Tampilkan postingan dengan label penyutradaraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyutradaraan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Februari 2012
Konsep Pertunjukkan "PANOTO MULI"
SENI PERTUNJUKAN
KONTEMPORER
BERBASIS TRADISI
Pengantar
Indonesia adalah “potret” sebuah negeri yang memiliki potensi seni pertunjukan cukup besar. Kebhinekaan dan kemajemukan daerah, etnis dan bahasa di Nusantara justru semakin mengukuhkan betapa beragamnya seni budaya kita. Kesenian bukan hanya semata hiburan, melainkan naskah dan dakwa, sebagai media penyadaran, media pendidikan dan media renungan. Selain sebagai ungkapan ekspresi, seni pertunjukan juga menggunakan idiom-idiom kebudayaan Nasional sebagai alat artikulasi, seperti seni sastra modern, teater modern, tari kontemporer, seni lukis kontemporer. Persoalan sekarang faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan dan sosial ekonomis masyarakat diberbagai belahan bumi ialah proses modernisasi. Pada hakekatnya modernisasi termasuk bagian penting dari proses sosial. Moderniasi sering diartikan sebagai perubahan total dari masyarakat tradisional menuju suatu masyarakat yang maju. Dengan harapan bahwa perubahan ini akan dapat menghasilkan perbaikan nasib. Pengaruh modernisasi dalam bidang kesenian adalah tampilnya berbagai jenis seni yang bermuara pada pemanfaatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu sendiri.
Bentuk Acara
Seni Pertunjukan Kontemporer Berbasis Tradisi berfokus pada kearifan budaya lokal suku Kaili, mengangkat kisah mitologi dan Musik tradisi pesisir dan pedalaman
Sanggar Seni yang Tampil
Sanggar seni Lentera kolaborasi dengan beberapa Komunitas, sanggar, kelompok seni yang ada di Kota Palu, yakni Anantovea, KST, Teater Copo, Technokrat 12, Teater 45, Sas Caraka, 3 in 1.
Pertunjukan Teater
“Panoto Muli”
Naskah sutradara M.Noerdianza
“Panoto Muli” naskah sutradara M.Noerdianza berangkat dari mitologi Tomanuru, dan membenturkannya dengan konteks kekinian. Zaman modern ini hal apa saja bisa dilakukan. Tapi sangat disayangkan lebih banyak melahirkan pemikiran negatif ketimbang pemikiran positif. Menciptakan senjata digunakan untuk saling membunuh. Ini sama halnya dengan pemikiran manusia purba. Zaman saja yang berubah tapi pemikiran-pemikiran kita masih sangat primitif suka meniru dan ikut-ikutan masa bodoh apakah itu buruk adanya. Kesenian bukan semata media hiburan, melainkan sebagai naskah dan dakwah, sebagai media penyadaran, media penyampai pesan dan media pendidikan. Apalah artinya kesenian bila terlepas dari derita lingkungannya.
Semiotika dalam naskah “Panoto Muli”
Semiotika adalah hukum tanda dan penanda. Gaya, aliran, dan bentuk pemanggungan kontemporer. Tetapi konvensi masa lalu tidak dibuang melainkan sebagai dasar pijakan. Misalnya; penghadiran dua tokoh Tomalanggai dan Tomanuru. Kedua tokoh inilah yang dijadikan dasar pijak mencipta tanda-penanda bahwa Tomalanggai sebagai gambaran manusia itu sendiri. Penghadiran Cahaya melalui LCD Proyektor adalah simbol turunnya Tomanuru atau ilham, yang merubah pola pikir manusia tradisi (kebiasaan yang diajarkan secara turun-temurun ) menjadi modern, yang di visualkan melalui transisi tubuh purba ke tubuh modern. Menggambarkan peristiwa tubuh purba saat beraktivitas dan tubuh purba saat berburu. Sementara pengkajian melalui folklor tidak ditemukan data-data tertulis gaya bahasa maupun dialog di era prasejarah Tomalanggai. Dalam naskah “Panoto Muli’ Penulis tidak serta-merta membuat bahasa, melainkan melalui observasi, ada yang bilang bahasa Kaili dulu hanya 2 huruf, yakni “Ai” berkembang menjadi “Iya”, lalu kemudian menjadi “Ai iya”. (nara sumber Kais). Ada juga yang mengatakan bahasa Kaili itu seperti penggabungan 4 bahasa, yakni Arab, Cina, Jepang dan India. (nara sumber Djaludin) Dari ke 4 bahasa ini penulis mencoba menggabungkan garis besarnya saja dari ragam bahasa tersebut misalnya; dalam bahasa arab lebih menekankan kata ‘Qa’, dan ‘Kha’. Sementara dalam bahasa cina lebih kepada ‘Ci’, Jepang ‘Haii’ dan India ‘Ceiya’ dan ‘nehy’. Alasan penciptaan bahasa baru ini bukan semata mencari sensasi ataupun sebagainya ini dikarenakan tidak adanya data-data peninggalan sejarah tertulis mengenai gaya bahasa zaman era pra sejarah Tomalanggai. Jadi menurut penulis sah-sah saja mencipta dan membuat kembali bahasa baru kemudian disepakati bersama Aktor dan Sutradara. Bukankah bahasa tercipta melalui sebuah kesepakatan? Sementara penghadiran gerak tari antara Tomalanggai dan Tomanuru sebagai simbol dari sifat manusia yang hidup berawal pada peniruan dan penanda kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki. Serta proses penciptaan ide/gagasan antara manusia dengan pikirannya. Bunyi suara bayi menangis. sebagai simbol berhasilnya proses penciptaan, divisualkan melalui gedung-gedung, tombak, parang,Sumpit.
Lahirnya benda-benda dari hasil penciptaan melalui ide/gagasan atau ilham seperti sumpit, panah, senjata dan parang, malah digunakan untuk membunuh sesama. Dengan anggapan biar dibilang pemberani, biar disegani, biar dibilang hebat, merasa diri benar, tidak mau mengalah dan merasa diri lebih berkuasa. Zaman modern hanya nampak pada perkembangan teknologi, dengan hadirnya gedung-gedung, jembatan dan sebagainya tetapi pada pemikiran individu manusia masih sangat primitif. Contoh kasus yang terjadi dalam realitas sosial kita di Kota Palu, perkelahian sesama suku. Tanpa kita sadari apa bedanya kita dengan manusia primitif.
(M.Noerdianza)
SAKSIKAN PERTUNJUKKAN "PANOTO MULI"
SANGGAR SENI LENTERA
SABTU, 19 MARET 2012
PUKUL 19.30 WITA
TAMAN BUDAYA SUL-TENG
HTM Rp.15.000,-
Senin, 21 Desember 2009
PERANAN PENYUTRADARAAN DALAM PENYAJIAN TEATER
PERANAN PENYUTRADARAAN DALAM PENYAJIAN TEATER
17 Februari 2009 pada 4:11 am (Teater Proses)
Sutradara adalah orang yang mengoordinasikan segala unsur teater dengan kecakapan dan daya imajinasi sehingga mewujudkan pertunjukan yang sukses.
Tuga sutradara ialah sebagai berikut:
1. Sebagai pusat kesatuan kekuatan dari para aktor, dan
2. Sebagai koordinator bagi para pemain dan para teknisi.
Kedudukan sutradara berada ditengah-tengah, yaitu diantara pengarang, aktor, dan penonton.
Hal-hal yang pokok dari kerja sutradara dibagi menjadi tujuh macam sebagai berikut.
1. Menentukan dan menemukan motif (gagasan)menentukan motif dan gagasan yang merusak pada suatu karya cerita dan memberi ciri kejiwaan pada karyanya. Motif (gagasan) dapat bersifat sebagai berikut:
a. Ringan (tidak mendalam);
b. Memberikan suasana khusus;
c. Membuat cerita gembira menjadi suatu banyolan (lucu);
d. Mengurangi tragedi yang berlebihan.
2. Menentukan casting
Casting adalah proses penyaringan untuk menentukan pemeran (pemain) berdasarkan hasil anaisa naskah untuk diwujudkan dalam pertunjukan.
Macam-macam casting ialah sebagai nerikut:
a. Casting berdasarkan kecakapan;
b. Casting berdasarkan tipe (kecocokan fisik) pemain;
c. Casting berdasarkan pertentangan watak atau fisik pemain;
d. Casting berdasarkan kesamaan emosi dan temperamen yang dimiiki pemain
e. Casting berdasarkan terapi.
3. Tata dan Teknik Pentas
Sutradara harus mengerti tentang tata dan teknik pentas, yaitu segala hal yang menyangkut kebutuhan suatu pementasan. Sebagai contoh kostum, make up, dekor, dan lampu penyinaran (kalau tragedy berwarna gelap atau abu-abu, sedangkan komedi berwarna mencolok)
4. Menyusun Mise en Scene
Menyusun Mise en Scene adalah menyusun segaa perubahan yang terjadi dan terdapat pada daerah permainan karena adanya perpindahan pemeran (pemain) atau perlengkapan panggung.
Contohnya sebagai berikut:
a. Sikap pemain;
b. Pengelompokan (grouping);
c. Dekorasi yang digunakan dalam pentas;
d. Efek tata sinar.
5. Menguatkan dan melemahkan Scene
Menguatkan dan melemahkan scene (bagian-bagian tertentu) dari suatu cerita adalah teknik atau cara daam pengarapan cerita yang dituangkan pada bagian-bagian adegan yang ditampilkan. Sutradara bebas menentukan tekanan pada bagian-bagian cerita menurut pandangan sendiri-sendiri tanpa merubah naskahnya.
(WordPress.com)
17 Februari 2009 pada 4:11 am (Teater Proses)
Sutradara adalah orang yang mengoordinasikan segala unsur teater dengan kecakapan dan daya imajinasi sehingga mewujudkan pertunjukan yang sukses.
Tuga sutradara ialah sebagai berikut:
1. Sebagai pusat kesatuan kekuatan dari para aktor, dan
2. Sebagai koordinator bagi para pemain dan para teknisi.
Kedudukan sutradara berada ditengah-tengah, yaitu diantara pengarang, aktor, dan penonton.
Hal-hal yang pokok dari kerja sutradara dibagi menjadi tujuh macam sebagai berikut.
1. Menentukan dan menemukan motif (gagasan)menentukan motif dan gagasan yang merusak pada suatu karya cerita dan memberi ciri kejiwaan pada karyanya. Motif (gagasan) dapat bersifat sebagai berikut:
a. Ringan (tidak mendalam);
b. Memberikan suasana khusus;
c. Membuat cerita gembira menjadi suatu banyolan (lucu);
d. Mengurangi tragedi yang berlebihan.
2. Menentukan casting
Casting adalah proses penyaringan untuk menentukan pemeran (pemain) berdasarkan hasil anaisa naskah untuk diwujudkan dalam pertunjukan.
Macam-macam casting ialah sebagai nerikut:
a. Casting berdasarkan kecakapan;
b. Casting berdasarkan tipe (kecocokan fisik) pemain;
c. Casting berdasarkan pertentangan watak atau fisik pemain;
d. Casting berdasarkan kesamaan emosi dan temperamen yang dimiiki pemain
e. Casting berdasarkan terapi.
3. Tata dan Teknik Pentas
Sutradara harus mengerti tentang tata dan teknik pentas, yaitu segala hal yang menyangkut kebutuhan suatu pementasan. Sebagai contoh kostum, make up, dekor, dan lampu penyinaran (kalau tragedy berwarna gelap atau abu-abu, sedangkan komedi berwarna mencolok)
4. Menyusun Mise en Scene
Menyusun Mise en Scene adalah menyusun segaa perubahan yang terjadi dan terdapat pada daerah permainan karena adanya perpindahan pemeran (pemain) atau perlengkapan panggung.
Contohnya sebagai berikut:
a. Sikap pemain;
b. Pengelompokan (grouping);
c. Dekorasi yang digunakan dalam pentas;
d. Efek tata sinar.
5. Menguatkan dan melemahkan Scene
Menguatkan dan melemahkan scene (bagian-bagian tertentu) dari suatu cerita adalah teknik atau cara daam pengarapan cerita yang dituangkan pada bagian-bagian adegan yang ditampilkan. Sutradara bebas menentukan tekanan pada bagian-bagian cerita menurut pandangan sendiri-sendiri tanpa merubah naskahnya.
(WordPress.com)
POSISI DAN PROBLEM PENYUTRADARAAN TEATER PELAJAR
Oct 3, '08 6:12 AM
Posisi dan Problem Penyutradaraan
Teater Pelajar
Oleh Autar Abdillah
Teater Pelajar lebih berkonotasi pada teater sekolah menengah umum maupun kejuruan (SMP/MTs; SMU/MA; SMK). Di samping teater pelajar, juga dikenal istilah teater remaja yang lebih berkonotasi pada teater kalangan SMU/MA maupun SMK. Namun demikian, teater remaja bukan semata-mata kalangan sekolah. Mereka juga kalangan yang putus sekolah atau yang berada pada tingkat usia remaja, atau di bawah dua puluh tahunan.
Entah sejak kapan nama teater pelajar ini muncul, dan untuk apa pula penamaan semacam ini digunakan. Namun yang pasti, teater pelajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pertumbuhan teater itu sendiri. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas RI) –dalam hal ini Pusat Perbukuan, bekerjasama dengan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) bahkan sedang merancang buku pelajaran teater untuk SMP/MTs; SMU/MA; dan SMK, baik negeri maupun swasta.
Apabila kita menilik ke belakang, kalangan terpelajar Indonesia masa lalu, atau setidaknya era Boedi Oetomo, telah mulai melakukan berbagai upaya transformatif. Embrionya dimulai dengan munculnya “Komedi Stamboel” di akhir abad sembilan belas, rombongan kedua teater ini muncul di Surabaya pada 1891. Kegairahan terhadap teater, khususnya teater yang bernuansa melayu sedemikian besar. Namun demikian, teater-teater rakyat yang muncul lebih dahulu dengan media tutur dan berkembang ke dunia panggung teater, tidak pernah luntur. Bahkan, teater-teater rakyat tersebut mampu menciptakan persaingan yang sehat, hingga zaman keemasannya pada 1920-1930-an.
Dalam memasuki abad kedua puluh, juga diwarnai munculnya teater opera Cina pada 1909. Nasibnya tak lebih baik dengan Komedi Stamboel yang mulai melemah dengan lahirnya kegairahan baru dalam memahami idiom maupun metode teater yang datang dari Rusia dan Inggris, bahkan Jerman, Perancis, Amerika dan negara-negara Skandinavia pun turut menyumbangkan pandangan-pandangan baru teater selanjutnya. Dengan demikian, kalangan terpelajar Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan Belanda maupun Jepang memiliki banyak kesempatan memahami berbagai disiplin maupun pandangan teater.
***
Paling tidak, sejak 1913, kalangan terpelajar Indonesia menikmati karya Victor Ido yang diterjemahkan oleh Lauw Giok Lan menjadi Karina Adinda, seperti ditulis oleh Tjiong Koen Bie (1913) dan Jacob Sumardjo (1992). Kesadaran baru pada masa-masa itu, melahirkan banyak lakon-lakon perjuangan tanpa mengurangi upaya-upaya penerjemahan maupun saduran dan adaptasi yang terus menerus terhadap lakon-lakon yang datang dari dataran Eropa.
Setelah tiga puluh tahun Indonesia merdeka, meski terjadi sejumlah perubahan yang mendasar, namun saat inipun masih dapat kita saksikan, kalangan terpelajar kita menggunakan lakon-lakon yang seharusnya sudah mereka ‘reformasi’ untuk kepentingan diri mereka. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sebagian besar teater pelajar justru tidak memotivasi diri mereka sendiri, seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Mereka masuk dalam kubangan motif pertunjukan yang mengasingkan mereka pada dunia keseharian. Hanya beberapa kelompok teater pelajar yang mencoba melakukan berbagai penggalian untuk menemukan karakter teater dari kalangan terpelajar yang mereka sandang sebagai bagian dari identitas mereka.
Motif pertunjukan yang menjadi dasar pada teater pelajar sekarang ini berdampak cukup serius pada rendahnya apresiasi teater yang mereka hidupkan. Hal ini disebabkan oleh pengambilan bahan-bahan pertunjukan yang semata-mata pada teks lakon, apalagi teks lakon tersebut “diwajibkan” pada mereka untuk menggunakannya. Sementara itu, media untuk memasuki teks-teks lakon tersebut sangatlah terbatas. Keterbatasan tersebut bukan saja karena asumsi perkembangan teater yang masih belum memadai dalam menghadapi pertumbuhan aktivitas diluar teater, tetapi juga keterbatasan motivasi yang telah terlanjur menjadikan teater semata-mata sebagai sebuah pertunjukan.
Di samping itu, bagi kalangan sekolah, suatu aktivitas siswa dilihat dari kemampuan siswa untuk meraih prestasi yang mengharumkan nama sekolah. Dengan kata lain, kegiatan atau aktivitas berteater di sekolah tidak dilihat dari proses pencapaian teater tersebut dan dampaknya pada aktivitas belajar. Dan, lebih ironis lagi, masih terdapat sejumlah sekolah yang melakukan larangan tidak tertulis, bahwa berteater di sekolah tersebut diharamkan. Tidak ada sarana, apalagi izin untuk mengikuti kegiatan teater.
***
Masing-masing wilayah di Indonesia, memang memiliki tingkat yang berbeda dalam memasuki dunia teater. Bahkan, antar wilayah di Jawa Timur pun memiliki perbedaan signifikan satu sama lainnya. Hal ini ditentukan oleh tingkat pergaulan teater tersebut dengan berbagai pemahaman teater.
Teater pelajar di sejumlah kota-kota besar di Indonesia, barangkali cukup beruntung. Sejarah teater dan sejarah teater pelajar kita telah memberikan isyarat yang sangat tegas, bahwa teater berjalan beriringan dengan nafas kehidupan publiknya. Pada tingkat selanjutnya, teater menjadi jembatan dalam memahami pertumbuhan yang bergejolak disekitarnya. Dan, akhirnya teater tidak pernah berakhir di panggung pertunjukan. Teater berkelebat dalam darah, dalam nadi, di jantung, di hati dan ditengah-tengah denyut kehidupan semua orang, semua pihak.
Problem Penyutradaraan
Teater sekolah saat ini dapat berlangsung dalam tiga aspek apresiasi dan kreasi, yakni (1) teater di dalam kelas, (2) teater untuk kompetisi sekolah, seperti festival maupun lomba, dan (3) teater untuk terapi. Ketiga aspek ini dapat dilakukan hanya dalam satu aspek, dapat pula dilakukan secara bersamaan.
Konsepsi dasar teater di dalam kelas adalah memahami karakter antar manusia sebagai bagian dari proses sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Teater di dalam kelas dapat mengambil tema-tema yang terjadi di sekitar lingkungan siswa. Mereka apresiasi peristiwa-peristiwa yang terjadi, membuat kerangka cerita, dan menentukan peran-peran yang bisa mereka lakukan. Setelah ketiga langkah ini diselesaikan, maka para siswa bisa memperagakannya di depan kelas atau di tempat duduknya masing-masing, tanpa terbebani oleh masalah teknis artistik panggung. Guru cukup memfasilitasi dan melakukan pengawasan terhadap aktivitas siswa.
Jika kita bekerja untuk teater yang berorientasi pada kompetisi siswa –semacam festival, maka terdapat beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, pahamilah apa yang ditentukan oleh penyelenggara, termasuk instrumen penilaian yang akan digunakan. proses selanjutnya adalah berlatih. Penyutradaraan merupakan salah satu aspek penting yang dapat meminimalisir kekurangan pada aspek lain –artistik dan pemeranan. Aspek penyutradaraan tersebut adalah (a) menentukan nada dasar. Ibarat sebuah partitur lagu, maka nada dasar akan menentukan arah nada selanjutnya. Nada dasar suatu teks maupun naskah dapat dilakukan dengan memahami titik tolak dari suatu teks. Misalnya, cerita tentang seorang rentenir yang kejam. Pahamilah terlebih dahulu akar kekejaman (titik tolak untuk nada dasar) seorang rentenir yang akan dijadikan pijakan. Ikutilah terus pergerakan atau alur kekejaman. Buatlah gradasi dari setiap perubahan alur tokoh ini;
Aspek selanjutnya (b) adalah membangun dinamika ruang. Artinya, ruang pertunjukan benar-benar hidup sepanjang pertunjukan. Penonton diharapkan tidak berkedip sedikitpun, dan selalu memandangi panggung. Dinamika ruang ini tercipta melalui berbagai kemungkinan interaksi, baik antar individu, bunyi maupun dengan peralatan atau perabotan yang telah disiapkan.
Aspek lain adalah spontanitas yang menjadi ciri khusus dalam teater-teater Asia, termasuk Indonesia. Ciri ini membawa bentuk-bentuk teater di Indonesia lebih komunikatif, interaktif, dan dapat membangun muatan lokal dan kearifan lokal yang kondusif. Selain bercirikan spontanitas, teater Indonesia juga memiliki kemungkinan dalam pengembangan pengolahan tubuh yang berkorelasi dengan pembentukan kepribadian. Selain pengolahan tubuh, pikiran dan suara, mengolah tubuh juga berkaitan erat dengan pengolahan komponen kejiwaan yang sejalan dengan nilai-nilai etis, moral,sosial dan kultural. Pengolahan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya dii siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya, termasuk dalam mengikuti proses pembelajaran
Sisi lain adalah gaya pertunjukan. Jawa Timur banyak memiliki sutradara dengan berbagai gaya (style) yang bersifat teknis, misalnya style internal progressive, yaitu gaya penyutradaraan yang berangkat dari potensi diri para pemainnya. Para pemain didorong untuk mengkonstruksi tubuhnya –maupun ucapannya sendiri. Sedangkan style eksternal progressive lebih menekankan kemauan sutradara. Kemauan sutradara bisa masuk pada tingkat pembentukan teknis ruang, seperti komposisi, dinamika pengisian ruang yang memang hampir tidak mungkin dilakukan seorang pemain.
Demikianlah pengantar yang dapat saya sampaikan. Diskusi dan dialog menjadi lebih penting untuk membuka pemahaman yang lebih mendalam. Semoga bermanfaat…
( http://kelompokcager.wordpress.com )
Posisi dan Problem Penyutradaraan
Teater Pelajar
Oleh Autar Abdillah
Teater Pelajar lebih berkonotasi pada teater sekolah menengah umum maupun kejuruan (SMP/MTs; SMU/MA; SMK). Di samping teater pelajar, juga dikenal istilah teater remaja yang lebih berkonotasi pada teater kalangan SMU/MA maupun SMK. Namun demikian, teater remaja bukan semata-mata kalangan sekolah. Mereka juga kalangan yang putus sekolah atau yang berada pada tingkat usia remaja, atau di bawah dua puluh tahunan.
Entah sejak kapan nama teater pelajar ini muncul, dan untuk apa pula penamaan semacam ini digunakan. Namun yang pasti, teater pelajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pertumbuhan teater itu sendiri. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas RI) –dalam hal ini Pusat Perbukuan, bekerjasama dengan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) bahkan sedang merancang buku pelajaran teater untuk SMP/MTs; SMU/MA; dan SMK, baik negeri maupun swasta.
Apabila kita menilik ke belakang, kalangan terpelajar Indonesia masa lalu, atau setidaknya era Boedi Oetomo, telah mulai melakukan berbagai upaya transformatif. Embrionya dimulai dengan munculnya “Komedi Stamboel” di akhir abad sembilan belas, rombongan kedua teater ini muncul di Surabaya pada 1891. Kegairahan terhadap teater, khususnya teater yang bernuansa melayu sedemikian besar. Namun demikian, teater-teater rakyat yang muncul lebih dahulu dengan media tutur dan berkembang ke dunia panggung teater, tidak pernah luntur. Bahkan, teater-teater rakyat tersebut mampu menciptakan persaingan yang sehat, hingga zaman keemasannya pada 1920-1930-an.
Dalam memasuki abad kedua puluh, juga diwarnai munculnya teater opera Cina pada 1909. Nasibnya tak lebih baik dengan Komedi Stamboel yang mulai melemah dengan lahirnya kegairahan baru dalam memahami idiom maupun metode teater yang datang dari Rusia dan Inggris, bahkan Jerman, Perancis, Amerika dan negara-negara Skandinavia pun turut menyumbangkan pandangan-pandangan baru teater selanjutnya. Dengan demikian, kalangan terpelajar Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan Belanda maupun Jepang memiliki banyak kesempatan memahami berbagai disiplin maupun pandangan teater.
***
Paling tidak, sejak 1913, kalangan terpelajar Indonesia menikmati karya Victor Ido yang diterjemahkan oleh Lauw Giok Lan menjadi Karina Adinda, seperti ditulis oleh Tjiong Koen Bie (1913) dan Jacob Sumardjo (1992). Kesadaran baru pada masa-masa itu, melahirkan banyak lakon-lakon perjuangan tanpa mengurangi upaya-upaya penerjemahan maupun saduran dan adaptasi yang terus menerus terhadap lakon-lakon yang datang dari dataran Eropa.
Setelah tiga puluh tahun Indonesia merdeka, meski terjadi sejumlah perubahan yang mendasar, namun saat inipun masih dapat kita saksikan, kalangan terpelajar kita menggunakan lakon-lakon yang seharusnya sudah mereka ‘reformasi’ untuk kepentingan diri mereka. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sebagian besar teater pelajar justru tidak memotivasi diri mereka sendiri, seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Mereka masuk dalam kubangan motif pertunjukan yang mengasingkan mereka pada dunia keseharian. Hanya beberapa kelompok teater pelajar yang mencoba melakukan berbagai penggalian untuk menemukan karakter teater dari kalangan terpelajar yang mereka sandang sebagai bagian dari identitas mereka.
Motif pertunjukan yang menjadi dasar pada teater pelajar sekarang ini berdampak cukup serius pada rendahnya apresiasi teater yang mereka hidupkan. Hal ini disebabkan oleh pengambilan bahan-bahan pertunjukan yang semata-mata pada teks lakon, apalagi teks lakon tersebut “diwajibkan” pada mereka untuk menggunakannya. Sementara itu, media untuk memasuki teks-teks lakon tersebut sangatlah terbatas. Keterbatasan tersebut bukan saja karena asumsi perkembangan teater yang masih belum memadai dalam menghadapi pertumbuhan aktivitas diluar teater, tetapi juga keterbatasan motivasi yang telah terlanjur menjadikan teater semata-mata sebagai sebuah pertunjukan.
Di samping itu, bagi kalangan sekolah, suatu aktivitas siswa dilihat dari kemampuan siswa untuk meraih prestasi yang mengharumkan nama sekolah. Dengan kata lain, kegiatan atau aktivitas berteater di sekolah tidak dilihat dari proses pencapaian teater tersebut dan dampaknya pada aktivitas belajar. Dan, lebih ironis lagi, masih terdapat sejumlah sekolah yang melakukan larangan tidak tertulis, bahwa berteater di sekolah tersebut diharamkan. Tidak ada sarana, apalagi izin untuk mengikuti kegiatan teater.
***
Masing-masing wilayah di Indonesia, memang memiliki tingkat yang berbeda dalam memasuki dunia teater. Bahkan, antar wilayah di Jawa Timur pun memiliki perbedaan signifikan satu sama lainnya. Hal ini ditentukan oleh tingkat pergaulan teater tersebut dengan berbagai pemahaman teater.
Teater pelajar di sejumlah kota-kota besar di Indonesia, barangkali cukup beruntung. Sejarah teater dan sejarah teater pelajar kita telah memberikan isyarat yang sangat tegas, bahwa teater berjalan beriringan dengan nafas kehidupan publiknya. Pada tingkat selanjutnya, teater menjadi jembatan dalam memahami pertumbuhan yang bergejolak disekitarnya. Dan, akhirnya teater tidak pernah berakhir di panggung pertunjukan. Teater berkelebat dalam darah, dalam nadi, di jantung, di hati dan ditengah-tengah denyut kehidupan semua orang, semua pihak.
Problem Penyutradaraan
Teater sekolah saat ini dapat berlangsung dalam tiga aspek apresiasi dan kreasi, yakni (1) teater di dalam kelas, (2) teater untuk kompetisi sekolah, seperti festival maupun lomba, dan (3) teater untuk terapi. Ketiga aspek ini dapat dilakukan hanya dalam satu aspek, dapat pula dilakukan secara bersamaan.
Konsepsi dasar teater di dalam kelas adalah memahami karakter antar manusia sebagai bagian dari proses sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Teater di dalam kelas dapat mengambil tema-tema yang terjadi di sekitar lingkungan siswa. Mereka apresiasi peristiwa-peristiwa yang terjadi, membuat kerangka cerita, dan menentukan peran-peran yang bisa mereka lakukan. Setelah ketiga langkah ini diselesaikan, maka para siswa bisa memperagakannya di depan kelas atau di tempat duduknya masing-masing, tanpa terbebani oleh masalah teknis artistik panggung. Guru cukup memfasilitasi dan melakukan pengawasan terhadap aktivitas siswa.
Jika kita bekerja untuk teater yang berorientasi pada kompetisi siswa –semacam festival, maka terdapat beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, pahamilah apa yang ditentukan oleh penyelenggara, termasuk instrumen penilaian yang akan digunakan. proses selanjutnya adalah berlatih. Penyutradaraan merupakan salah satu aspek penting yang dapat meminimalisir kekurangan pada aspek lain –artistik dan pemeranan. Aspek penyutradaraan tersebut adalah (a) menentukan nada dasar. Ibarat sebuah partitur lagu, maka nada dasar akan menentukan arah nada selanjutnya. Nada dasar suatu teks maupun naskah dapat dilakukan dengan memahami titik tolak dari suatu teks. Misalnya, cerita tentang seorang rentenir yang kejam. Pahamilah terlebih dahulu akar kekejaman (titik tolak untuk nada dasar) seorang rentenir yang akan dijadikan pijakan. Ikutilah terus pergerakan atau alur kekejaman. Buatlah gradasi dari setiap perubahan alur tokoh ini;
Aspek selanjutnya (b) adalah membangun dinamika ruang. Artinya, ruang pertunjukan benar-benar hidup sepanjang pertunjukan. Penonton diharapkan tidak berkedip sedikitpun, dan selalu memandangi panggung. Dinamika ruang ini tercipta melalui berbagai kemungkinan interaksi, baik antar individu, bunyi maupun dengan peralatan atau perabotan yang telah disiapkan.
Aspek lain adalah spontanitas yang menjadi ciri khusus dalam teater-teater Asia, termasuk Indonesia. Ciri ini membawa bentuk-bentuk teater di Indonesia lebih komunikatif, interaktif, dan dapat membangun muatan lokal dan kearifan lokal yang kondusif. Selain bercirikan spontanitas, teater Indonesia juga memiliki kemungkinan dalam pengembangan pengolahan tubuh yang berkorelasi dengan pembentukan kepribadian. Selain pengolahan tubuh, pikiran dan suara, mengolah tubuh juga berkaitan erat dengan pengolahan komponen kejiwaan yang sejalan dengan nilai-nilai etis, moral,sosial dan kultural. Pengolahan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya dii siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya, termasuk dalam mengikuti proses pembelajaran
Sisi lain adalah gaya pertunjukan. Jawa Timur banyak memiliki sutradara dengan berbagai gaya (style) yang bersifat teknis, misalnya style internal progressive, yaitu gaya penyutradaraan yang berangkat dari potensi diri para pemainnya. Para pemain didorong untuk mengkonstruksi tubuhnya –maupun ucapannya sendiri. Sedangkan style eksternal progressive lebih menekankan kemauan sutradara. Kemauan sutradara bisa masuk pada tingkat pembentukan teknis ruang, seperti komposisi, dinamika pengisian ruang yang memang hampir tidak mungkin dilakukan seorang pemain.
Demikianlah pengantar yang dapat saya sampaikan. Diskusi dan dialog menjadi lebih penting untuk membuka pemahaman yang lebih mendalam. Semoga bermanfaat…
( http://kelompokcager.wordpress.com )
Langganan:
Postingan (Atom)