhirnya harus dikaitkan dengan masalah peraturan dan penegakkan UU atau Perda. Namun hal yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan kesadaran warga utk lebih bijaksana dan kritis dalam menjaga kesehatan pendengaran dirinya, ataupun keluarga terdekat mereka.
Untuk itulah Masyarakat Bebas-Bising yang diketuai oleh Slamet Abdul Syukur, berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kampanye anti-bising. Komunitas ini didirikan pada tanggal 23 Januari 2010 baru lalu oleh berbagai kalangan masyarakat sipil yang peduli. Kampanye ini dimulai dari perancangan logo bersama-sama, dimana M. Sigit Budi S. dari komunitas Serrum membantu mendesain hingga logo itu mewujud. Logo komunitas yang ingin membentuk sebuah gerakan ini sederhana dan jelas: ikon pengeras suara dengan gelombang suara yang terlihat maksimum, diberikan tanda atau rambu larangan merah. Sesungguhnya tidak tertutup kemungkinan menciptakan garis-garis yang lebih ekspresif untuk ciptakan kesan darurat dan penting. Namun dengan logo yang ada pun sesungguhnya telah memenuhi fungsinya. Terlebih bila logo ini ditempatkan pada latar belakang berwarna putih, akan memberi kekuatan kontras yang tinggi.
Sigit pula yang kemudian merancang t-shirt putih Masyarakat Bebas-Bising – yang rencananya akan dijual sebagai salah-satu merchandize untuk pengumpulan dana. Selanjutnya komunitas itu membuka sebuah grup di jejaring sosial Facebook dengan nama\"Dukung Masyarakat Bebas-Bising\" Tahap Berikutnya kita semua sebaiknya bersiap-siap menerima edukasi berupa kampanye sosial tentang pentingnya menjaga telinga dari bising yang mengganggu kesehatan. Tidak tertutup kemungkinan bila ada insan periklanan yang berminat menjadi sukarelawan membantu perancangan kampanye sosial melawan kebisingan tersebut. Ayo kita dukung Masyarakat Bebas-Bising!
SIARAN PERS MASYARAKAT BEBAS-BISING
Kebisingan kota-kota besar di Indonesia sudah melewati ambang batas, sehingga tidak hanya menyebabkan gangguan pendengaran dan ketulian, tetapi juga membahayakan kesehatan fisik dan psikis masyarakat maupun lingkungan secara umum, terlihat dari fakta-fakta sebagai berikut:
Angka gangguan pendengaran telah mencapai 16,8 % dari jumlah penduduk Indonesia.
10,7 % anggota masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar jalan raya di Jakarta (pedagang kaki lima, polisi lalu lintas, tukang parkir, tukang koran, dan lain-lain) mengalami gangguan pendengaran akibat bising.
Pekerja pabrik baja usia 30-46 tahun, 61,8 % mengalami gangguan pendengaran akibat bising.
Kebisingan di jalan raya kota-kota besar Indonesia telah mencapai 80 dB (desibel), sementara ambang batas yang diperkenankan hanya 70 dB.
Kebisingan di banyak mal dan fasilitas rekreasi keluarga telah mencapai 90-97 dB, sementara ambang batas yang diperkenankan hanya 70 dB.
Perubahan perilaku menjadi mudah marah dan agresif, sehingga menjadi pemicu tindak kekerasan yang kerap terjadi di ruang-ruang publik ditengarai sebagai akibat dari kebisingan.
Hal tersebut diakibatkan oleh makin meningkatnya sumber-sumber polusi kebisingan di sekitar kita, antara lain:
Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di kota-kota besar (di Jakarta saat ini jumlah kendaraan bermotor hampir sama dengan jumlah penduduknya).
Penggunaan perangkat pengeras suara di ruang-ruang publik (mal, tempat rekreasi keluarga, tempat-tempat ibadah, bandara, terminal bis dan kereta api yang tidak mengindahkan ambang batas kebisingan serta penataan akustik dari bangunan yang tidak memenuhi syarat.
Gaya hidup masa kini (penggunaan alat-alat teknologi yang menghasilkan kebisingan) yang tidak bijaksana dan tidak memperhitungkan risiko gangguan pendengaran, seperti stereo system, knalpot modifikasi, balap motor liar, pemutar rekaman digital, telpon genggam, peralatan rumah tangga elektronik, dan lain-lain.
Aktivitas masyarakat yang meningkat dari waktu ke waktu di berbagai bidang, sehingga tingkat kebisingan lingkungan juga meningkat, misalnya pada malam hari sekalipun, saat ini sulit menemukan kawasan yang hening.
Kegiatan konstruksi di kawasan-kawasan tertentu (pemukiman, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain) yang tidak mengindahkan peraturan yang berlaku.
Kegiatan industri (kecil, menengah maupun besar) yang berada di sekitar kawasan pemukiman dan tidak mengindahkan peraturan yang berlaku.
Bencana besar sudah dapat dibayangkan di masa depan:
Rendahnya kualitas hidup masyarakat karena kebisingan yang makin menggila.
Masyarakat yang kacau batinnya sehingga menimbulkan sikap agresif dan kekerasan di mana-mana.
Manusia Indonesia yang sehat lahir, batin dan sejahtera seperti dicita-citakan tidak akan pernah tercapai.
Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya intensif oleh berbagai pihak untuk menanggulanginya segera dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Untuk itu Masyarakat Bebas-Bising didirikan, sebuah kelompok masyarakat yang terdiri dari individu, organisasi dari berbagai disiplin, yang seluruh kegiatannya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan prakarsa masyarakat serta kepedulian pihak pengambil keputusan untuk bersama-sama menanggulangi masalah tersebut.
Beberapa kegiatan yang segera akan dilakukan oleh Masyarakat Bebas-Bising antara lain:
1.Kampanye publik mengenai bahaya dari polusi kebisingan, baik bagi individu maupun masyarakat dan lingkungan secara umum.
2.Mendesak pemerintah untuk segera melengkapi kebijakan atau regulasi serta meningkatkan pengawasan pelaksanaan peraturan yang sudah ada, dalam rangka mewujudkan lingkungan bebas bising dan perlindungan masyarakat.
3.Menggerakkan keterlibatan masyarakat secara luas untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan bebas bising, kesehatan dan kenyamanan masyarakat.
Masyarakat Bebas-Bising percaya bila ada kemauan dan kerja akan ditemukan solusi, sebab ada cukup pengetahuan dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan.
Jakarta, 23 Januari 2010
Ahmad Syafii Maarif – Akademi Jakarta
Nh. Dini – Akademi Jakarta
Slamet Abdul Sjukur – Akademi Jakarta
Marco Kusumawijaya – Dewan Kesenian Jakarta
Luthfi Assyaukanie – Freedom Institute
Bulantrisna Djelantik – SE Asia Society for Sound Hearing
Damayanti Soetjipto – Komnas PGPKT
Abduh Aziz – Dewan Kesenian Jakarta
Ronny Suwento – THT Komunitas FKUI-RSCM
Soegijanto – Teknik Fisika ITB
Soe Tjen Marching – Majalah Bhinneka
Upik Rukmini – praktisi
Bayu Wardhana – Penggiat Peta Hijau Jakarta
Sigit – SERRUM
Arief Adityawan/Genep Sukendro – Grafisosial
Atieq SS Listyowati – AppreRoom
Rizal Abdulhadi – Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat
Dyah Okty Moerpratiwi/Agnes Elita Anne/David Imanuel Sihombing – Garuda Youth Community
http://grafisosial.wordpress.com/
Alamat kontak: Ati-Nefa. Dewan Kesenian Jakarta. Komplek Taman Ismail Marzuki Jakarta. Jl. Cikini Raya No. 73. Telp: 021 – 3162780. Fax: 021 – 31924616. Email: bebas-bising@yahoo.com
Minggu, 05 Februari 2012
TEATER COPO,KOMUNITAS TEATER YANG IKHLAS DAN TERBUKA
Perjalanan dan silaturahmi menuju kualitas seni.
Copo, dalam bahasa lokal berarti lampu yang umumnya terbuat dari kaleng susu bekas dan berbahan bakar minyak tanah. Kata ini kemudian dipilih oleh Eteng Irsyad,S.Sn (pendiri teater copo) untuk digunakan sebagai nama kelompok teater yang dibentuknya pada tahun 2008 di Kota Palu sejak kepulangannya dari Bandung dalam rangka “belajar teater” di STSI dan sebelum hijrahnya beliau ke kampung halamannya di Kabupaten Buol.
Bagi teman – teman teater copo sendiri, esensi dari tajuk komunitas mereka adalah penyimbolan terhadap makna pencarian ide dan gagasan yang dikemas menjadi sebuah bentuk tontonan, dimana mutlak didalamnya terdapat unsur-unsur estetika yang kental, teknik artistik, serta manusia-manusia yang sedang menjalani proses perpindahan karakteristik dan proses mengolah rasa seutuhnya.
Dalam satu pertemuan dengan Eteng Irsyad pada sebuah pertunjukkan teater yang kebetulan kami hadiri bersama, dia berkelakar ketika saya menanyakan perihal keputusannya untuk berdomisili di Kabupaten Buol dan kemudian membangun sebuah komunitas baru di sana dengan nama Ngaang yang berarti cahaya. Katanya “ kalau lampu copo dan apinya kini di Palu,biarlah cahayanya ada di buol”. Mungkin menurut eteng sendiri bahwa membangun keterikatan moral antar anak-anak didiknya adalah sesuatu yang penting,meskipun saat itu satu-satu nya jembatan silaturahim adalah dirinya sendiri yang notabene dekat bahkan berstatus pendiri di dua kelompok teater ini. Mulia memang, tapi sesungguhnya hal ini menyisakan pertanyaan yang cukup besar bagi saya,kecemasan barangkali lebih tepatnya. Saat itu kawan kawan copo sedang “puber-pubernya”, mereka keranjingan pentas serta menonton pertunjukkan, dalam situasi ini seharusnya (menurut saya)eteng lebih intens untuk membimbing anak-anaknya,. Sungguh diluar dugaan kalau dia lebih memilih untuk berdomisili di Kabupaten Buol yang berjarak ratusan kilo dari kota Palu dan malah membangun lagi sebuah komunitas teater yang baru disana.
Mengapa saya harus cemas menyoal perihal yang cenderung privasi bagi seorang Eteng Irsyad?!
Kepulangan empat orang “tadulako” dari studi teater mereka di Bandung saat itu menurut saya merupakan peluang besar bagi para generasi yang ingin berkecimpung lebih serius didunia seni pertunjukkan khususnya, dan mereka mereka ini diharapkan mampu membawa atmosfer yang jauh lebih segar bagi wajah tetaer kota palu secara umum. Adalah sebuah langkah awal yang baik ketika Azmi Anwar S.Sn membentuk komunitas To-unlimited yang mulai berproses di taman Budaya Sul-Teng,selain berteater To-unlimited mulai terlihat aktif dalam kerja-kerja stage managing di panggung-panggung pertunjukkan yang digelar pemerintah daerah Provinsi. Subrata Kalape S.sn segera memutuskan pulang ke Luwuk Banggai untuk membangun potensi kesenian-kesenian rakyat disana lewat teater,tari dan musik.Al-hasil, saat ini Kabupaten Luwuk Banggai mampu menjadi salah satu Kabupaten yang patut diperhitungkan pada event-event kesenian di level provinsi bahkan nasional.Ade Fitriani Idris,S.Sn,setelah cukup lama melakukan solo karir dengan membantu beberapa komunitas-komunitas kesenian seperti lentera,pedati,banuatapura, Lembaga To Kaili Bangkit,pitate dll dalam garapan-garapan mereka baik secara tekhnis artistik maupun managemen produksinya kemudian beliau akhirnya membentuk sebuah komunitas seni bernama Darsah yang melibatkan cukup banyak generasi muda. Sementara Eteng Irsyad,S.sn sendiri yang pada awalnya memilih untuk menjadi pengajar lepas bidang studi seni budaya pada salah satu Sekolah Kejuruan menengah atas di Kota Palu mulai mengumpulkan “bibit-bibit unggul” di setiap angkatan untuk membentuk embrio teater Copo. Nah, ketika “bola salju” teater mulai digulirkan, eteng irsyad justru menghilang di awal-awal etape. Hal ini jelas memiliki konsekuensi cukup besar bagi strategi juang anak-anaknya. Kita harus mengakui bahwa pengaruh individu seorang seniman terhadap kelompok yang dibentuknya terbilang kuat bahkan terkadang tekhnik-tekhnik mereka mampu menjadi ciri khas kelompok itu sendiri. Kecendrungan ini memang hampir terjadi di setiap kelompok-kelompok kesenian baik yang telah memiliki nama besar maupun yang tengah merintisnya, misalnya saja nama Rahman Saboer yang identik dengan teater Payung Hitam atau alm.Ags arya Dwipana yang mampu memberikan pengaruh secara utuh bagi teater tetas, seorang putu wijaya yang ternyata 90 % lebih karya-karya teater mandiri adalah penyutradaannya sendiri, termasuk teater koma yang tetap menggantungkan kepercayaan penyutradaraan pertunjukkan – pertunjukkan besarnya melulu pada Nano Riantiarno. Di tanah tetangga kita Makassar, berlaku juga hal serupa, Asdar Muis RMS yang walaupun bukan satu-satunya pendiri Komunitas Sapi Berbunyi ternyata mampu menjadi icon salah satu komunitas yang terbilang populer di makassar ini,atau bagaimana karya-karya teater kita makassar yang banyak menggambarkan capaian-capaian berkeseniannya Asia Ramli Prapanca.Kelekatan ini sesungguhnya baik bagi komunitas namun menyimpan resiko yang cukup besar pula, lihatlah bagaiman teater Ketjil nya Alm.Arifin C.Noer harus rubuh perlahan-lahan sepeninggalan beliau, dan bagaimana pula StudiKlub Teater Bandung kehilangan gaung setelah pendirinya almarhum Suyatna Anirun meninggal dunia. Hal-hal tersebut tidak berbeda dengan yang kita alami di kota Palu ini, individu-individu seniman kita mampu memberikan pengaruh yang kuat bagi komunitas-komunitas mereka saat masih berada dalam satu lingkaran dengan komunitasnya, namun resiko yang diungkapkan di atas juga harus menjadi konsekuensi yang dialami komunitas dalam rangka penyesuaian terhadap pergesaran maupun pencapaian sang seniman. Di kota Palu ini kita pernah mengenal beberapa komunitas yang begitu tajam dan total dalam menggarap serta menyajikan karya-karya nya, seperti Zat Sibalaya,Kanamajadi,Plak-Plik,Warung Gerak Teater Caplak. Namun setelah seniman-seniman berpengaruh yang ada dilamnya memilih hijrah karena berbagai macam penyebab,maka hal ini berdampak keras pada intensitas serta prodiktivitas kerja-kerja kesenian yang dilakukan komunitasnya. Setelah Hanafi Saro meninggalkan desa Sibalaya,maka Zat sibalaya ikut redup, sama halnya yang terjadi dengan Bengkel Teater Kanamajadi yang dirintis Erwin Siradjuddin,S.Sn harus tenggelam ketika “Punggava” nya ini meninggalkan kota Palu untuk menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia di Jogjakarta,atau bagaimana ketika Almarhum Muchlis meninggal dunia maka Warung Gerak Teater Caplak yang didirikannya bersama Ahmadi,Muchsin dan Oyong harus berangsur-angsur hilang. Bahkan Plak-plik yang dulu selalu “megah” di atas pentas pun jadi patah juga akhirnya ketika anggota-anggotanya mulai berseberangan dengan sang sutradara Agus Tan T.syam.
Inilah mengapa saya harus merasa gelisah terhadap keputusan Eteng Irsyad untuk berpisah dengan copo secara jarak. Saya mencemaskan semangat anak-anak didik beliau sebetulnya. Jika boleh saya katakan “ untuk apalah sebuah lampu dengan api yang besar jika di sekitarnya tetap gulita karena cahaya yang diharpakan dari lampu itu justru menerangi tempat yang lain”
Namun syukurlah, sepertinya dampak yang saya cemaskan dari keputusan Eteng Irsyad barangkali belum dan semoga tidak akan terjadi. Adalah orang-orang seperti Ipin Kevin,Yadhi dan Kenneth yang mampu menyelamatkan copo dari hal-hal yang menjadi kekhawatiran sebahagian besar kawan-kawan di kelompok teater ; Bubar Jalan!!
Ipin dan kawan-kawan yang ada di copo mencoba untuk terus konsekuen dengan pilihan-pilihan yang telah mereka tentukan ini.Dengan segala macam keterbatasan ilmu,ruang,personil,dan finansial namun Karya demi karya setiap tahunnya terus mereka gelar di atas panggung. Entah seperti apa bentuk apresiasi yang akan lahir dari para pengamat serta penikmat-penikmat teater, tidak begitu dijadikan beban,toh nantinya mereka akan mendapat pelajaran yang berharga dari sebuah proses pertunjukkan untuk kemudian dijadikan bekal lagi menuju garapan selanjutnya. Bagi saya, kesan yang dilahirkan kawan-kawan copo disetiap proses-proses keseniannya adalah ikhlas. Ya, mereka terlihat begitu ikhlas tergelincir semakin jauh kedalam labirin-labirin kesenian.
Selain itu, kelompok teater ini juga sangat terbuka terhadap saran dan kritik dari senior maupun teman-teman yang berasal dari komunitas lain. Ketika mendapatkan masukkan terhadap proses-proses pertunjukan yang sedang atau yang akan dijalani, mereka menanggalkan pikiran-pikiran negatif terhadap bentuk-bentuk input yang datang tersebut,mereka terlihat selalu bersusaha menjadi sebuah “ember kosong” yang ingin menampung air sebanyak mungkin guna bekal menghapus dahaga di atas panggung nantinya. Tidak sedikit garapan-garapan mereka yang mendapat perhatian secara konsep dan tekhnis dari pekerja-pekerja seni kota Palu yang potensial dan lebih dulu melahap asam garam pada panggung-panggung pertunjukkan, misalnya saja Muhmmad Noerdiansyah,S.Sn dari teater lentera yang intens memberikan apresiasinya pada waktu-waktu latihan menjelang pertunjukan,juga emhan saja dan nashir umar dari komunitas seni tadulako kerap kali terlihat berdiskusi dengan serius terhadap persiapan-persiapan karya-karya yang akan di sajikan teater copo.Fitriani Idris S.Sn dari sanggar seni darsah serta Ashar Yotomaruangi dari Lembaga To Kaili bangkit pun selalu setia membantu kebutuhan-kebutuhan tekhnis pertunjukakan maupun dukungan moralnya terhadap teater copo. Hubungan silaturahmi yang dijaga baik ini ternyata membuahkan banyak hal positif dan kemudian digunakan oleh-oleh teman teater copo sebagai pendukung menuju karya-karya seni yang tetap memperhatikan keutuhan bentuk dan kualitas estetika dalam teater itu sendiri.
ILUSTRASI MUSIK INSPEKTUR JENDRAL
PROFIL
Izat gunawan, seorang kaili yang lahir pada tanggal 23 april 1985 yang semenjak menikah telah menetap di Desa Kota Pulu kec Dolo Kab Sigi.Menggandrungi kesenian sejak duduk di bangku kelas 2 SMP (1999) dan kemudian Mulai menjadikan musik sebagai pilihan kesenian yang hendak ditekuni semenjak penghujung tahun 2002. “awalnya saya senang nonton teater dan tari, kemudian saya biarkan pilihan-pilihan itu datang sampai saya menyimpulkan bahwa bunyi-bunyian lebih membuat saya nyaman”. Musik-musik ballada dan etnik memang telah menjadi background sedari awal izat gunawan bermusik, hal inipun diakuinya akibat pengaruh sang paman yang selalu mencurahkan perhatiannya pada kesenian-kesenian tradisi termasuk musik tradisi kaili.
TENTANG INSPEKTUR JENDRAL
Saya sangat berterima kasih atas tangung jawab yang dipercayakan oleh Ipin Kevin,sutradara Teater Copo untuk menata ilustrasi musik dalam komedi satir nya Nicolai V Gogol dengan judul INSPEKTUR JENDRAL yang digarapnya dengan konsep realis ini.
Pada fungsinya, di beberap bagian garapan saya tetap menggunakan kehadiran musik sebagai penguat suasana yang dikehendaki sutradara untuk hadir diatas panggung. Namun garis tragedi yang cenderung tersirat dalam metode penyutradaraan Ipin Kevin kali ini menjadi “keadaan lain” yang ingin saya capai dalam interpretasi kembali terhadap Inspektur Jendral. Hal tersebut kemudian menjadi esensi dari konsep musikal yang ingin ditawarkan.
Pada garapan kali ini izat gunawan kembali mempercayakan player pendukungnya pada teman-teman Lawan Catur Ensamble dengan komposisi sebagai berikut
1. Lead vocal , Unul
2. Back vocal , deita
3. Back vocal , riska
4. Zifa, perkusi
5. zul,perkusi dan instrumen tiup
6. memet Linosidiru, perkusi dn instrumen tiup
Kamis, 02 Februari 2012
KOMUNITAS SENI TADULAKO DI IMEX 2011
KOMUNITAS SENI TADULAKO : Ide dan Riset/Player : Hapri Ika Poigi, Dance & Koreografer, : Emhan Saja, Composer / Player, : Nashir Umar, Player : Mohammad Izat Gunawan Habibu, Player : Kalsum Dg Pawindu, Player, : Rafika, Player : MECHDAM aLI kHAIS, Player : Istiqfar Pakamundi , Publikasi : JUN
“No tutura”
“ Nyanian Keselamatan “
“ INDO KU BUMI UMA KU LANGI “
“ Ondo Lea
Budaya TuTur To Kaili Sub etnis To Po DA’a Memberikan Ungkapan “Indoku Bumi Uma ku Langi / Ibuku Bumi , Ayahku Langit “. Merupakan simbol penghargaan terhadap tanah kehidupan dan langit beserta benda-benda di sana, yang memberikan energi bagi kehidupan Manusia Dan Mahluk Lainnya.
Secara musikal karya ini memaksimalkan satu konsep garapan yang dibagi dalam 3 bagian penting, dimana instrument-instrument yang digunakan bersumber dari realitas khasanah tradisi yang masih berlangsung pada masyarakat adat yang ada pada etnik kaili, selain itu instrument vocal masih menjadi dominan dalam garapan ini yang diilhami oleh spirit nyayian rakyat.
Sebagai proses ritual pada komunitas masyarakt kaili, meyakini bersama tentang hubungan dengan sang pencipta, manusia dan alam sebagai harmoni dalam ritmik kehidupan di alam ini secara bersama-sama. Bagian awal dari garapan ini ingin menunjukan ungkapan rasa syukur melalui prosesi bunyi dan benda-benda.
Merupakan konsepsi hidup masyarakat adat kaili yang mempunyai 3 tiga tungku (Tonda Talusi) yang merupakan kesatuan harmoni antara manusia, alam, dan prilaku. Yang merupakan siklus kehidupan secara rotasi yang dapat menggerakan proses kreatifitas dalam membangun interaksi.
Ondo Lea Mengajak Merenungkan Dan Meredam Keserakahan Diri. berusaha menyerap spirit dalam menjaga keberlangsungan keseimbangan Kehidupan.
http://linopadeihina.blogspot.com/2012/01/komunitas-seni-tadulako.html
Lihat Cuplikan Video Komunitas Seni Tadulako :
http://www.youtube.com/user/Tadulakota/videos
Lihat Juga Berita Indonesian Music Expo (Imex) Di :
http://www.indonesianmusicexpo.com/artists/
“No tutura”
“ Nyanian Keselamatan “
“ INDO KU BUMI UMA KU LANGI “
“ Ondo Lea
Budaya TuTur To Kaili Sub etnis To Po DA’a Memberikan Ungkapan “Indoku Bumi Uma ku Langi / Ibuku Bumi , Ayahku Langit “. Merupakan simbol penghargaan terhadap tanah kehidupan dan langit beserta benda-benda di sana, yang memberikan energi bagi kehidupan Manusia Dan Mahluk Lainnya.
Secara musikal karya ini memaksimalkan satu konsep garapan yang dibagi dalam 3 bagian penting, dimana instrument-instrument yang digunakan bersumber dari realitas khasanah tradisi yang masih berlangsung pada masyarakat adat yang ada pada etnik kaili, selain itu instrument vocal masih menjadi dominan dalam garapan ini yang diilhami oleh spirit nyayian rakyat.
Sebagai proses ritual pada komunitas masyarakt kaili, meyakini bersama tentang hubungan dengan sang pencipta, manusia dan alam sebagai harmoni dalam ritmik kehidupan di alam ini secara bersama-sama. Bagian awal dari garapan ini ingin menunjukan ungkapan rasa syukur melalui prosesi bunyi dan benda-benda.
Merupakan konsepsi hidup masyarakat adat kaili yang mempunyai 3 tiga tungku (Tonda Talusi) yang merupakan kesatuan harmoni antara manusia, alam, dan prilaku. Yang merupakan siklus kehidupan secara rotasi yang dapat menggerakan proses kreatifitas dalam membangun interaksi.
Ondo Lea Mengajak Merenungkan Dan Meredam Keserakahan Diri. berusaha menyerap spirit dalam menjaga keberlangsungan keseimbangan Kehidupan.
http://linopadeihina.blogspot.com/2012/01/komunitas-seni-tadulako.html
Lihat Cuplikan Video Komunitas Seni Tadulako :
http://www.youtube.com/user/Tadulakota/videos
Lihat Juga Berita Indonesian Music Expo (Imex) Di :
http://www.indonesianmusicexpo.com/artists/
Langganan:
Komentar (Atom)









