saya dan beberapa kawan lainnya telah sepakat bahwa ditanah kami ini hidup perlu ditafsir ganda. Tidak bisa hanya sekedar wadah,tidak cukup pula sebagai media pendewasaan serta perbaikan moral. Lebih dari itu bahwa kehidupan di sini adalah bentuk perjuangan!! Revolusi!! dia tak hanya identik dengan keringat,tapi darah.
"Saya tidak mendramatisirnya,sumpah"
Disini anjing dibiarkan berkeliaran dengan bebas, bahkan sebahagian besar anjing-anjing itu dibekali dengan SIM A (Surat Izin Menggigit Apa saja).
Awalnya saya berpikir dengan membopong bedil kemana mana kami akan aman dari sergapan anjing anjing ini.Tapi tidak !! sebab kulit mereka telah diganti dengan logam paduan dimana logam besi sebagai unsur dasar dengan karbon sebagai senyawa utama. Logam paduan ini biasa kita sebut ; baja.
"ini jujur,sumpah"
seorang dari kami coba mengontak kawannya di negara tetangga. Kabarnya kawan ini telah menjadi komendur bersenjata dengan pangkat tertinggi disana. Yah,barangkali saja dia bisa meminjamkan baracuda bekas untuk menghalau para anjing yang terus menggonggong pada separuh usia kami di tanah ini. atau minimal dia bisa menerbangakan 70 buah Mi 26 (semacam mega helikopter)milik mereka untuk mempercepat proses evakuasi jika nanti para anjing semakin menggila.
"ternyata kami sial,sumpah"
Kawan yang kami terlanjur menaruh harapan besar pada keputusan yang akan diambilnya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Presiden negara tetangga telah menetapkan sebuah kebijakan bahwa negara mereka tidak akan mengambil resiko dengan membantu negara-negara yang punya masalah dengan para anjing, Sebab konon para anjing jugalah yang menjadi penderma terbesar bagi perkembangan pabrik pabrik tulang di negara mereka. Mereka memilih anteng-anteng saja terhadap masalah kami dari pada subsidi tulang dihentikan. Menurut mata mata kami bahwa negara ini bakalan di support para anjing sebagai penghasil sekaligus pengrajin tulang terbesar di Dunia.
"Ya tuhan,.anjing ini telah ada dimana mana"
kami semakin terdesak, batang-batang bambu telah habis kami tebangi untuk meriam. Kami tidak punya pilihan. kami terpaksa mengorbankan lingkungan untuk keselamatan. Belum lagi peluru peluru senapan semakin tipis setiap harinya.Makanan juga begitu. Setiap anjing yang berhasil kami lumpuhkan dagingnya tak bisa dimakan.toh mereka tak punya daging. Hanya kabel warna-warni yang bergelantungan di isi perutnya.
"barangkali kami akan kalah"
"ya kami kalah, sumpah"
jika ada kalian yang punya muslihat lebih jitu untuk mengusir para anjing dari negeri ini segera kunjungi kami di http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8532034340719330493&postID=9046719927799576445
"kami amat membutuhkannya, Sumpah"
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 Oktober 2012
Kamis, 31 Mei 2012
SUATU HARI DI TEPI DANAU
kepada sekerat tanah yang begitu belia aku tulis di atasnya :
"kasihan kamu,masih muda tapi sering batuk" ,tatkala segenap nasib buruk memenuhi udara di lembah.
"kasihan kamu,masih muda tapi sering demam", sementara pegunungan berbondong bondong meletupkan murka.
percaya atau tidak,
cita-cita bejat telah penuh menggelantung di pundak serta lehernya.
Bahkan ketika haus hausnya tenggorokan, satu-satunya danau kepunyaannya ikut kerontang.Memberontak!
tak seperti kelihatannya, hamparan air biru itu telah gersang.Mujair-mujair yang berenang adalah tulang dan hutang!
bagaimana tidak,
selama ini lumpur di dasarnya pernah melahirkan iblis-iblis kembar yang mulai beranak pinak menggerogoti isi dan tepian danau.
mereka cerdas,rakus dan buta.
kepala mereka gundul dengan janggut panjang,kulit Hitam,ompong dan berminyak.
setiap hari dia membelah diri ribuan kali. Dia begitu optimis.slalu berpikir tak mungkin mati.
tapi tunggulah,
suat saat nanti akan kami gantung iblis ini.
di depan bapak tirinya yang kontet itu.
lalu pada sekerat tanah yang begitu belia aku tulis di atasnya :
“Pelancong Bedebah !!!”
Sigi, juni 12
Kamis, 12 April 2012
HURU - HA - RAEGO (konsep musikal)
HURU-HA-RAEGO
Komposer : Izat Gunawan
I
Pada Bagian awalnya garapan ini ingin menunjukan luapan,letupan,dentuman,gesekan,serta pikiran pikiran dangkal yang saling berhantam-hantaman melalui prosesi bunyi dan benda-benda.
Sampai kemudian semua kita tersadar bahwa Tanah dan tetumbuhan diatasnya sungguh telah mengajarkan dengan sangat sabar persoalan harmoni, kebersamaan serta kearifan.
II
Syair syair Raego dalam ritual Vunja / panen suku kaili banyak mengandung ungkapan yang mempunyai muatan dan penghargaan terhadap alam beserta isinya. Seiring dengan hal itu aristoteles menyeimbangkannya dengan ungkapan bahwa musik adalah sesuatu yang mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah,mempunyai terapi rekreatif,dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
Garapan ini kemudian berusaha menyerap spirit dalam belajar menjaga keberlangsungan hidup antar sesama manusia melalui alam raya dimana terdapat juga bagian Simbol-simbol yang diwujudkan kedalam kutukan terhadap tindakan-tindakan manusia yang merusak tata ritmik antara manusia dan lingkungannya .
Dari semua itu akhirnya menciptakan bunyi-bunyi yang mengandung makna bahwa manusia harus peduli terhadap proses mewujudkan keseimbangan dan kedamaian hidup.
HURU - HA - RAEGO, COMING ON SEPTEMBER 2012 @ SIGI (Dolo & Tanambulava)
Komposer : Izat Gunawan
I
Pada Bagian awalnya garapan ini ingin menunjukan luapan,letupan,dentuman,gesekan,serta pikiran pikiran dangkal yang saling berhantam-hantaman melalui prosesi bunyi dan benda-benda.
Sampai kemudian semua kita tersadar bahwa Tanah dan tetumbuhan diatasnya sungguh telah mengajarkan dengan sangat sabar persoalan harmoni, kebersamaan serta kearifan.
II
Syair syair Raego dalam ritual Vunja / panen suku kaili banyak mengandung ungkapan yang mempunyai muatan dan penghargaan terhadap alam beserta isinya. Seiring dengan hal itu aristoteles menyeimbangkannya dengan ungkapan bahwa musik adalah sesuatu yang mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah,mempunyai terapi rekreatif,dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
Garapan ini kemudian berusaha menyerap spirit dalam belajar menjaga keberlangsungan hidup antar sesama manusia melalui alam raya dimana terdapat juga bagian Simbol-simbol yang diwujudkan kedalam kutukan terhadap tindakan-tindakan manusia yang merusak tata ritmik antara manusia dan lingkungannya .
Dari semua itu akhirnya menciptakan bunyi-bunyi yang mengandung makna bahwa manusia harus peduli terhadap proses mewujudkan keseimbangan dan kedamaian hidup.
HURU - HA - RAEGO, COMING ON SEPTEMBER 2012 @ SIGI (Dolo & Tanambulava)
Selasa, 27 Maret 2012
DANAU LINDU (sebuah narasi)
Danau Lindu terletak di kecamatan Lindu, kabupaten Sigi provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia dan berada hampir di tengah-tengah Zona Taman Nasional Lore Lindu. Danau Lindu dimasukkan ke dalam kelas danau tektonik dengan ketinggian 1.000 m diatas permukaan laut dan luas 3.488 ha.
Jarak tempuh menuju danau lindu kurang lebih 77 kilo dari ibu kota provinsi Sul Teng. Dengan rute 60 kilo dari kota Palu ke lokasi transit di desa sadaunta lalu melanjutkan lagi 17 kilo meter dari sadaunta menuju Puroo sebagai desa pertama yang kita jumpai saat memasuki dataran Lindu
Danau Lindu dikelilingi oleh 8 pegunungan yakni Nokilalaki, Adale, Kona’a, Tumaru, Gimba, Jala, Rindi, dan Toningkolue. Umumnya, pegunungan ini tertutup hutan lebat yang terdiri dari hutan tropis, hutan pegunungan bawah, dan hutan lain dengan ekosistem berbeda.
Jalan menuju Kecamatan ini cukup menantang karena hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua,Bahkan jika kita berpapasan dengan roda dua lainnya maka salah satunya harus berhenti dulu. Ketinggian dalam perjalanan menuju danau berkisar 200m sampai 2.610 m di atas permukaan laut. Dari Sadaunta menuju lindu jurang akan berada pada sisi kanan kita sampai di Puncak.Dari Puncak sampai ke desa Puroo jurang berada disisi kiri. Kendaraan yang kebetulan lebih dekat jurang diprioritaskan untuk lewat lebih dulu,sementara kendaraan di sisi tebing harus berhenti merapatkan kendaraannya pada tebing agar kendaraan yang berlawanan arah bisa lewat.Curah hujan sepanjang jalan terbilang tinggi,sehingga anda harus ekstra hati-hati terutama jika hujan sedang turun sebab jalan akan menjadi licin. Jika membawa kendaraan sendiri,anda harus memastikan bahwa kendaraan anda sedang dalam kondisi baik terutama mesin dan ban. Jika tidak, anda boleh mengambil ojek khusus ke Lindu,mereka mangkal di Sadaunta. Harga untuk sampai ke Lindu dari Sadaunta adalah 35 rbu rupiah,agak mahal kedengarannya, tapi jika anda telah melewati jalur menuju lindu,anda akan paham bahwa 35 ribu tak semahal kedengarannya. Lagipula ojek-ojek ini sudah berpengalaman dan bisa diandalkan untuk menempuh medan yang cukup ekstrem sepanjang perjalanan menuju Daratan Lindu.
Oh ya,kebetulan hari ini saya bertemu dengan dua orang turis asing asal cekozlovakia diperjalanan.Mereka juga hendak menikmati danau Lindu,lalu kami memutuskan untuk menginap di cottage-cottage yang ada didesa tomado, Fasilitas ini disiapkan oleh pemda Kabupaten sigi melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata bagi para pengunjung objek wisata Danau Lindu. Harga sewanya untuk satu malam adalah 250 ribu.
Berdasarkan Perda Kabupaten Donggala no 8 tahun 2007 tentang pembentukkan kecamatan Lindu,mekarlah kecamatan Lindu dengan empat desa di dalamnya yaitu desa Puroo, Desa Langko, desa Tomado dan desa Anca. Ke-empat desa ini terletak di tepi danau Lindu.Luas Kecamatan Lindu adalah 552,03 km² dengan jumlah jiwa sebanyak kurang lebih 5.000 jiwa ,sebahagian besar warga keempat desa menggantungkan mata pencaharian mereka pada danau lindu sebagai nelayan mujair dan sebagai petani sawah.
Danau lindu merupakan salah satu objek wisata yang populer di Kabupaten Sigi, progress market untuk wisata ini telah menembus mancanegara.Dasar Danau Lindu ini mengandung lumpur,sehingga ikan air tawar seperti mujair,mas,sidat sangat cocok untuk hidup disini.
Pada suatu Zaman dalam skala waktu geologi yang berlangsung sekitar 5.322 hingga 1.806 juta tahun silam terjadi sebuah gerakan tektonis yang membentuk lembah-lembah besar dikawasan taman Nasional Lore Lindu seperti lembah napu,besoa,palolo dan Lindu . Lembah-lembah tersebut pada awalnya adalah danau-danau besar , dan pada saat ini sebahagian diantaranya tertutup sedimen kemudian membentuk lembah yang subur. Hanya danau lindu saja yang hingga saat ini masih berupa danau. Dikalangan masyarakat lindu sendiri banyak versi folklore yang berkembang seputar terjadinya danau lindu,diantaranya seperti yang diungkapkan seorang tokoh masyarakat pak alimutia diDesa anca dan pak samuel di desa Langko.
Apapun cerita tentang masa lalu,Danau lindu memang cantik, terutama di Pagi Hari saat kabut-kabut mulai beranjak dari pegunungan untuk menyambut matahari datang. Orang-orang yang memiliki sawah di dusun-dusun seberang mulai sibuk dibibir danau menyiapkan “motor” nya masing-masing untuk berangkat ke sawah.ya Orang-orang lindu menyebut perahu dengan motor, sebab sebahagian besar perahu mereka telah dipasangi mesin penggerak atau motor.
Kedatangan saya ini,ternyata bertepatan dengan pelaksanaan ombo ntodea ,atau pelarangan untuk menangakap ikan Didanau dalam jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh dewan dan majelis adat. Menangkap ikan saat pelaksanaan ombo akan dikenankan sangsi secara adat,kecuali mengambil seperlunya untuk dimakan,tapi tidak untuk dijual. Begitulah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat lindu untuk tetap menjaga keseimbangan alam serta makhluk hidup lain yang berada disekitar mereka.
Perjalanan di daratan lindu hari ini membawa saya menuju objek wisata ziarah, yaitu menuju makam maradindo di pulau bola, dengan menggunakan kapal dan ditemani oleh bapak gunci rante sebagai juru kunci makam tersebut
Maradindo adalah seorang raja yang disegani di daratan Lindu, semasa hidupnya beliau juga ikut memerangi para penjajah.
Selain menikmati danau serta pulau bola, saya menyempatkan diri menuju “muara”. Orang lindu menyebut tempat buangan air danau menjadi anak sungai dengan sebutan muara.
Dengan menggunakan “motor lindu”, saya menyebut perahu sebagai motor karena begitulah orang-orang menyebutnya disini. Dari desa anca sekitar 25 menit menuju tepi muara,kemudian berjalan kaki memasuki hutan kurang lebih setengah jam. Hutan disini terbilang lebat dan terjaga sebab masuk ke dalam zona taman nasional. Akan berat hukumannya jika merambah hutan,belum lagi harus berhadapan dengan hukum-hukum adat masyarakat Lindu. Tanjakan-Tanjakan dan turunan diantara pohon-pohon besar harus dilalui dengan susah payah, namun ketika mencapai muara, semua keletihan dijamin akan terbayar. Air terjun yang walaupun tidak terlalu tinggi menumpahkan air danau begitu banyak setiap detiknya, belum lagi suasana hutan yang mengelilingi lokasi muara menjadikan kita betah untuk berlama-lama disana. Air yang bergerak membentuk sungai ini mengaliri banyak tempat di lembah sigi dan Palu.Tidak sedikit para petani di lembah atau di pegunungan tetangga mendapat manfaat dari aliran sungai yang berasal dari danau Lindu.
Pemda Kabupaten sigi melalui Dinas Kebudayaan dan pariwisata Telah menjadikan Danau Lindu sebagai salah satu objek prioritas untuk program pengembangan potensi DTOW atau Daerah Tujuan Objek wisata. Hal ini sangat masuk akal, dengan modal seksinya keindahan alam yang ada di daratan lindu serta warga yang begitu ramah,Danau Lindu akan mampu berdaya saing hingga ke Level internasional jika ia ditunjang oleh program-program pemda yang menyentuh substansi Pariwisata daratan Lindu.
Selain membangun beberapa Fasilitas untuk pengunjung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sigi juga telah menggagas annual event atau kegiatan tahunan Di Lokasi Objek wisata Danau Lindu. Event Ini berupa Festival yang bertajuk Festival Danau Lindu, tahun ini telah memasuki penyelenggaraannya yang ke tiga.Festival ini adalah festival Kesenian dan Kebudayaan yang menjadikan isu lingkungan sebagai konsep dasarnya,Konsep Lingkungan ini digagas dalam rangka merespon perkembangan-perkembangan aktual mengenai konservasi seperti Global Warming serta juga mengingat posisi danau Lindu yang secara geografis terletak dalam kawasan taman Nasional. Tidak hanya itu,bentuk bentuk kebudayaan Yang dimiliki Kabupaten Sigi juga dijadikan jargon guna mewujudkan Festival Danau Lindu sebagai Festival yang mengapresiasi Warisan Dunia.
Semoga Lindu tetap cantik,bersahaja dan alami sekalipun perkembangan dunia menuntut make up yang menor.
Orang-orang Sigi dan Masyarakat Lindu khususnya memang harus tetap bersinergi untuk mewujudkan Danau Lindu sebagai salah satu pilar pariwisata yang akan ikut menunjang pembangunan daerah, cita-cita Menjadi Masyarakat yang beradat dan berbudaya serta mampu memaksimalkan potensi daerah bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan di Kabupaten Sigi. Selamat tinggal danau Lindu!!!
Jarak tempuh menuju danau lindu kurang lebih 77 kilo dari ibu kota provinsi Sul Teng. Dengan rute 60 kilo dari kota Palu ke lokasi transit di desa sadaunta lalu melanjutkan lagi 17 kilo meter dari sadaunta menuju Puroo sebagai desa pertama yang kita jumpai saat memasuki dataran Lindu
Danau Lindu dikelilingi oleh 8 pegunungan yakni Nokilalaki, Adale, Kona’a, Tumaru, Gimba, Jala, Rindi, dan Toningkolue. Umumnya, pegunungan ini tertutup hutan lebat yang terdiri dari hutan tropis, hutan pegunungan bawah, dan hutan lain dengan ekosistem berbeda.
Jalan menuju Kecamatan ini cukup menantang karena hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua,Bahkan jika kita berpapasan dengan roda dua lainnya maka salah satunya harus berhenti dulu. Ketinggian dalam perjalanan menuju danau berkisar 200m sampai 2.610 m di atas permukaan laut. Dari Sadaunta menuju lindu jurang akan berada pada sisi kanan kita sampai di Puncak.Dari Puncak sampai ke desa Puroo jurang berada disisi kiri. Kendaraan yang kebetulan lebih dekat jurang diprioritaskan untuk lewat lebih dulu,sementara kendaraan di sisi tebing harus berhenti merapatkan kendaraannya pada tebing agar kendaraan yang berlawanan arah bisa lewat.Curah hujan sepanjang jalan terbilang tinggi,sehingga anda harus ekstra hati-hati terutama jika hujan sedang turun sebab jalan akan menjadi licin. Jika membawa kendaraan sendiri,anda harus memastikan bahwa kendaraan anda sedang dalam kondisi baik terutama mesin dan ban. Jika tidak, anda boleh mengambil ojek khusus ke Lindu,mereka mangkal di Sadaunta. Harga untuk sampai ke Lindu dari Sadaunta adalah 35 rbu rupiah,agak mahal kedengarannya, tapi jika anda telah melewati jalur menuju lindu,anda akan paham bahwa 35 ribu tak semahal kedengarannya. Lagipula ojek-ojek ini sudah berpengalaman dan bisa diandalkan untuk menempuh medan yang cukup ekstrem sepanjang perjalanan menuju Daratan Lindu.
Oh ya,kebetulan hari ini saya bertemu dengan dua orang turis asing asal cekozlovakia diperjalanan.Mereka juga hendak menikmati danau Lindu,lalu kami memutuskan untuk menginap di cottage-cottage yang ada didesa tomado, Fasilitas ini disiapkan oleh pemda Kabupaten sigi melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata bagi para pengunjung objek wisata Danau Lindu. Harga sewanya untuk satu malam adalah 250 ribu.
Berdasarkan Perda Kabupaten Donggala no 8 tahun 2007 tentang pembentukkan kecamatan Lindu,mekarlah kecamatan Lindu dengan empat desa di dalamnya yaitu desa Puroo, Desa Langko, desa Tomado dan desa Anca. Ke-empat desa ini terletak di tepi danau Lindu.Luas Kecamatan Lindu adalah 552,03 km² dengan jumlah jiwa sebanyak kurang lebih 5.000 jiwa ,sebahagian besar warga keempat desa menggantungkan mata pencaharian mereka pada danau lindu sebagai nelayan mujair dan sebagai petani sawah.
Danau lindu merupakan salah satu objek wisata yang populer di Kabupaten Sigi, progress market untuk wisata ini telah menembus mancanegara.Dasar Danau Lindu ini mengandung lumpur,sehingga ikan air tawar seperti mujair,mas,sidat sangat cocok untuk hidup disini.
Pada suatu Zaman dalam skala waktu geologi yang berlangsung sekitar 5.322 hingga 1.806 juta tahun silam terjadi sebuah gerakan tektonis yang membentuk lembah-lembah besar dikawasan taman Nasional Lore Lindu seperti lembah napu,besoa,palolo dan Lindu . Lembah-lembah tersebut pada awalnya adalah danau-danau besar , dan pada saat ini sebahagian diantaranya tertutup sedimen kemudian membentuk lembah yang subur. Hanya danau lindu saja yang hingga saat ini masih berupa danau. Dikalangan masyarakat lindu sendiri banyak versi folklore yang berkembang seputar terjadinya danau lindu,diantaranya seperti yang diungkapkan seorang tokoh masyarakat pak alimutia diDesa anca dan pak samuel di desa Langko.
Apapun cerita tentang masa lalu,Danau lindu memang cantik, terutama di Pagi Hari saat kabut-kabut mulai beranjak dari pegunungan untuk menyambut matahari datang. Orang-orang yang memiliki sawah di dusun-dusun seberang mulai sibuk dibibir danau menyiapkan “motor” nya masing-masing untuk berangkat ke sawah.ya Orang-orang lindu menyebut perahu dengan motor, sebab sebahagian besar perahu mereka telah dipasangi mesin penggerak atau motor.
Kedatangan saya ini,ternyata bertepatan dengan pelaksanaan ombo ntodea ,atau pelarangan untuk menangakap ikan Didanau dalam jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh dewan dan majelis adat. Menangkap ikan saat pelaksanaan ombo akan dikenankan sangsi secara adat,kecuali mengambil seperlunya untuk dimakan,tapi tidak untuk dijual. Begitulah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat lindu untuk tetap menjaga keseimbangan alam serta makhluk hidup lain yang berada disekitar mereka.
Perjalanan di daratan lindu hari ini membawa saya menuju objek wisata ziarah, yaitu menuju makam maradindo di pulau bola, dengan menggunakan kapal dan ditemani oleh bapak gunci rante sebagai juru kunci makam tersebut
Maradindo adalah seorang raja yang disegani di daratan Lindu, semasa hidupnya beliau juga ikut memerangi para penjajah.
Selain menikmati danau serta pulau bola, saya menyempatkan diri menuju “muara”. Orang lindu menyebut tempat buangan air danau menjadi anak sungai dengan sebutan muara.
Dengan menggunakan “motor lindu”, saya menyebut perahu sebagai motor karena begitulah orang-orang menyebutnya disini. Dari desa anca sekitar 25 menit menuju tepi muara,kemudian berjalan kaki memasuki hutan kurang lebih setengah jam. Hutan disini terbilang lebat dan terjaga sebab masuk ke dalam zona taman nasional. Akan berat hukumannya jika merambah hutan,belum lagi harus berhadapan dengan hukum-hukum adat masyarakat Lindu. Tanjakan-Tanjakan dan turunan diantara pohon-pohon besar harus dilalui dengan susah payah, namun ketika mencapai muara, semua keletihan dijamin akan terbayar. Air terjun yang walaupun tidak terlalu tinggi menumpahkan air danau begitu banyak setiap detiknya, belum lagi suasana hutan yang mengelilingi lokasi muara menjadikan kita betah untuk berlama-lama disana. Air yang bergerak membentuk sungai ini mengaliri banyak tempat di lembah sigi dan Palu.Tidak sedikit para petani di lembah atau di pegunungan tetangga mendapat manfaat dari aliran sungai yang berasal dari danau Lindu.
Pemda Kabupaten sigi melalui Dinas Kebudayaan dan pariwisata Telah menjadikan Danau Lindu sebagai salah satu objek prioritas untuk program pengembangan potensi DTOW atau Daerah Tujuan Objek wisata. Hal ini sangat masuk akal, dengan modal seksinya keindahan alam yang ada di daratan lindu serta warga yang begitu ramah,Danau Lindu akan mampu berdaya saing hingga ke Level internasional jika ia ditunjang oleh program-program pemda yang menyentuh substansi Pariwisata daratan Lindu.
Selain membangun beberapa Fasilitas untuk pengunjung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sigi juga telah menggagas annual event atau kegiatan tahunan Di Lokasi Objek wisata Danau Lindu. Event Ini berupa Festival yang bertajuk Festival Danau Lindu, tahun ini telah memasuki penyelenggaraannya yang ke tiga.Festival ini adalah festival Kesenian dan Kebudayaan yang menjadikan isu lingkungan sebagai konsep dasarnya,Konsep Lingkungan ini digagas dalam rangka merespon perkembangan-perkembangan aktual mengenai konservasi seperti Global Warming serta juga mengingat posisi danau Lindu yang secara geografis terletak dalam kawasan taman Nasional. Tidak hanya itu,bentuk bentuk kebudayaan Yang dimiliki Kabupaten Sigi juga dijadikan jargon guna mewujudkan Festival Danau Lindu sebagai Festival yang mengapresiasi Warisan Dunia.
Semoga Lindu tetap cantik,bersahaja dan alami sekalipun perkembangan dunia menuntut make up yang menor.
Orang-orang Sigi dan Masyarakat Lindu khususnya memang harus tetap bersinergi untuk mewujudkan Danau Lindu sebagai salah satu pilar pariwisata yang akan ikut menunjang pembangunan daerah, cita-cita Menjadi Masyarakat yang beradat dan berbudaya serta mampu memaksimalkan potensi daerah bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan di Kabupaten Sigi. Selamat tinggal danau Lindu!!!
Senin, 26 Maret 2012
NGATA TORO,SEBENAR-BENARNYA SIGI (sebuah narasi)
Toro. Toro adalah sebuah desa atau ngata di kecamatan kulawi kabupaten sigi, toro berjarak tempuh kurang lebih 80 km ke arah selatan dari ibu kota propinsi sulawesi tengah. perjalanan dengan menggunakan mobil biasanya akan ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam setengah sampai dua jam.
luas ngata toro setelah pemetaan pemerintah desa bersama yayasan tanah merdeka pada tahun 1999 adalah 22.950 ha, dari luas keseluruhan tersebut 18.360 ha adalah wilayah administrasi balai besar taman nasional.sementara,sisanya adalah areal tempat tinggal penduduk,persawahan,kebun dll.
jumlah kepala keluarga yang mendiami ngata toro hingga tahun 2012 adalah 602 kk dengan total jumlah 2.660 jiwa.95% masyarakat ngata toro berprofesi sebagai petani sawah.
Masyarakat asli di ngata toro adalah etnis moma. Etnis ini memang menempati sebahagian besar wilayah kecamatan kulawi dan kulawi selatan. selain etnis moma,terdapat juga etnis rampi dan toraja yang hijrah dari provinsi tetangga sulawesi selatan,dan sub-sub etnis kaili lainnya yang berasal dari lembah sigi,kota palu dan sekitarnya.
Dari beberapa cerita yang saya dengar,bahwa dulunya terdapat sebuah kampung tua yang bernama malino.kampung tersebut adalah kampung asal muasalnya ngata toro ini. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan batu-batu pahat bekas tiang rumah. Perjalanan menuju kampung malino harus ditempuh dalam dua hari dua malam berjalan kaki menyusuri hutan ngata toro
toro memang wilayah yang eksotis. Sawah yang terhampar luas sepanjang sisi timur serta hutan yang nampaknya terjaga dengan baik mengelilingi ngata toro. Hutan-hutan lebat yang merantai wilayah toro ini begitu hijau,sejuk serta menambah kental kesan alami yang sepanjang hari dapat dinikmati di ngata toro ini.
masyarakat disini mengelola ribuan hektar hutan mereka dengan kearifan lokal yang terus diwarisi dari nenek moyang. Aturan-aturan adat diterapkan secara berkesinambungan pada pola kehidupan, guna menjaga hutannya dari berbagai jenis ancaman kerusakan alam akibat perambahan lahan.
masyarakat adat toro percaya bahwa mereka dari generasi ke generasi sudah melindungi alam dan sumberdaya alam yang mereka miliki. pembagian wilayah dan lahan garapan sudah mereka tentukan berdasar pada aturan adat. mereka masih yakin dan percaya dengan aturan-aturan adat peninggalan nenek moyang mereka. aturan-aturan adat ini sampai dengan sekarang masih menjadi acuan hidup seluruh masyarakat adat disana dan pelanggaran terhadapnya akan mengakibatkan sangsi-sangsi adat yang telah di tentukan pula sebelumnya.
eksistensi masyarakat adat ngata toro ini ternyata menarik perhatian dunia,terutama organisasi-organisasi internasional yang bergerak pada lini konservasi maupun pemberdayaan hak-hak masyrakat adat. tokoh-tokoh masyarakat di ngata toro pun telah sering dihadirkan sebagai pembicara pada seminar-seminar yang menyoal kearifan lokal dan lingkungan baik pada tingkat nasional maupun internasional.
bukan hanya itu, strategi pengelolaan alam yang diimplementasikan masyarakat toro ini telah mampu menjadikan toro sebagai objek yang kerap kali didatangi oleh para peneliti lokal,nasional bahkan mancanegara. terbukti sebuah project penelitian murni bernama storma (stability of rainforest margin in indonesia) yang digagas berdasarkan kerja sama dua buah universitas indonesia yakni IPB dan UNTAD dengan dua universitas jerman yaitu gottingen dan kassel telah melakukakan penelitian-penelitan diwilayah ngata toro semenjak september 2003. substansi penelitian storma yang ingin mencari solusi bagaimana masyarakat tetap bisa hidup di wilayah pinggiran hutan tanpa merusak hutan tersebut sangat singkron dengan pola-pola kearifan lokal yang diterapkan masyarakat adat ngata toro.misalnya orang-orang toro berkebun dengan prinsip agroforest pampa atau berkebun di antara pohon-pohon di hutan tanpa merambah hutan tersebut.
pada tahun 2002, 2003 dan 2010 ngata toro mendapat kunjungan studi banding tentang pengelolaan lingkungan dari pemerintah daerah kutai.negara filipin dan pemerintah daerah maluku utara.
selain keindahan alam dan pengelolaannya yang sangat arif , kesadaran masyarakat terhadap bentuk-bentuk budaya sangat tinggi di ngata toro ini,orang – orang yang ramah dan terbuka menumbuhkan rasa nyaman bagi para pengunjung.
Keberadaan bangunan-bangunan publik dengan corak lokal masih dipertahankan,tidak hanya sebatas fisiknya saja, tapi bangunan – bangunan ini kemudian berfungsi sebagaimana harusnya, misalnya saja lobo, lobo adalah sebuah bangunan adat dari batang-batang kayu tertentu yang selalu digunakan para tokoh adat dan masyarakat untuk no libu (berkumpul) guna membahas persoalan-persoalan ngata ataupun berkumpul untuk memutuskan suatu persoalan secara adat. Selain Lobo juga terdapat paningku,gampiri serta bantaya yang juga memiliki fungsi masing-masing.
suatu waktu ketika sedang asik berjalan-jalan di perkampungan ngata toro,saya menyaksikan sebuah peristiwa yang cukup menarik, ada sekelompok anak-anak Sekolah dasar sedang melakukan proses belajar mengajar di dalam Lobo, saya menghampirinya.
Saya sangat kagum, ternyata anak-anak ini adalah siswa-siswi sekolah dasar al khairat Toro yang kebetulan bergama kristen sedang belajar agama mereka di lobo,setahu saya Al –khairat adalah sebuah perguruan islam yang terbilang besar di sulawesi tengah, biasanya sekolah-sekolah al khairat hanya memiliki murid agama islam, tapi di toro ada kenyataan di masyarakat yang menyentuh saya, bahwa bagi orang Toro,perbedaan prinsip hanyalah dinamika, bukan persoalan yang harus memecah kita menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan . Mereka memiliki perbedaan satu sama lain namun berupaya menghargainya sebab pemahaman mereka tentang hakikiat manusia adalah sama. Adat istiadat menjadi ruang mereka untuk lebur menjadi satu atap dalam kerifan budaya lokal ngata toro.
Perjalanan saya hari ini adalah menuju jalur tracking lintas ngata (kampung). Seorang tondo ngata atau penjaga hutan telah bersedia menemani saya , namanya pa Said, beliau telah ditunjuk oleh lembaga adat ngata toro untuk menjadi tondo ngata sejak tahun 1995, atau sekitar 17 tahun yang lalu.
Jalur tracking ini digagas sendiri oleh masyarakat ngata toro sebagai salah satu perwujudan program desa ketika tahun 2011 yang lalu ngata toro mendapat stimulasi anggaran pengembangan pariwisata dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan. Namun jauh sebelum itu,jalan-jalan setapak yang menjadi cikal – bakal jalur tracking tersebut telah dibuat sendiri oleh Pa Said. Ya, pa said memang harus membuka jalan-jalan kecil di tengah hutan mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang tondo ngata dalam mengawasi ribuan hektar hutan ngata toro. Menurut perencanaannya jalur ini akan dibuka terus sejauh 15 km.
Selain hutan yang begitu kaya dan terjaga,Di ngata Toro juga ternyata banyak terdapat pengrajin-pengrajin produk lokal, seperti pengrajin tikar dari ilalang, pengarajin kursi bambu dan pengrajin kulit kayu
Salah satunya adalah Ibu halempe,adalah seorang wanita berusia 68 tahun yang masih terus mengerjakan pembuatan pakaian-pakaian adat berbahan kulit kayu. Usia yang telah senja sama sekali tidak pernah menyurutkan keinginannya untuk tetap meneruskan kegiatan yang sangat membutuhkan ketahanan fisik itu. Menurutnya,pakaian asli masyarakat daratan kulawi adalah pakaian berbahan kulit kayu, jadi jika sudah tidak ada lagi yang bisa membuatnya maka orang-orang kulawi akan kehilangan ciri kebudayaannya sebagai to- kulavi. Secara pribadi ibu halempe mengkhawatirkan hal tersebut, jarang sekali saat ini anak-anak muda yang terpanggil untuk mempelajari tekhnik pembuatan pakaian dari kulit kayu dengan perangkatnya yang masih menggunakan metode tradisional.
Selain ibu halempe ada juga seorang bapak bernama anwar yang berprofesi sebagai pengrajin bambu. pak anwar telah menghasilkan produk-produk berupa kursi dan meja yang berbahan baku seratus persen bambu.
Seandainya saja seluruh tempat di nusantara ini memiliki kearifan lokal yang terus dilestarikan oleh sebahagian besar masyarakatnya dalam mengelola alam dan potensinya, persis seperti apa yang orang-orang ngata toro lakukan, saya yakin dunia tidak perlu gelisah terhadap Global Warming !!! selamat jalan TORO. MAROHO ADA MANIMPU NGATA.
MG,toro,14 maret 2012.
luas ngata toro setelah pemetaan pemerintah desa bersama yayasan tanah merdeka pada tahun 1999 adalah 22.950 ha, dari luas keseluruhan tersebut 18.360 ha adalah wilayah administrasi balai besar taman nasional.sementara,sisanya adalah areal tempat tinggal penduduk,persawahan,kebun dll.
jumlah kepala keluarga yang mendiami ngata toro hingga tahun 2012 adalah 602 kk dengan total jumlah 2.660 jiwa.95% masyarakat ngata toro berprofesi sebagai petani sawah.
Masyarakat asli di ngata toro adalah etnis moma. Etnis ini memang menempati sebahagian besar wilayah kecamatan kulawi dan kulawi selatan. selain etnis moma,terdapat juga etnis rampi dan toraja yang hijrah dari provinsi tetangga sulawesi selatan,dan sub-sub etnis kaili lainnya yang berasal dari lembah sigi,kota palu dan sekitarnya.
Dari beberapa cerita yang saya dengar,bahwa dulunya terdapat sebuah kampung tua yang bernama malino.kampung tersebut adalah kampung asal muasalnya ngata toro ini. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan batu-batu pahat bekas tiang rumah. Perjalanan menuju kampung malino harus ditempuh dalam dua hari dua malam berjalan kaki menyusuri hutan ngata toro
toro memang wilayah yang eksotis. Sawah yang terhampar luas sepanjang sisi timur serta hutan yang nampaknya terjaga dengan baik mengelilingi ngata toro. Hutan-hutan lebat yang merantai wilayah toro ini begitu hijau,sejuk serta menambah kental kesan alami yang sepanjang hari dapat dinikmati di ngata toro ini.
masyarakat disini mengelola ribuan hektar hutan mereka dengan kearifan lokal yang terus diwarisi dari nenek moyang. Aturan-aturan adat diterapkan secara berkesinambungan pada pola kehidupan, guna menjaga hutannya dari berbagai jenis ancaman kerusakan alam akibat perambahan lahan.
masyarakat adat toro percaya bahwa mereka dari generasi ke generasi sudah melindungi alam dan sumberdaya alam yang mereka miliki. pembagian wilayah dan lahan garapan sudah mereka tentukan berdasar pada aturan adat. mereka masih yakin dan percaya dengan aturan-aturan adat peninggalan nenek moyang mereka. aturan-aturan adat ini sampai dengan sekarang masih menjadi acuan hidup seluruh masyarakat adat disana dan pelanggaran terhadapnya akan mengakibatkan sangsi-sangsi adat yang telah di tentukan pula sebelumnya.
eksistensi masyarakat adat ngata toro ini ternyata menarik perhatian dunia,terutama organisasi-organisasi internasional yang bergerak pada lini konservasi maupun pemberdayaan hak-hak masyrakat adat. tokoh-tokoh masyarakat di ngata toro pun telah sering dihadirkan sebagai pembicara pada seminar-seminar yang menyoal kearifan lokal dan lingkungan baik pada tingkat nasional maupun internasional.
bukan hanya itu, strategi pengelolaan alam yang diimplementasikan masyarakat toro ini telah mampu menjadikan toro sebagai objek yang kerap kali didatangi oleh para peneliti lokal,nasional bahkan mancanegara. terbukti sebuah project penelitian murni bernama storma (stability of rainforest margin in indonesia) yang digagas berdasarkan kerja sama dua buah universitas indonesia yakni IPB dan UNTAD dengan dua universitas jerman yaitu gottingen dan kassel telah melakukakan penelitian-penelitan diwilayah ngata toro semenjak september 2003. substansi penelitian storma yang ingin mencari solusi bagaimana masyarakat tetap bisa hidup di wilayah pinggiran hutan tanpa merusak hutan tersebut sangat singkron dengan pola-pola kearifan lokal yang diterapkan masyarakat adat ngata toro.misalnya orang-orang toro berkebun dengan prinsip agroforest pampa atau berkebun di antara pohon-pohon di hutan tanpa merambah hutan tersebut.
pada tahun 2002, 2003 dan 2010 ngata toro mendapat kunjungan studi banding tentang pengelolaan lingkungan dari pemerintah daerah kutai.negara filipin dan pemerintah daerah maluku utara.
selain keindahan alam dan pengelolaannya yang sangat arif , kesadaran masyarakat terhadap bentuk-bentuk budaya sangat tinggi di ngata toro ini,orang – orang yang ramah dan terbuka menumbuhkan rasa nyaman bagi para pengunjung.
Keberadaan bangunan-bangunan publik dengan corak lokal masih dipertahankan,tidak hanya sebatas fisiknya saja, tapi bangunan – bangunan ini kemudian berfungsi sebagaimana harusnya, misalnya saja lobo, lobo adalah sebuah bangunan adat dari batang-batang kayu tertentu yang selalu digunakan para tokoh adat dan masyarakat untuk no libu (berkumpul) guna membahas persoalan-persoalan ngata ataupun berkumpul untuk memutuskan suatu persoalan secara adat. Selain Lobo juga terdapat paningku,gampiri serta bantaya yang juga memiliki fungsi masing-masing.
suatu waktu ketika sedang asik berjalan-jalan di perkampungan ngata toro,saya menyaksikan sebuah peristiwa yang cukup menarik, ada sekelompok anak-anak Sekolah dasar sedang melakukan proses belajar mengajar di dalam Lobo, saya menghampirinya.
Saya sangat kagum, ternyata anak-anak ini adalah siswa-siswi sekolah dasar al khairat Toro yang kebetulan bergama kristen sedang belajar agama mereka di lobo,setahu saya Al –khairat adalah sebuah perguruan islam yang terbilang besar di sulawesi tengah, biasanya sekolah-sekolah al khairat hanya memiliki murid agama islam, tapi di toro ada kenyataan di masyarakat yang menyentuh saya, bahwa bagi orang Toro,perbedaan prinsip hanyalah dinamika, bukan persoalan yang harus memecah kita menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan . Mereka memiliki perbedaan satu sama lain namun berupaya menghargainya sebab pemahaman mereka tentang hakikiat manusia adalah sama. Adat istiadat menjadi ruang mereka untuk lebur menjadi satu atap dalam kerifan budaya lokal ngata toro.
Perjalanan saya hari ini adalah menuju jalur tracking lintas ngata (kampung). Seorang tondo ngata atau penjaga hutan telah bersedia menemani saya , namanya pa Said, beliau telah ditunjuk oleh lembaga adat ngata toro untuk menjadi tondo ngata sejak tahun 1995, atau sekitar 17 tahun yang lalu.
Jalur tracking ini digagas sendiri oleh masyarakat ngata toro sebagai salah satu perwujudan program desa ketika tahun 2011 yang lalu ngata toro mendapat stimulasi anggaran pengembangan pariwisata dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan. Namun jauh sebelum itu,jalan-jalan setapak yang menjadi cikal – bakal jalur tracking tersebut telah dibuat sendiri oleh Pa Said. Ya, pa said memang harus membuka jalan-jalan kecil di tengah hutan mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang tondo ngata dalam mengawasi ribuan hektar hutan ngata toro. Menurut perencanaannya jalur ini akan dibuka terus sejauh 15 km.
Selain hutan yang begitu kaya dan terjaga,Di ngata Toro juga ternyata banyak terdapat pengrajin-pengrajin produk lokal, seperti pengrajin tikar dari ilalang, pengarajin kursi bambu dan pengrajin kulit kayu
Salah satunya adalah Ibu halempe,adalah seorang wanita berusia 68 tahun yang masih terus mengerjakan pembuatan pakaian-pakaian adat berbahan kulit kayu. Usia yang telah senja sama sekali tidak pernah menyurutkan keinginannya untuk tetap meneruskan kegiatan yang sangat membutuhkan ketahanan fisik itu. Menurutnya,pakaian asli masyarakat daratan kulawi adalah pakaian berbahan kulit kayu, jadi jika sudah tidak ada lagi yang bisa membuatnya maka orang-orang kulawi akan kehilangan ciri kebudayaannya sebagai to- kulavi. Secara pribadi ibu halempe mengkhawatirkan hal tersebut, jarang sekali saat ini anak-anak muda yang terpanggil untuk mempelajari tekhnik pembuatan pakaian dari kulit kayu dengan perangkatnya yang masih menggunakan metode tradisional.
Selain ibu halempe ada juga seorang bapak bernama anwar yang berprofesi sebagai pengrajin bambu. pak anwar telah menghasilkan produk-produk berupa kursi dan meja yang berbahan baku seratus persen bambu.
Seandainya saja seluruh tempat di nusantara ini memiliki kearifan lokal yang terus dilestarikan oleh sebahagian besar masyarakatnya dalam mengelola alam dan potensinya, persis seperti apa yang orang-orang ngata toro lakukan, saya yakin dunia tidak perlu gelisah terhadap Global Warming !!! selamat jalan TORO. MAROHO ADA MANIMPU NGATA.
MG,toro,14 maret 2012.
Kamis, 08 Maret 2012
PANOTO MULI , MOMPAKA NOTO RARA
HARMONI PANOTO MULI, SEBUAH REAKSI KESEIMBANGAN !!!
kurang lebih sepuluh detik cahaya-cahaya yang bersilangan pada latar panggung itu kemudian membentuk struktur TAIGANJA.
Taiganja merupakan material budaya suku kaili,memiliki wujud cukup unik dengan fungsi sebagai perhiasan (terutama menjadi buah pada anting dan kalung)yang secara semiotika merupakan perlambangan sebuah strata sosial suku kaili sejak zaman Tomalanggai sampai pada masa raja-raja. dalam sebuah mitologi kaili yang bertajuk "TOMANURU",dikisahkan seorang perempuan yang ne bete (muncul dari dalam / kata ini dikhususkan pada benda) sebuah batang bambu emas (bolo vatu mbulava). konon wanita ini diturunkan dari langit sebagai sosok yang akan menjadi pasangan tomalanggai (gelar bagi seorang penakluk pada zamannya) sekaligus mengajarkan orang-orang yang hidup dengan hukum rimba pada masa itu tentang,nilai-nilai,aturan-aturan,harkat dan seterusnya kepada mereka. pada proses nebete tersebut, tomanuru mengenakan aksesori emas yang mencolok. Perhiasan ini dikenal dengan taiganja yang dari beberapa cerita mengatakan bahwa substansi kebendaannya tersebut merupakan anatomi (maaf) dari vagina yang menyiratkan "vamba /vobo katuvua" (pintu kehidupan).
Tomanuru dan Taiganja pada pertunjukkan Panoto Muli sutradara M.Noerdiansayah S,Sn ini telah menjadi simbol yang sengaja dipecah-pecah untuk menemukan tafsir kekinian dalam ekseperimen teater nya Toto (sapaan akrab pak sutradara) kali ini. Banyak temuan memang, proses eksplorasi toto kemudian menggiring dia berjumpa dengan bentuk-bentuk tubuh maupun deretan kata-kata yang dimodifikasi berdasarkan analisisnya terhadap mitologi tomanuru. Untuk detail konsep penyutradaan dapat dilihat di
http://lenterapalu.blogspot.com/2012/02/konsep-pertunjukkan-panoto-muli.html?showComment=1330316855828#c2532691827889510231
apresiasi saya terhadap Panoto Muli nya toto dalam tulisan ini tidak berdasar pada konsep penyutradaan, tapi lebih kepada pengalaman empirik saat menyaksikan proses latihan serta hubungannya dengan kepustakaan pribadi saya mengenai tomanuru.
Umumnya,ketika membicarakan tomanuru maka "harkat wanita" akan di gadang-gadang menjadi muara eksplorasi. Nah, yang menarik dari proses elaborasi yang dilakukan toto, bahwa tomanuru pada akhirnya tak lagi diterjemahkan sebagai fisik tomanuru itu sendiri maupun gender nya tapi justru dikembalikan pada esensi kehadiran tomanuru sebagai ilham. Tidak mudah berada pada level ini,membutuhkan kajian ekstra hati-hati,dan yang saya simak bahwa toto cukup disiplin menjaga pondasi saat menciptakan kerangka setiap adegan.
sudah sewajarnya bahwa sebuah mitologi dibebaskan dari kesan primodial,sastra lisan adalah sebuah kebudayaan yang seharusnya berimbang dengan tradisi tulis.kedua-duanya hendaknya sinergi sebagai kahsanah budaya.
Bagi Saya,tomanuru dalam panoto muli menyimbolkan hal itu, bagaimana ilham hadir dalam bentuk lisan untuk kemudian melahirkan-tulisan-tulisan yang disimbolkan lewat tekhnologi,gedung-gedung dan seterusnya. Sesungguhnya toto mengalami itu secara langsung. Pada konsep penyutradaraannya dituliskan bagaimana segala jenis referensi dirangkai menjadi gagasan untuk mencoba kemungkinan menggunakan "bahasa baru" sebagai salah satu media penyampai dalam pertunjukannya. setelah membulatkan gagasan,toto pun menuliskan detilnya!!!
KEPURBAAN DAN ANGAN-ANGAN....
Arkaisme atau sebutlah kepurba'an, menjadi dominan dalam citra adegan yang hendak dibangun toto. Hal ini cenderung menghadirkan multitafsir. saya pernah berdiskusi cukup serius dengan Nashir Umar (komposer di Komunitas Seni Tadulako)soal beberapa adegan Purba dalam panoto muli memiliki rasa "darwinism" yang cukup kental. Barangkali subjektif, tapi patut diperhitungkan agar keterjebakan terhadap evolusi manusia berdasarkan teori darwin bisa diminimalis, sebab apapun itu eksistensi tomanuru sebagai ilham menjadi taruhannya. secara tekhnis,Gesture yang dihadirkan memang cenderung mengarahkan kita pada teori darwin namun pada satu sisi cukup beralasan sebab pendekatan yang dilakukan toto pada adegan-adegan ini adalah periodisasi.
Menyoal angan-angan,konsep pertunjukkan yang berakar pada lokalitas ini menjadi tajam ditangan seorang toto. Menarik.
namun lebih dari pada sekedar analisis konsep maupun tekhnis garapan,idealnya sebuah pertunjukkan yang baik mampu meninggalkan sesuatu bagi publiknya. Pesan lah yang penting...selebihnya kita kategorikan saja sebagai strategi dalam menyampaikan memo pertunjukkan.
dalam Panoto Muli, kehadiran oarang-orang modern (dapat diidentifikasi dari gerak dan kostum)pada adegan akhir yang mengenakan handprop parang,sumpit,tombak ternyata masih memiliki kebiasa'an-kebiasa'an primitif zaman purba. Mereka masih senang perang,berkelahi seperti binatang serta hal-hal lainnya yang menyimbolkan "kebinatangan". Perenungan terhadap zaman dan realita sekitar kita.Inilah yang menjadi bidikan utamanya, pada bagian-bagian ini diperlukan tekhnik penyampaian yang sekiranya mampu ditafsir oleh penonton. atau mungkin strategi untuk meng khusyukkan penonton. atau apalah namanya agar setiap kita bisa membawa "oleh-oleh" dari pertunjukkan ini. Terlebih pada penonton muda. Sebab jika merujuk pada pesan bagian ending (yang sesungguhnya mengkritisi maraknya kegiatan konflik di wilayah kota Palu akhir-akhir ini) bahwa para pelaku konflik kebanyakan adalah kaum muda yang seharusnya mampu berfikir lebih jauh sebelum meng "copy - paste" pola purba.
Begitu mulia makna pesan ini, sangat disayangkan jika hanya menjadi angan-angan yang terbang dibawa angin sebelum mampu dipetik penontonnya.
BRAVO TEATER !!
BRAVO LENTERA !!
Rabu, 15 Februari 2012
VALENTINE DAY ANTE BALIA (Sebuah Wujud Yang Jauh Dari Wujud)
Sebuah spanduk yang sudah beberapa hari terbentang di halaman Taman Budaya sul teng berisi informasi bahwa tanggal 14 februari nanti akan ada sebuah parade pertunjukkan kesenian (tari,teater dan musik) oleh salah satu kelompok kesenian kampus universitas tadulako sul teng. Kelompok ini bernama Sanggar Seni Balia,(sebuah sanggar di fakultas hokum UNTAD). Dari infonya, teman teman balia akan menggelar acara tahunan mereka yang bertajuk GASS (gelar aksi serba seni),dan tema mereka tahun ini “valentine day ante balia” (hari valentine bersama Balia). Acara tahunan tersebut kali ini di sponsori oleh sebuah produk rokok yang cukup populer serta memiliki konsumen yang terbilang banyak di kota palu dan sekitarnya. Konon tema yang diangkat teman teman balia tahun ini adalah sumbangsih perusaha’an rokok tersebut. Satu sisi,saya pribadi merasa lega jika tema itu benar merupakan ide yang lahir dari sebuah perusahaan bukan dari kawan kawan penggiat seni di Balia, sebab akan menjadi sebuah langkah mundur bagi balia sendiri apabila tema ini ternyata gagasan para pelaku seni yang harusnya mampu menafsir jauh lebih dalam terhadap persolan merespon momen seperti valentine ini misalnya. namun apapun itu, hendaknya Balia mampu memberikan penawaran-penawaran yang lebih kuat terhadap pihak sponsor yang notabene melihat kesenian sebagai sesuatu yang “sekedar ramai tepuk-tangan”,”joget-joget”,bahkan “hedonisme”. Pendeknya, balia harus punya konsep jelas terhadap penataan acara dan pengkaryaan. Saya sangat yakin,hal itu tidak akan menimbulkan radikalisme kesenian atau serta merta merubah cara pandang melihat seni sebagai seni, toh masih banyak ruang-ruang yang bisa jadi luwes guna mengapresiasi keinginan sponsor dan rasa entertain dalam acara tersebut jika memang hal itu dijadikan beban oleh teman teman balia. Paling tidak, janganlah kita terkesan malas memikirkan capaian kesenian itu sendiri apalagi mencederainya dengan gagasan-gagasan dangkal yang jauh dari mutu. Sudah seharusnya GASS tahun ini menjadi catatan bagi Balia ketika menggagasnya kembali tahun depan. Evaluasi kemudian menjadi hal yang tidak boleh tidak dilakukan guna kesiapan penyajian di kemudian hari. Saya melihat perlu ada kesiapan secara konsep dulu pada tingkatan panitia sebelum melemparkan bentuk kegiatannya ke pihak pendukung nantinya. Apakah memang GASS hanya berakhir pada parade kesenian saja,atau ingin mencapai sebuah gagasan utuh dalam menyikapi keadaan sekitar lewat prespektif kesenian yang total dan berkualitas.Diskusi diskusi sebelum event perlu banyak di genjot oleh kawan kawan dengan menghadirkan orang-orang yang berkompoten guna memberikan beragam pandangan terhadap idealnya sebuah pertunjukkan meskipun awalnya akan terkesan subjektif sampai dia menemukan landasan (ruang) yang paling tepat untuk menetaskan gagasan awal garapan tersebut.toh kebenaran bersifat sangat relatif ketika berada di atas panggung,namun tak ada alasan untuk mengabaikan strategi strategi menuju kesenian yang meiliki ruh dan "wujud" jelas. Begitupun pada ragam tampilannya,secara tekhnis pada tampilan-tampilan semalam terlihat teman-teman tidak boleh menyepelekan ide penggarapan maupun kemasannya.
Membangun kesadaran serta tanggung jawab sebagai pelaku dalam mengolah karya-karyanya.
Hal inilah yang penting untuk dihayati lebih khusyuk oleh teman teman pekerja seni kampus di kota Palu umumnya. Menjadikan proses berkesenian teman-teman kampus di luar daerah sebagai “referensi juang” di tanah kita juga barangkali menjadi salah satu alternetif dalam rangka membangun kesenian kampus yang patut dicoba. Lihatlah ketika bagaimana sanggar – sanggar kampus (misalnya sebagai contoh yang ada di wilayah jawa tengah dan timur) mampu memposisikan dirinya sebagai sebuah komunitas seni yang tidak boleh dilihat sebelah mata,bahkan mereka mampu menelorkan seniman-seniman yang tidak sekedar aktif dan produktif tapi juga kreatif dalam menterjemahkan gagasan kedalam setiap pertunjukkannya. Padahal seniman-seniman kampus kita (termasuk balia tentunya) hampir setiap tahunnya menghadiri event-event kesenian antar kampus se Indonesia, keadaan ini seharusnya mengurangi satu lagi alasan untuk tidak menjaga eksistensi dan konsistensi dalam melahirkan karya-karya yang baik guna mewarnai geliat kesenian kota palu dan sekitarya. Lebih dari pada itu jika kita melihat usia sanggar-sanggar kampus kita yang sudah tidak lagi tergolong anyar,semestinya kampus telah mampu menjadi sebuah ruang apresiasi alternatif atau bahkan kantong-kantong kesenian yang menawarkan pemikiran-pemikiran tajam terhadap keadaan sekitar dengan menjadikan lingkungannya tersebut sebagai materi bagi metode eksplorasi pra penciptaan. Perlu kita garis bawahi dan hendaknya selalu direnungkan bahwa kelompok-kelompok kesenian kampus adalah kelompok yang memiliki potensi besar untuk berkembang sebab lahir dan diolah oleh para mahasiswa cerdas,berpendidikan,kritis serta peka dalam melihat serta menafsir berbagai macam persoalan termasuk kesenian yang sarat dengan muatan – muatan etis,estetis guna pembentukkan karakter.
DI ATAS PANGGUNG GASS.........
Malam itu GASS di buka oleh sebuah pertunjukkan drama “sepasang mata indah” karya kirdjomuljo. Pada pertunjukkan yang digarap oleh dian (mahasiswi fak hukum untad yang juga tergabung dalam balia) ini masih perlu mengalami pembenahan keaktoran. Pertunjukkan sepasang mata indah dari S.S balia ini didominasi oleh tokoh “cowok” yang diperankan oleh rolis abie, sangat terasa lawan mainnya masih bingung dalam menginterpretasi karakternya sendiri.tokoh “cewek” dan”ayah” terlihat kewalahan dalam mengimbangi sang “cowok”,bahkan kehadiran 4 orang pengamen (3 orang sebagi waria dan seorang lagi wanita culun) yang menggegerkan suasana itu sesungguhnya memiliki nilai keaktoran (terutama mimik dan vokal) yang begitu lemah,suasana geger itu muncul tidak lebih karena sorak sorai penonton yang menertawakan teman sekampusnya menggunakan kostum wanita serta make up yang menor. Kesimpulannya,garapan sepasang mata indah semalam,terlalu buru-buru untuk ditampilkan. Belum lagi ilustrasi musiknya yang sangat “tanggung” dan hampir kehilangan fungsinya untuk memperkuat bagian-bagian tertentu. Dan konon musik ini di garap sehari sebelum pertunjukkan. Sudah sedemikian parahnya kah cara kita melihat sebuah peristiwa kesenian untuk disajikan bagi publiknya?
Setelah Sepasang mata indah,penonton diajak menikmati tari yang di koreo oleh Arafat, judul tari ini “ekspresi gerak”, entah ekspresi gerak apa yang dibidik oleh koreografer,hal inipun tidak dibahas gamblang dalam sinopsis. “Meraba-raba” dan “ngambang”,inilah kesan yang dominan hadir pada pertunjukkan tari ini.sangat sulit ditemukan substansi dari gerak maupun pola-pola lantai yang dihadirkan, sangat wajar juga jika Juli (penata musik tari tersebut) memilih ber “eksperimen” saja dengan bunyi-bunyian tanpa ada pendekatan tema bunyi yang jelas. Pada beberapa bagian garapan musiknya pun cukup beresiko terhadap “sound balancing” ketika bunyi string dari keyboard digunakan.
Setelah tari, GASS pun sampai di puncak acara (begitu menurut MC) yaitu kakula gaul. 2 hal yang menjadi masukkan untuk acara puncak ini
1. Penataan sound yang harusnya diberikan perhatian lebih serius.
2. Intimidasi accord guitar terhadap instrumen kakula sangat terasa.
selebihnya saya memilih no comment untuk bagian ini,sebab saya bingung untuk membahas mengapa “jogja” nya kla project serta sebuah lagu dari Alm Chrisye (maaf saya lupa judulnya) didaulat sebagai klimaks.
Minggu, 05 Februari 2012
TEATER COPO,KOMUNITAS TEATER YANG IKHLAS DAN TERBUKA
Perjalanan dan silaturahmi menuju kualitas seni.
Copo, dalam bahasa lokal berarti lampu yang umumnya terbuat dari kaleng susu bekas dan berbahan bakar minyak tanah. Kata ini kemudian dipilih oleh Eteng Irsyad,S.Sn (pendiri teater copo) untuk digunakan sebagai nama kelompok teater yang dibentuknya pada tahun 2008 di Kota Palu sejak kepulangannya dari Bandung dalam rangka “belajar teater” di STSI dan sebelum hijrahnya beliau ke kampung halamannya di Kabupaten Buol.
Bagi teman – teman teater copo sendiri, esensi dari tajuk komunitas mereka adalah penyimbolan terhadap makna pencarian ide dan gagasan yang dikemas menjadi sebuah bentuk tontonan, dimana mutlak didalamnya terdapat unsur-unsur estetika yang kental, teknik artistik, serta manusia-manusia yang sedang menjalani proses perpindahan karakteristik dan proses mengolah rasa seutuhnya.
Dalam satu pertemuan dengan Eteng Irsyad pada sebuah pertunjukkan teater yang kebetulan kami hadiri bersama, dia berkelakar ketika saya menanyakan perihal keputusannya untuk berdomisili di Kabupaten Buol dan kemudian membangun sebuah komunitas baru di sana dengan nama Ngaang yang berarti cahaya. Katanya “ kalau lampu copo dan apinya kini di Palu,biarlah cahayanya ada di buol”. Mungkin menurut eteng sendiri bahwa membangun keterikatan moral antar anak-anak didiknya adalah sesuatu yang penting,meskipun saat itu satu-satu nya jembatan silaturahim adalah dirinya sendiri yang notabene dekat bahkan berstatus pendiri di dua kelompok teater ini. Mulia memang, tapi sesungguhnya hal ini menyisakan pertanyaan yang cukup besar bagi saya,kecemasan barangkali lebih tepatnya. Saat itu kawan kawan copo sedang “puber-pubernya”, mereka keranjingan pentas serta menonton pertunjukkan, dalam situasi ini seharusnya (menurut saya)eteng lebih intens untuk membimbing anak-anaknya,. Sungguh diluar dugaan kalau dia lebih memilih untuk berdomisili di Kabupaten Buol yang berjarak ratusan kilo dari kota Palu dan malah membangun lagi sebuah komunitas teater yang baru disana.
Mengapa saya harus cemas menyoal perihal yang cenderung privasi bagi seorang Eteng Irsyad?!
Kepulangan empat orang “tadulako” dari studi teater mereka di Bandung saat itu menurut saya merupakan peluang besar bagi para generasi yang ingin berkecimpung lebih serius didunia seni pertunjukkan khususnya, dan mereka mereka ini diharapkan mampu membawa atmosfer yang jauh lebih segar bagi wajah tetaer kota palu secara umum. Adalah sebuah langkah awal yang baik ketika Azmi Anwar S.Sn membentuk komunitas To-unlimited yang mulai berproses di taman Budaya Sul-Teng,selain berteater To-unlimited mulai terlihat aktif dalam kerja-kerja stage managing di panggung-panggung pertunjukkan yang digelar pemerintah daerah Provinsi. Subrata Kalape S.sn segera memutuskan pulang ke Luwuk Banggai untuk membangun potensi kesenian-kesenian rakyat disana lewat teater,tari dan musik.Al-hasil, saat ini Kabupaten Luwuk Banggai mampu menjadi salah satu Kabupaten yang patut diperhitungkan pada event-event kesenian di level provinsi bahkan nasional.Ade Fitriani Idris,S.Sn,setelah cukup lama melakukan solo karir dengan membantu beberapa komunitas-komunitas kesenian seperti lentera,pedati,banuatapura, Lembaga To Kaili Bangkit,pitate dll dalam garapan-garapan mereka baik secara tekhnis artistik maupun managemen produksinya kemudian beliau akhirnya membentuk sebuah komunitas seni bernama Darsah yang melibatkan cukup banyak generasi muda. Sementara Eteng Irsyad,S.sn sendiri yang pada awalnya memilih untuk menjadi pengajar lepas bidang studi seni budaya pada salah satu Sekolah Kejuruan menengah atas di Kota Palu mulai mengumpulkan “bibit-bibit unggul” di setiap angkatan untuk membentuk embrio teater Copo. Nah, ketika “bola salju” teater mulai digulirkan, eteng irsyad justru menghilang di awal-awal etape. Hal ini jelas memiliki konsekuensi cukup besar bagi strategi juang anak-anaknya. Kita harus mengakui bahwa pengaruh individu seorang seniman terhadap kelompok yang dibentuknya terbilang kuat bahkan terkadang tekhnik-tekhnik mereka mampu menjadi ciri khas kelompok itu sendiri. Kecendrungan ini memang hampir terjadi di setiap kelompok-kelompok kesenian baik yang telah memiliki nama besar maupun yang tengah merintisnya, misalnya saja nama Rahman Saboer yang identik dengan teater Payung Hitam atau alm.Ags arya Dwipana yang mampu memberikan pengaruh secara utuh bagi teater tetas, seorang putu wijaya yang ternyata 90 % lebih karya-karya teater mandiri adalah penyutradaannya sendiri, termasuk teater koma yang tetap menggantungkan kepercayaan penyutradaraan pertunjukkan – pertunjukkan besarnya melulu pada Nano Riantiarno. Di tanah tetangga kita Makassar, berlaku juga hal serupa, Asdar Muis RMS yang walaupun bukan satu-satunya pendiri Komunitas Sapi Berbunyi ternyata mampu menjadi icon salah satu komunitas yang terbilang populer di makassar ini,atau bagaimana karya-karya teater kita makassar yang banyak menggambarkan capaian-capaian berkeseniannya Asia Ramli Prapanca.Kelekatan ini sesungguhnya baik bagi komunitas namun menyimpan resiko yang cukup besar pula, lihatlah bagaiman teater Ketjil nya Alm.Arifin C.Noer harus rubuh perlahan-lahan sepeninggalan beliau, dan bagaimana pula StudiKlub Teater Bandung kehilangan gaung setelah pendirinya almarhum Suyatna Anirun meninggal dunia. Hal-hal tersebut tidak berbeda dengan yang kita alami di kota Palu ini, individu-individu seniman kita mampu memberikan pengaruh yang kuat bagi komunitas-komunitas mereka saat masih berada dalam satu lingkaran dengan komunitasnya, namun resiko yang diungkapkan di atas juga harus menjadi konsekuensi yang dialami komunitas dalam rangka penyesuaian terhadap pergesaran maupun pencapaian sang seniman. Di kota Palu ini kita pernah mengenal beberapa komunitas yang begitu tajam dan total dalam menggarap serta menyajikan karya-karya nya, seperti Zat Sibalaya,Kanamajadi,Plak-Plik,Warung Gerak Teater Caplak. Namun setelah seniman-seniman berpengaruh yang ada dilamnya memilih hijrah karena berbagai macam penyebab,maka hal ini berdampak keras pada intensitas serta prodiktivitas kerja-kerja kesenian yang dilakukan komunitasnya. Setelah Hanafi Saro meninggalkan desa Sibalaya,maka Zat sibalaya ikut redup, sama halnya yang terjadi dengan Bengkel Teater Kanamajadi yang dirintis Erwin Siradjuddin,S.Sn harus tenggelam ketika “Punggava” nya ini meninggalkan kota Palu untuk menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia di Jogjakarta,atau bagaimana ketika Almarhum Muchlis meninggal dunia maka Warung Gerak Teater Caplak yang didirikannya bersama Ahmadi,Muchsin dan Oyong harus berangsur-angsur hilang. Bahkan Plak-plik yang dulu selalu “megah” di atas pentas pun jadi patah juga akhirnya ketika anggota-anggotanya mulai berseberangan dengan sang sutradara Agus Tan T.syam.
Inilah mengapa saya harus merasa gelisah terhadap keputusan Eteng Irsyad untuk berpisah dengan copo secara jarak. Saya mencemaskan semangat anak-anak didik beliau sebetulnya. Jika boleh saya katakan “ untuk apalah sebuah lampu dengan api yang besar jika di sekitarnya tetap gulita karena cahaya yang diharpakan dari lampu itu justru menerangi tempat yang lain”
Namun syukurlah, sepertinya dampak yang saya cemaskan dari keputusan Eteng Irsyad barangkali belum dan semoga tidak akan terjadi. Adalah orang-orang seperti Ipin Kevin,Yadhi dan Kenneth yang mampu menyelamatkan copo dari hal-hal yang menjadi kekhawatiran sebahagian besar kawan-kawan di kelompok teater ; Bubar Jalan!!
Ipin dan kawan-kawan yang ada di copo mencoba untuk terus konsekuen dengan pilihan-pilihan yang telah mereka tentukan ini.Dengan segala macam keterbatasan ilmu,ruang,personil,dan finansial namun Karya demi karya setiap tahunnya terus mereka gelar di atas panggung. Entah seperti apa bentuk apresiasi yang akan lahir dari para pengamat serta penikmat-penikmat teater, tidak begitu dijadikan beban,toh nantinya mereka akan mendapat pelajaran yang berharga dari sebuah proses pertunjukkan untuk kemudian dijadikan bekal lagi menuju garapan selanjutnya. Bagi saya, kesan yang dilahirkan kawan-kawan copo disetiap proses-proses keseniannya adalah ikhlas. Ya, mereka terlihat begitu ikhlas tergelincir semakin jauh kedalam labirin-labirin kesenian.
Selain itu, kelompok teater ini juga sangat terbuka terhadap saran dan kritik dari senior maupun teman-teman yang berasal dari komunitas lain. Ketika mendapatkan masukkan terhadap proses-proses pertunjukan yang sedang atau yang akan dijalani, mereka menanggalkan pikiran-pikiran negatif terhadap bentuk-bentuk input yang datang tersebut,mereka terlihat selalu bersusaha menjadi sebuah “ember kosong” yang ingin menampung air sebanyak mungkin guna bekal menghapus dahaga di atas panggung nantinya. Tidak sedikit garapan-garapan mereka yang mendapat perhatian secara konsep dan tekhnis dari pekerja-pekerja seni kota Palu yang potensial dan lebih dulu melahap asam garam pada panggung-panggung pertunjukkan, misalnya saja Muhmmad Noerdiansyah,S.Sn dari teater lentera yang intens memberikan apresiasinya pada waktu-waktu latihan menjelang pertunjukan,juga emhan saja dan nashir umar dari komunitas seni tadulako kerap kali terlihat berdiskusi dengan serius terhadap persiapan-persiapan karya-karya yang akan di sajikan teater copo.Fitriani Idris S.Sn dari sanggar seni darsah serta Ashar Yotomaruangi dari Lembaga To Kaili bangkit pun selalu setia membantu kebutuhan-kebutuhan tekhnis pertunjukakan maupun dukungan moralnya terhadap teater copo. Hubungan silaturahmi yang dijaga baik ini ternyata membuahkan banyak hal positif dan kemudian digunakan oleh-oleh teman teater copo sebagai pendukung menuju karya-karya seni yang tetap memperhatikan keutuhan bentuk dan kualitas estetika dalam teater itu sendiri.
Rabu, 25 Januari 2012
INSPEKTUR JENDRAL,UPAYA MENGAPRESIASI BANGSA
INSPEKTUR JENDERAL, UPAYA MENGAPRESIASI BANGSA
Dalam admnistrasi kependudukan dan kemiliteran kita mengenal leveling sebuah jabatan yang memiliki golongan terbilang tinggi dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemeriksa untuk kemudian melaporkan perihal “pasang surut” beberapa badan di bidangnya. Jabatan ini pada umumnya dikenal dengan inspektur jenderal. Inspektur jenderal digunakan oleh beberapa Negara besar di Dunia,diantaranya Perancis,Amerika,jerman,inggris serta beberapa Negara-negara yang dulunya tergabung dalam Rusia. Di Negara kita tercinta ini juga memiliki gelar jabatan yang sama , Inspektur jenderal mengepalai sebuah unsur pengawas pada kementrian dan kemudian unsur tersebut diberi tajuk “inspektorat jenderal” dimana secara garis besar berfungsi sebagai pengawas kementrian yang menangani urusan pemerintahan yang nomenklatur kementeriannya atau ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945. Maka jelaslah bahwa inspektorat jenderal hendaknya menyelenggarakan fungsi pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan kegiatan administrasi umum, keuangan, dan kinerja untuk nantinya dilakukan evaluasi terhadap etos kerja pada jajaran kementrian di Republik ini.
Di tahun 1836 seorang sastrawan rusia berkebangsaan ukraina Nicolai Valisevich Gogol (kekaisaran Rusia, Sorochyntsi 01 april 1809 - Moscow 4 maret 1852.The great an artist ) menulis sebuah drama satire yang berjudul “Inspektur Jenderal”. Dalam dramanya ini,Gogol mendeskripsikan dengan begitu gamblang borok-borok moral para pejabat-pejabat tinggi sebuah wilayah yang kemudian mempengaruhi mereka dalam mekanisme pengambilan keputusan atas sebuah problem individu maupun publik,bahkan kerusakan cara berpikir para pemangku kepentingan ini mampu mengacaukan hal - hal terkecil sekaligus sensitif bagi sosok pemimpin ; Disiplin dan wibawa ! tentu kita semua sudah sangat mampu membayangkan bagaimana dampak bagi negara jika seorang pejabat nomor satu beserta jajarannya dalam sebuah wilayah Negara tersebut mengalami krisis disiplin dan pembawa’an. Suasana yang ditawarkan inspektur jenderalnya Gogol terasa begitu dekat dengan morat-maritnya Republik kita. Drama ini, menyajikan bentuk-bentuk kegelisahan serta keinginan kaum elit yang jauh dari landasan kepentingan masyarakatnya, malah munculnya segala jenis kesibukan tersebut berangkat dari kekhawatiran akan nasib pribadi mereka. Boleh jadi pada dua abad yang lalu Gogol menuliskan drama ini dengan tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh latar belakang kehidupan sosial, politik,budaya serta kaitannya terhadap kesadaran sejarah yang bergulir di zaman Tsar nya orang-orang Rusia dan tentu bersifat jauh lebih global. ( Tsar adalah gelar Kekaisaran Pertama dan Kedua Bulgaria sejak tahun 913 dan untuk merujuk kepada pemimpin-pemimpin Rusia pada dulu kala sejak 1547 hingga 1917.wikipedia), namun di kemudian hari kepekaannya ini dengan tidak sengaja telah membidik atmosfer politik serta dinamika kekuasaan pada negara-negara “coba terus berkembang” termasuk Indonesia yang semakin pasti mengalami kehilangan spirit dalam menjaga komitmen terhadap sistem politik yang telah di cetuskan guna menjalankan kehidupan yang mengutamakan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Kini terbukti bahwa berlandaskan kepekaan tersebut Nicolai V.Gogol mampu menemukan sebuah strategi pembacaan yang lihai dan cerdas serta dengan bijak menempatkan kesenian sebagai bagian dari pembentukan kultur pada masyarakat.Alhasil,kita orang Indonesia pun seolah merasa diwakili kegundahannya akan masa depan cerah sebuah negara oleh seseorang yang moyangnya mengaku secara kultural sebagai keturunan polandia.
Nah, ketika kita menyepakati bahwa Republik hakikinya adalah gagasan untuk mengaplikasikan kesetaraan,persamaan di dalam kemajemukan Nusantara,maka sesungguhnya bangsa ini telah gagal besar dalam menjalankan misi tersebut. Mengapa ? apa tolak ukurnya ? mudah saja, karena kita ternyata masih merasakan bahwa keadaan Rusia di 2 abad silam yang dideskripsikan Gogol lewat “Inspektur Jenderal” merupakan perwakilan yang tepat bagi perasaan ketika kita menatap wajah pertiwi ini. Begitu jelas bagaimana pendidikan politik publik hanya sebatas retorika, dan program program yang mendukungnya tidak ada yang mengena esensinya,justru para pejabat publik selalu saja memaksakan pandangan pribadinya terhadap persoalan-persoalan publik, maka jadilah Republik ini sebagai lahan instalasi politik tekhnis dengan dalih bahwa keguna’an republik adalah mengapresiasi “permohonan-permohonan” yang sekuler.
Barangkali merupakan sebuah tindakan arif jika para elit ini juga memasukkan kegiatan “nonton pertunjukkan” per tri wulan guna meng update dirinya menjadi pemimpin harapan bangsa atau minimal menambah jumlah “cermin pribadi” agar semakin kaya jualah cara memandang sebuah wilayah yang tengah dipimpinnya saat ini. Nah,jika saran ini masuk akal, saya merekomendasikan sebuah tontonan tepat bagi para pejabat kita yaitu sebuah pertunjukkan drama oleh Teater Copo,dengan lakon “Inspektur Jenderal” karya Nicolai V. Gogol,sutradara Ipin Cevin pada tanggal 10 dan 11 Februari 2012,20.00 Wita-selesai di Taman Budaya Sulteng.
Dalam admnistrasi kependudukan dan kemiliteran kita mengenal leveling sebuah jabatan yang memiliki golongan terbilang tinggi dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemeriksa untuk kemudian melaporkan perihal “pasang surut” beberapa badan di bidangnya. Jabatan ini pada umumnya dikenal dengan inspektur jenderal. Inspektur jenderal digunakan oleh beberapa Negara besar di Dunia,diantaranya Perancis,Amerika,jerman,inggris serta beberapa Negara-negara yang dulunya tergabung dalam Rusia. Di Negara kita tercinta ini juga memiliki gelar jabatan yang sama , Inspektur jenderal mengepalai sebuah unsur pengawas pada kementrian dan kemudian unsur tersebut diberi tajuk “inspektorat jenderal” dimana secara garis besar berfungsi sebagai pengawas kementrian yang menangani urusan pemerintahan yang nomenklatur kementeriannya atau ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945. Maka jelaslah bahwa inspektorat jenderal hendaknya menyelenggarakan fungsi pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan kegiatan administrasi umum, keuangan, dan kinerja untuk nantinya dilakukan evaluasi terhadap etos kerja pada jajaran kementrian di Republik ini.
Di tahun 1836 seorang sastrawan rusia berkebangsaan ukraina Nicolai Valisevich Gogol (kekaisaran Rusia, Sorochyntsi 01 april 1809 - Moscow 4 maret 1852.The great an artist ) menulis sebuah drama satire yang berjudul “Inspektur Jenderal”. Dalam dramanya ini,Gogol mendeskripsikan dengan begitu gamblang borok-borok moral para pejabat-pejabat tinggi sebuah wilayah yang kemudian mempengaruhi mereka dalam mekanisme pengambilan keputusan atas sebuah problem individu maupun publik,bahkan kerusakan cara berpikir para pemangku kepentingan ini mampu mengacaukan hal - hal terkecil sekaligus sensitif bagi sosok pemimpin ; Disiplin dan wibawa ! tentu kita semua sudah sangat mampu membayangkan bagaimana dampak bagi negara jika seorang pejabat nomor satu beserta jajarannya dalam sebuah wilayah Negara tersebut mengalami krisis disiplin dan pembawa’an. Suasana yang ditawarkan inspektur jenderalnya Gogol terasa begitu dekat dengan morat-maritnya Republik kita. Drama ini, menyajikan bentuk-bentuk kegelisahan serta keinginan kaum elit yang jauh dari landasan kepentingan masyarakatnya, malah munculnya segala jenis kesibukan tersebut berangkat dari kekhawatiran akan nasib pribadi mereka. Boleh jadi pada dua abad yang lalu Gogol menuliskan drama ini dengan tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh latar belakang kehidupan sosial, politik,budaya serta kaitannya terhadap kesadaran sejarah yang bergulir di zaman Tsar nya orang-orang Rusia dan tentu bersifat jauh lebih global. ( Tsar adalah gelar Kekaisaran Pertama dan Kedua Bulgaria sejak tahun 913 dan untuk merujuk kepada pemimpin-pemimpin Rusia pada dulu kala sejak 1547 hingga 1917.wikipedia), namun di kemudian hari kepekaannya ini dengan tidak sengaja telah membidik atmosfer politik serta dinamika kekuasaan pada negara-negara “coba terus berkembang” termasuk Indonesia yang semakin pasti mengalami kehilangan spirit dalam menjaga komitmen terhadap sistem politik yang telah di cetuskan guna menjalankan kehidupan yang mengutamakan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Kini terbukti bahwa berlandaskan kepekaan tersebut Nicolai V.Gogol mampu menemukan sebuah strategi pembacaan yang lihai dan cerdas serta dengan bijak menempatkan kesenian sebagai bagian dari pembentukan kultur pada masyarakat.Alhasil,kita orang Indonesia pun seolah merasa diwakili kegundahannya akan masa depan cerah sebuah negara oleh seseorang yang moyangnya mengaku secara kultural sebagai keturunan polandia.
Nah, ketika kita menyepakati bahwa Republik hakikinya adalah gagasan untuk mengaplikasikan kesetaraan,persamaan di dalam kemajemukan Nusantara,maka sesungguhnya bangsa ini telah gagal besar dalam menjalankan misi tersebut. Mengapa ? apa tolak ukurnya ? mudah saja, karena kita ternyata masih merasakan bahwa keadaan Rusia di 2 abad silam yang dideskripsikan Gogol lewat “Inspektur Jenderal” merupakan perwakilan yang tepat bagi perasaan ketika kita menatap wajah pertiwi ini. Begitu jelas bagaimana pendidikan politik publik hanya sebatas retorika, dan program program yang mendukungnya tidak ada yang mengena esensinya,justru para pejabat publik selalu saja memaksakan pandangan pribadinya terhadap persoalan-persoalan publik, maka jadilah Republik ini sebagai lahan instalasi politik tekhnis dengan dalih bahwa keguna’an republik adalah mengapresiasi “permohonan-permohonan” yang sekuler.
Barangkali merupakan sebuah tindakan arif jika para elit ini juga memasukkan kegiatan “nonton pertunjukkan” per tri wulan guna meng update dirinya menjadi pemimpin harapan bangsa atau minimal menambah jumlah “cermin pribadi” agar semakin kaya jualah cara memandang sebuah wilayah yang tengah dipimpinnya saat ini. Nah,jika saran ini masuk akal, saya merekomendasikan sebuah tontonan tepat bagi para pejabat kita yaitu sebuah pertunjukkan drama oleh Teater Copo,dengan lakon “Inspektur Jenderal” karya Nicolai V. Gogol,sutradara Ipin Cevin pada tanggal 10 dan 11 Februari 2012,20.00 Wita-selesai di Taman Budaya Sulteng.
Langganan:
Postingan (Atom)


