ANTOLOGI SAJAK


MAHAR ( PUISI )

“Cahaya di pulau perca atau rimba di tubuh borneo tua”

Begitulah makna.

Ingat,

nanti akan banyak duri.

Lintah menghisap darah.

Ingat,

kita tak sekedar jalan-jalan lagi.

Mungkin kita akan hilang di ufuk dunia dan ;

lelah sebelum tiba di cakrawala.

palu, 08



BERBURU ( PUISI )
Lengang hutan
Belantara yang diam

Daun lebar-lebar
Jantung debar-debar

Gagak teriak !

Mereka mengacau sarang kenari
Kicaunya di halau kaki gerimis.

Elang laut yang buta mengitari beringin
Kepak nazar !
Lapar!

Palu 08



PERBURUAN
Setelah sang guru meretas jalan di tengah belantara ini,
Dengan susah payah aku menyingkirkan kabut pada wajah .
Ternyata kita masih berada dalam kubangan .
Meneguk lumpur. Menyelam ke dalamnya.
Berlomba-lomba mencari cacing pita untuk mengganjal perut.
Sementara mutiara mengapung begitu saja di atasnya.
Mungkin pikiran terlalu berkarat dan pelumas telah sekarat.
Gelap turun ke dalam rimba.
Berenanglah kita ketepian . Mengambil nafas . Menyandarkan tulang-tulang yang gemeretak karena lelah dan kedinginan.
Entah doa yang mana mampu menembus langit,tapi kita masih juga kesepian.
Bapak, ibu,istri dan anak-anak telah merestui perburuan ini,
Namun tak seekorpun rusa,anoa atau ayam hutan terluka oleh anak panah dan tombak-tombak yang telah diasah bertahun-tahun dari rumah.
Jaring-jaring perangkap ditumbuhi lumut.Sebentar lagi pasti rapuh di hantam embun atau hujan.
Ayolah kawan-kawan,nyalakan obor di tangan kalian.Jangan biarkan gelap terlalu lama melanda.
Aku jadi takut.
Takut pada kerinduan terhadap mantan pacarku di rumah.
Dia pasti telah menyiapkan semangkok sop jagung dan nasi panas padahal aku tak punya lauknya.
Lihat,
Ada seekor burung besar melintas di atas kita.
Kejarlah dia !
Oh tidak !
Aku sama seperti kalian ,
Kita terlalu takut tersesat lebih jauh kedalam hutan ini.
Kita lebih suka membayangkan pilihan-pilihan lain daripada memburunya.
Mungkin cukup memetik buah-buah dan bunga. Sekedar menyenangkan hati orang-orang yang kita cintai.
Atau,
Memancing!
Duduk dan menunggu sampai nasib mengantarkan seekor ikan besar menggigit umpanmu .
Karena itu tak memerlukan mata yang awas, telinga yang peka atau kaki yang kuat untuk mengejar hewan-hewan liar.
Kita tidak perlu repot mempelajari tanda-tanda bahwa sekumpulan beruang besar baru saja berdiri disini.
Oya, tak ada resiko dipatuk ular !
Itu yang penting.
Sebab kita semua berpikir nyawa adalah penting, lalu kita abaikan persoalan kepentingan ke mana kita membawa nyawa, bagaimana kita menggunakan nyawa.
Kawan-kawan,
Putuskanlah !
Mintalah pada yang mampu memberi
Sebelum burung tadi terbang semakin jauh dan meninggalkan kita dalam kelaparan yang tak terhingga.

MG,Jakarta,0610



VALENTINE BONEKA KAYU

Bonekaku yang lucu,
Teganya kamu mencekikku di hari Valentine.
Sementara jutaan kera yang volume otaknya rendah tengah bermesra-mesra menghayati cinta.

Boneka kayuku,
Sampai hati kamu menyumpal mulutku dengan rambutmu di hari kasih sayang ini.
Sementara jutaan badak purba beramai-ramai mengganti culanya dengan sebatang cokelat.

Boneka ku yang pemalu,
Berani-beraninya kamu menghardikku dengan peluru di hari merah muda ini.
Sementara jutaan bangsa hewan melata dari kadal, ular, bunglon, biawak sampai buaya rela antree berlama-lama demi sekotak hadiah.

Boneka kayu,
Tak ada hari di februari yang mampu mengukur cintamu.
Boneka ku,
kita di sini saja, menyaksikan mereka menjarah cinta di taman bunga.

Palu 0208



SEPUCUK SURAT BUAT PLN

Kepada Yth.
Kepala PLN Antah Berantah.
Di-
Tempat

Salam Hormat,
Saya mewakili ribuan orang yang tidak mampu beli genset atau barang-barang elektronik supermahal yang tetap bagus walaupun sering kali terkena pemadaman listrik tiba-tiba.
Kami ingin mengajukan saran kepada perusahaan bapak yang akhir-akhir ini penyakit lamanya kambuh lagi. Mungkin arus listriknya terserang penyakit jantung atau gangguan pencernaan sehingga banyak neon yang harus kami ganti setiap minggu.
Maka dari itu kami menganggap bahwa perusahaan bapak perlu segera diopname atau paling tidak, harus benar-benar ditangani oleh Dr spesialis agar tidak bertambah parah.
Sesungguhnya kami prihatin atas musibah yang menimpa bapak seperusahaan, namun dengan tidak mengurangi rasa munafik, kecewa kami jauh lebih dalam.
Cobalah sekali-kali bapak ke pasar untuk mengecek sembako supaya sadar bahwa harga ikan sedang gila. Bayangkan jika ikan-ikan mahal yang kami beli buat dua atau tiga hari hanya bisa dimakan dalam sehari karena sisanya telah busuk akibat lemari es mati kehabisan listrik.
Pak, itu hanya secuil dari beribu-ribu cuil peristiwa naas yang disebabkan oleh terus memburuknya kesehatan perusahaan bapak.
Atau begini saja,
Bagaimana kalau Perusahaan Listrik Negara ini dibubarkan dan diganti dengan Perusahaan Lilin Negara ?
Dengan begitu, bapak seperusahaan tidak perlu lagi repot-repot memikirkan pasokan listrik, bapak seperusahaan tinggal mengupayakan bagaimana seluruh penduduk mendapatkan lilin yang merata setiap harinya.
Mungkin itu akan lebih bijaksana !!!
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan dalam surat ini, namun berhubung mata saya terlalu perih untuk bertahan di bawah lilin maka saya sudahi dulu penyampainnya.
Oya, saya janji mulai saat ini saya dan ribuan orang lainnya akan membiasakan diri dengan cahaya lilin atau lampu dokar. Siapa tahu bapak seperusahaan menerima ide kami untuk mengganti Perusahaan Listrik dengan Pabrik Lilin.
Sekian yang dapat kami sampaikan, lebih dan kurangnya saya mohon maaf.
Semoga perusahaan bapak lekas sembuh. Amin.

Anta Berantah, 25 februari 2008.
T T D

Orang-Orang Miskin.




NEGERI TATANGA

Kapan sebuah negeri harus berhenti jadi negeri ?
Kapan-kapan, kenyataan ditendang pergi ke dalam dongeng.
Nyawa dan darah hampir sia-sia berlabuh di surga.
O, silsilah purba !
Adalah tujuh muara yang kita letakkan pada segelas bening kaca berlabel “legenda”.
Nyawa dan darah tak punya harga.
Bukti sirna. Saksi buta yang tua.
Dan di suatu ketika,
Sejarah sekedar kata-kata. Sekedar ballada.
Peristiwa yang memiliki seperempat harga dari realita.

Mendiang negeri Tatanga,
Almarhum Madika kini beresemayam di sisi kandang kuda.
Dengan kurang ajar ilalang-ilalang itu tumbuh di batu nisan putra-putrinya.
Tanah-tanah kuburan gembur oleh noda.
Tak ada keranda !
Kereta kuda !
Istana !
Kembang kamboja !
Sepi doa dan taburan bunga.
Anehnya,
Tak ada mata yang merasa dosa.
Tak ada kita yang minat bersalah.
Jadi,
Kapan sebuah negeri harus pensiun jadi negeri ?
Mungkin nanti,
Setelah hati di tendang pergi ke dalam mati.

Palu 0208





BALLADA OARANG LIMA

Bintang itu jatuh dari neraka. Menciptakan kawah besar dalam kepala.
Kita ditindihnya. Dijadikan pondasi dan kerangka.

“Mari Berfikir dengan cepat dan bergerak lebih lambat dari irama jantungmu sendiri”

Basahlah kita dalam mimpi. Saling mengencingi.
Onani !
Lagi dan lagi !
Kalah oleh semua tepuk tangan dan puja-puji.

Sepertinya langit sudah dipenuhi bintang dari neraka.
Mereka bersiap menghujani orang yang tak dapat apa-apa.
Segeralah cetak topeng-topeng dengan senyum lebar .
Anggaplah diri sekokoh karang sekalipun di punggung tak tumbuh tulang.
Biarlah kita disapu ombak kemudian terdampar di bibir pantai sebagai alang-alang

Onani !
Lagi dan lagi !
Sementara waktu mengulur tangannya meminta kita untuk kembali ke pangkuan para istri.

Jakarta 0610



SEMUT DAN KUPU-KUPU
Berkatalah semut kepada kupu-kupu :
“Bunga-bunga telah mati pu, beringin kecil itu juga layu.
Jangan hinggap ke mana-mana. Mendung telah meletakkan jemarinya di sungai
wera.”
Semut-semut berbaris di atas lumut-lumut.
Mereka merayap. Tiarap di antara akar kayu dan buku-buku bambu.
Kupu-kupu hinggap di jarimu. Menghisap madu.
Mengulum berlapis-lapis rindu.

Berkatalah semut kepada kupu-kupu :
“Ini untukmu pu, bahasaku yang mengerang karena malu.
Gerimis ini pun hanya mengucur disitu.
Gerimis yang penuh dengan suaramu”.

Bulan jatuh dan tersipu.
Cahayanya ragu-ragu.
Ku antarkan tubuhku mengetuk pintumu. Aku bertamu!!
“Bukalah sejenak, aku datang dari jauh” pinta semut pada kupu-kupu.

Ilalang telah malam. Dahan-dahan johar gelap. Merkuri menyala satu-satu.
Rumput telah malam. Daun-daun johar gelap. Merkuri padam satu-satu.

Berkatalah semut pada kupu-kupu :
“Ciuman-ciuman itu. Rentetan peluru”
Berbisiklah kupu-kupu :
“Hussst .... tidak boleh begitu”
Yang ada hanya Tuhan.
Aku-Kamu, lalu ;
Semut dan kupu-kupu.
Palu.0208



SUATU HARI DI DAPUR
Banyak angka menggeliat-geliat di atas kaca.
Gelas dan piring-piring bugil. Sendok yang menggigil.
Sisa nasi di dalam nampan menjulurkan lidah, ia biarkan tetes-tetes air putih menjamah tubuhnya. Mereka senggama dihadapan Yang Kuasa.
O Dewi Sri,
Demi padi-padi yang dilukai gergaji.
Demi kuntum-kuntum jerami yang lebur oleh lidah api.
Maafkan aku tak sanggup menjaga diri dari bait-bait puisi ini.
Sebab nasi
Air putih
dan
Sang Hyang Widi,
telah menjadi benci !
Mereka menikamku dengan duri-duri matahari.

Banyak angka terpanggang di atas kaca.
Mangkuk dan wajan-wajan bugil. Almari yang mengginggil.
Buah sisa terkapar di meja. Buah Khuldi menangis di sorga.
Daun-daun sayur menganga !
Lauk pauk yang mati ! dikafani serbet putih.
Berdoalah segenap penghuni dapur bumi.
Isi lemari es terisak-isak sedih.
Rintih dari dalam pemanas nasi makin menjadi-jadi.
O rasa lapar yang perih !! Ku jual lagi harga diri hari ini ?!

Sepi.....
Nyanyi-nyanyi dalam hati
Hening tak berbunyi

“ Pagi-pagi. Pelangi turun kemari.
Sembunyi-sembunyi membawa restu dan sepotong roti ”

Palu 0208




PERANG SEDERHANA

Ia sangat biasa-biasa.
Waktu berkunjung ke rumahnya, aku yakin dia tak pernah meremehkan hidup dan tak juga semena-mena terhadap nasib.
Ia begitu biasa-biasa.
Mimpi-mimpinya agung.
Seperti Maryam, ia ingin hamil begitu saja.
Tiba-tiba sembilan bulan tanpa kekasih.
“Setelah anak itu lahir baru boleh aku kau nikahi,
baru boleh kau mengaku suami”
Nanti,
Sepinggan roti yang ku angkat dari anak itu adalah kecewa.
Secangkir kopi yang ku dapat dari anak itu adalah murka.
jadi,
“Izinkan ada ijab kabul sebelum tangisnya membara,
sebelum matanya mengembara”
maka,
Roti dan kecewa adalah cahaya.
Kopi dan luka adalah mutiara.
Meski tak tamat lafadz cinta yang ku baca,
Aku tahu,
Di balik luar biasanya,
Ia begitu biasa-biasa.

Palu 02 08


REDAM
Kelewang, kamu berhasil menghujamku malam itu.
Inilah jantungku, tikamlah !
Bahkan lilin senyap cahanya,
Hujan reda suaranya.
Berhelai-helai air mata,
Tumpah.
Menggenang di singgasananya.
Kecewa tak ia buka.
Lalu,
Pahamlah aku tentang cahaya yang sedang terbentang.
Ia muram dan kurang terang. Maklumlah aku soal huruf-hurufmu yang telanjang, mereka pulang keharibaan.
0208


APOTEK I
Kepak-kepak langit.
Jaraknya karam dicarik kertas.
Ditulislah jingkrak-jingkrak hidupku pada sebuah resep obat.
Tablet bulat melingkar
Tablet elips melonjong
Kapsul yang kutub-kutubnya saling mencengkram.
Kapsul yang padat oleh bubuk-bubuk duka.
Dan;
Botol-botol sirup anti muntah.
Kapak-kapak langit.
Tajamnya hilang di atas cap basah.
Diukirlah puing-puing hidupku dalam laboratorium tes darah.
Palu, 0308


APOTEK II
Puisi ini meringankan gejala stress, atau air mata berkepanjangan .
Mengobati gangguan pencernaan terutama pada fungsi empedu yang terinfeksi nasib malang,
Serta menurunkan tekanan asam lambung akibat jarang makan.
Membaca puisi ini akan mencegah capek, letih, lesu yang datang karena sibuk berlebihan.
Baris ini akan mengingatkan pada anda bahwa urusan dunia yang keterlaluan adalah suatu bentuk ketidakadilan !
Puisi ini juga mampu mengobati kelainan paru-paru sebelah kiri jika anda membacanya tidak sambil merokok dam memutuskan berhenti mulai saat ini.
Aturan pakai;
Anak-anak: Satu sampai dua baris sehari, sebelum tidur
Dewasa: Satu sampai dua bait sehari, sesudah makan.
Efek samping ;
Pada seorang pemalas, puisi akan menimbulkan kantuk seharian.
Pada seorang yang krisis percaya diri, puisi ini akan menuntun anda untuk tidak bunuh diri.
Jauhkan puisi ini dari jangkauan orang –orang yang hidup seperti kadal.
Puisi ini berbahaya bagi otak bebal !
Baca aturan pakai jika sedih dan darah berlanjut segera hubungi tuhan.

Palu 0308


DARI HSH
Setelah sisa - sisa hujan tergelincir di atap cahaya,
“hari H” ku utuh menjadi lagu.
……….
………
……….
Ini tentang kamu yang mencintai gelap.
“matikan lampu” dan ;
“tutup pintu”

palu 08



PALESTINA

terkutuklah kamu wahai israel yang biadab!!
bara-bara di neraka adalah wajah dan tubuhmu…
semoga Tuhan mendengar doaku dan segera membangkitkan hitler untuk membantai kalian seperti nenek moyangmu di masa silam!!!!


HIJRAH
Paris tak berongga,
Tak ada celah bagi udara yang setia
Di stasiun kereta bawah tanah, kita dikalahkan karbon dioksida. Asmagh !
Metro mini, laju ke selatan.
Membawa buih—buih whisky bertransmigrasi.
Disana,
Mereka lepaskan denyut dari nadi
Mereka pisahkan lemak dari kalori.
Kuku api dihinggapi sepi.
Asap jemari terkunci di lemari.
Marseille, kami mampir !
Suguhkanlanh kopi dan gula dua butir
Selatan perancis jadi miring.
Marseille sinting !
Di meja kami surut air laut. Kerikil dua butir.
Metro mini terbenam ke selatan
Matahari jadi enam
Ribuan belalang hijrah ke dalam malam.
Menjadi payung di Pelisanne
Salon de Provonce !
Berteriaklah ‘’Bienvennue Indonessie’’

Fr,2005

SUATU HARI DI TEPI DANAU

kepada sekerat tanah yang begitu belia aku tulis di atasnya :
"kasihan kamu,masih muda tapi sering batuk" ,tatkala segenap nasib buruk memenuhi udara di lembah.
"kasihan kamu,masih muda tapi sering demam", sementara pegunungan berbondong bondong meletupkan murka.

percaya atau tidak,
cita-cita bejat telah penuh menggelantung di pundak serta lehernya.
Bahkan ketika haus hausnya tenggorokan, satu-satunya danau kepunyaannya ikut kerontang.Memberontak!
tak seperti kelihatannya, hamparan air biru itu telah gersang.Mujair-mujair yang berenang adalah tulang dan hutang!
bagaimana tidak,
selama ini lumpur di dasarnya pernah melahirkan iblis-iblis kembar yang mulai beranak pinak menggerogoti isi dan tepian danau.
mereka cerdas,rakus dan buta.
kepala mereka gundul dengan janggut panjang,kulit Hitam,ompong dan berminyak.
setiap hari dia membelah diri ribuan kali. Dia begitu optimis.slalu berpikir tak mungkin mati.
tapi tunggulah,
suat saat nanti akan kami gantung iblis ini.
di depan bapak tirinya yang kontet itu.
lalu pada sekerat tanah yang begitu belia aku tulis di atasnya :
“Pelancong Bedebah !!!”

Sigi, juni 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar