Selasa, 10 Agustus 2010
HAMLET
Pangeran Hamlet akhirnya memutuskan untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, namun karena pada dasarnya ia adalah orang yang kontemplatif dan pemikir, dia menundanya, dan malahan terpuruk dalam melankoli dan menjadi hampir gila. Claudius dan Gertrude mengkhawatirkan perilaku aneh pangeran dan berusaha mencari tahu penyebabnya. Mereka kemudian menugasi dua orang sahabat Hamlet, Rosencrantz dan Guildenstern, untuk mengawasinya. Ketika Polonius, tangan kanan Lord Chamberlain, sesumbar mengatakan bahwa mungkin Hamlet sedang tergila-gila pada anak gadisnya, Ophelia, Claudius akhirnya memutuskan untuk memata-matai perbincangan mereka berdua. Namun meskipun Hamlet tampak tergila-gila, ia tidak terlihat mencintai Ophelia. Ia malah menyuruhnya menjadi biarawati.
Suatu ketika sekelompok aktor keliling datang mengunjungi Elsinore, dan Hamlet mendapat ide untuk mengetes perasaan bersalah pamannya. Dia akan menyuruh aktor-aktor itu memerankan semacam reka-adegan pembunuhan ayahnya, dan tentunya, apabila memang Claudius bersalah, ia pasti akan bereaksi . Tatkala adegan pembunuhan itu dipentaskan di atas panggung, Claudius bangkit dan meninggalkan ruangan. Hamlet dan Horatio sepakat bahwa reaksi itu membuktikan bahwa memang Claudiuslah yang membunuh Raja Hamlet.
Pangeran Hamlet berencana untuk membunuh Claudius, tepat di saat ia mendapatinya sedang berdoa. Karena ia menyangka bahwa membunuh Claudius dalam kondisi sedang berdoa akan mengirimkan jiwanya ke sorga, Hamlet kuatir bahwa usaha balas dendamnya akan sia-sia. Ia pun memutuskan untuk menunda rencananya, menunggu waktu yang tepat. Claudius yang merasa keamanannya terancam seketika memerintahkan agar Hamlet dikirim ke Inggris.
Mendengar suara berisik dari balik mesin pemintal milik Polonius, Hamlet menyangka raja sedang bersembunyi di sana. Dia menarik pedangnya dan menghunusnya sepanjang pabrik, dan tanpa sengaja membunuh Polonius. Karena kejahatan ini, ia dibuang ke Inggris bersama dengan Rosencrantz dan Guildenstern. Bagaimanapun, rencana Claudius bagi Hamlet lebih dari sekedar pengasingan. Dia telah memberikan surat perintah bersegel untuk Raja Inggris untuk membunuh Hamlet.
Sepeninggal ayahnya, Ophelia menjadi gila karena kesedihan dan menenggelamkan dirinya di sungai. Putra polonius, Laertes, yang selama ini tinggal di Prancis kembali ke Denmark. Claudius meyakinkannya bahwa Hamletlah yang sepatutnya disalahkan atas kematian ayah dan saudarinya. Ketika Horatio dan raja menerima surat dari Hamlet yang menyatakan bahwa dirinya telah berpulang ke Denmawk karena bajak laut menyerang kapalnya dalam perjalanannya ke Inggris, Claudius menyusun rencana untuk menghabisi Hamlet dengan memanfaatkan hasrat balas dendam Laertes. Laerter akan bertarung dengan Hamlet dalam sebuah pertandingan olahraga, namun Claudius akan melumuri senjata Laertes dengan racun sehingga Hamlet akan mati apabila ia tertusuk. Untuk berjaga-jaga, ia juga membubuhi racun pada sebuah cawan berisi air minum, yang harus diminum Hamlet pada putaran pertama atau kedua.
Adu pedang pun dimulai. Hamlet menang pada putaran pertama, namun menolak untuk minum dari cawan itu. Tak dinyanya, Gertrudelah yang meminumnya dan seketika terbunuh oleh racun tersebut. Laertes akhirnya berhasil melukai Hamlet, namun Hamlet tidak terbunuh seketika itu juga. Malahan Laertes dilukai oleh mata pedangnya sendiri, dan setelah mengungkapkan pada Hamlet bahwa Claudiuslah yang bertanggung-jawab atas kematian ratu, dia meninggal karena racun telah menjalari seluruh tubuhnya. Hamlet kemudian menusuk Claudius dengan pedang beracun itu dan memaksanya meminum habis sisa anggur beracun itu. Claudius mati dan Hamlet menyusulnya setelah berhasil menunaikan dendam kesumatnya.
Minggu, 13 Juni 2010
GEREJA KRISTEN SULAWESI TENGAH
Sebenarnja bukanlah maksud NZG untuk memberitakan Indjil keteluk Tomini, dimana Poso terletak, melainkan untuk mengusahakan pekabaran Indjil kedaerah Gorontalo. Disitu sudah terdapat suatu djemaat ketjil terdiri dari orang-orang Minahasa, dan Pekabaran Indjil pusat mengharapkan supaja pekabaran Indjil dapat dilakukan dengan berdasar pada djemaat itu. Menurut rentjana tersebut Kruyt-lah jang akan memulai pekerdjaannja di Gorontalo pada tahun 1891. Tetapi segera ternjata bahwa tidak ada harapan apapun untuk memperkembangkan pekabaran Indjil didaerah itu. Hampir segenap Gorontalo sudah diislamkan, sehingga pengkristenan terhadap daerah itu sungguh memerlukan banjak waktu dan tenaga. Oleh karena itu Kruyt berpikir, bahwa hasil jang lebih baik bisa diperoleh disuatu daerah jang belum diislamkan. Bukankan daerah-daerah jang masih kafir tak boleh tidak akan diislamkan djuga, bilamana agama Kristen tidak selekasnja dibawa kesitu? Lagi pula ternjata bahwa djemaat orang-orang Kristen Minahasa di Gorontalo tidak sanggup memberi sumbangan kepada usaha Pekabaran Indjil disekitarnja itu. Sebabnja ialah karena mereka tidak mempunjai pergaulan dengan orang-orang suku Gorontalo, dan tidak perlu mengenal bahasa suku itu.
2.
Akibatnja ialah bahwa pada tahun 1893, Kruyt pindah ke Poso. Untuk dapat mengerti metodenja dalam usaha pekabaran Indjil baiklah kita ketahui bahwa ia lahir dan mendjadi besar di Djawa Timur dimana ajahnja bekerdja sebagai pekabar Indjil di Modjokarno. Dengan demikian ia sudah dapat me-raba-raba bagaimana Indjil itu seharusnja dikabarkan disuatu daerah jang belum dikerdjakan sama sekali. Ia berpendapat, bahwa Indjil tidak dimengerti serta berakar didalam suatu suku, djika itu tidak diberitakan dalam bahasanja serta dalam tjara dan bentuk jang tidak asing bagi orang-orang itu. Oleh karena itu sjaratnja jang utama ialah menjelidik bahasa, adat istiadat serta kebudajaan suku Toradja itu. Untuk mengerti luasnja pikiran itu, maka kita kutip suatu utjapan dari Adriani jang memang sependapat dengan Kruyt. Ia mentjeritakan tentang pekabaran Indjil jang dilakukan dalam bahasa "Melaju" diantara salah satu suku kafir, dan melandjutkan tjeritanja sebagai berikut: "...... orang-orang itu tak boleh tidak menganggap pekabaran Indjil sebagai suatu usaha untuk mendekatkan mereka dengan pemerintah Belanda. Memang, pada mulanja bahasa Melaju itu dianggap oleh orang-orang pedalaman sebagai bahasa pemerintah Belanda ...... Dapat dikatakan bahwa guru-guru Ambon biasanja sangat giat untuk menjebarkan agama Kristen, akan tetapi mereka menjebarkannja itu setjara Islam, artinja dengan memudjikannja itu sebagai suatu agama jang mempertinggi deradjat serta kehormatan para penganutnja. Dengan tjara ini kita memupuk suatu kekristenan nama sadja, sedangkan disamping itu agama jang lama masih berlaku terus."
Memang, kedjadian seperti itu harus ditjegah sedjak mulanja. Djanganlah sampai diterima oleh orang-orang sebagai "agama Belanda", pula djangan sebagai djalan menudju kepada kemadjuan sadja. Indjil itu se-dapat-dapatnja harus berakar didalam suku-suku itu, sehingga bukan beberapa orang sadja setjara pribadi masuk Kristen, melainkan hendaknja segenap suku dapat dikristenkan. Pengkristenan terhadap segenap suku dan bangsa, dengan tegas mendjadi tudjuan segala usaha Pekabaran Indjil daripada Kruyt dan Adriani. Mereka mengetahui benar-benar keadaan masjarakat dalam suku-suku itu. Sifat mereka ialah kolektif dan bukan individuil. Seseorang jang setjara pribadi mengambil keputusan untuk masuk Kristen tiada mempunjai tempat lagi didalam pergaulan keluarga serta suku. Keputusan untuk masuk Kristen sebaiknja harus diambil oleh seluruh keluarga, supaja keadaan jang lama dapat dirobah sampai ke-akar-akarnja, dan diganti dengan keadaan jang baru dalam kekristenan.
3.
Bersama-sama dengan Adriani maka Kruyt menunggu 17 tahun lamanja djustru untuk melakukan penjelidikan bahasa serta adat istiadat setjara mendalam sekali sebelum orang-orang jang pertama dapat dibaptiskan. Terlebih dahulu sudah ada beberapa orang jang minta dibaptiskan. Tetapi Kruyt menolak permintaan untuk dibaptiskan. Tak lain untuk mentjegah supaja mereka djangan dikutjilkan dari masjarakatnja. Ia baru bersedia melajani pembaptisan djika ada beberapa orang jang berkuasa mau mendjadi Kristen. Dengan demikian para anggota keluarga serta sukunja akan dapat djuga dikristenkan. Papa i Wunte seorang kepala kampung dekat Poso, merupakan orang pertama jang mengambil keputusan untuk masuk Kristen. Sebelum itu ber-tahun-tahun lamanja ia mendjadi teman karib Kruyt. Ternjata bahwa sesudah golongan jang pertama dibaptiskan, maka pengkristenan terhadap daerah itu berdjalan dengan amat lantjarnja. Pada hari Natal 1909 dibaptiskanlah pula sejumlah 180 orang. Suku-suku jang mendiami daerah-daerah sampai danau Poso (Tentena) dengan lekas dikristenkan. Kemudian djuga suku-suku Napu, Besoa dan Bada, jang hingga saat itu ditakuti oleh suku-suku jang lain, karena mereka tadinja adalah suku-suku jang mengajau dan menjamun. Sedjak tahun 1912 usaha pekabaran Indjil dilantjarkan pula kedaerah-daerah sebelah timur ialah suku Mori, tempat mana sudah didirikan beberapa sekolah pemerintah atas usaha seorang pendeta pembantu Geredja Protestan di Luwuk. Achirnja suku Towana jang pada waktu itu masih sangat terkebelakang, masuk Kristen djuga. Pada tahun 1938 berakarlah sudah Geredja dalam segala suku didaerah itu.
Para pekerdja untuk pengkristenan itu dipanggil dari Geredja Minahasa pada saat-saat permulaan. Dari situ datanglah sedjumlah guru sekolah dan pengindjil. Tetapi sedjak tahun 1913 dibukalah suatu kursus guru di Pendolo. Kemudian Tentena mendjadi tempat pendidikan jang utama. Pada tahun 1929 J. Kruyt, anak dari perintis pekabaran Indjil didaerah itu, membuka sebuah sekolah guru disitu. Pendidikan guru-guru sangat diperlukan mengingat banjaknja sekolah-sekolah rakjat jang didirikan diseluruh daerah itu. Kursus pengindjil dan pendeta baru dimulai pada tahun 1940 di Tentena ketika perang dunia kedua petjah, sehingga djumlah pendeta di Geredja itu belumlah mentjukupi.
Sedjak perang dunia kedua usaha pekabaran Indjil oleh Geredja Protestan diwilajah Luwuk-Banggai diserahkan djuga kepada NZG. Diwilajah itu sedjak 1912 puluhan ribu orang kafir "masuk kristen", dan kemudian dibaptiskan setjara massa, tetapi belum banjak jang mendjadi sidi, berhubung dengan kekurangan tenaga untuk melaksanakan pengadjaran agama-agama jang dibutuhkan.
4.
Bentuk Geredja itu baru selesai pada tahun 1947; hal ini memang telah diperlambat oleh perang dunia kedua. Tetapi pada tahun tersebut resort-resort jang dikerdjakan oleh para pekabar Indjil NZG dirobah mendjadi klasis-klasis. Madjelis-madjelis djemaat tiap klasis merupakan Rapat Klasis dan Rapat-rapat Klasis itu memilih Synode jang berdiri sendiri. Nama Geredja itu mendjadi Geredja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).
Sekarang ada 14 klasis. Pekerdjaan klasis-klasis itu diurus oleh suatu badan Pekerdja Klasis, dibawah pimpinan Ketua Klasis, jaitu seorang pendeta jang diangkat oleh Synode. Pendeta itu djuga jang melajani tanda-tanda esrar (sakramen) di-djemaat-djemaat jang biasanja dipimpin oleh seorang guru djemaat atau penatua. Pekerdjaan Synode diurus oleh Badan Pekerdja Synode, jang berpusat di Tentena.
Tudjuh klasis wilajah Luwuk-Banggai, jang disebut diatas, djuga terhisab dalam GKST, tetapi akibat letaknja jang djauh, perhubungan-perhubungan jang sangat kurang baik dengan Tentena serta keadaan jang agak berlainan, maka 7 klasis itu masih merupakan suatu "Synode Wilajah" tersendiri didalam lingkungan GKST seluruhnja.
Makin lama makin njata bahwa Geredja itu berdiri sendiri. Pekabar-pekabar Indjil dari luar negeri tidak lagi dipekerdjakan. Kesulitannja ialah letaknja jang sangat terpentjil, sehingga baik hubungannja dengan Geredja-geredja disebelah utara, ialah GMIM terutama, tidak dapat dilaksanakan setjara efektif, maupun perhubungan dengan Geredja Toradja di Rantepao dan Mamasa tidak mudah untuk mempereratkan mereka.
Selasa, 01 Juni 2010
OEDIPUS
[sunting] Kisahnya
Oedipus adalah anak dari raja Laius dan ratu Jokasta. Sebelum dia lahir, kedua orang tuanya menemui Orakel Delfi. Sang Orakel meramalkan bahwa raja Laius akan dibunuh oleh anaknya sendiri. Untuk mencegah agar ramalan ini tidak menjadi kenyataan, Laius memerintahkan untuk mengikat kaki Oedipus dan memakunya – dari sini termaknailah Oedipus sebagai “kaki bengkak”. Oedipus kemudian dibuang dari Thebes, akan tetapi seorang penggembala menemukannya dan membawanya ke Korinth untuk dipelihara oleh raja Polius. Bertahun kemudian, seorang pemabuk memberitahunya bahwa Polibus, bukanlah ayah kandung Oedipus. Demi mencari kebenaran cerita itu, dia pergi menemui Orakel dan diberi tahu bahwa dia memang ditakdirkan untuk membunuh ayahnya dan mengawini ibunya. Dalam usahanya untuk menghindari takdir, dia pergi dari Korinth ke Thebes.
Dalam perjalanannya ke Thebes, dia tiba di persimpangan tiga jalan dimana dia bertemu dengan kereta kuda yang dikendarai oleh raja Laius. Laius memerintahkan Oedipus minggir dari jalan agar keretanya dapat lewat, tetapi Oedipus tidak mau menurutinya. Oedipus tidak mengenal Laius saat itu, akan tetapi keduanya terlibat dalam pertikaian dan berakhir dengan Oedipus membunuh Laius dalam perkelahian. Seperti ramalan sang Orakel, Oedipus membunuh ayahnya. Saat ia meneruskan perjalanannya ke Thebes, dia berjumpa dengan Sphinx. Sphinx menghentikan semua orang yang lewat jalan itu sambil memberinya sebuah teka teki. Jika para pengembara tersebut tidak dapat menjawab dengan benar, maka Sphinx akan memakan mereka, jika mereka berhasil, mereka dapat melanjutkan perjalanannya.Teka-tekinya adalah “ Apa yang berjalan dengan empat kaki di pagi, dua kaki di siang dan tiga kaki di sore hari ?”. Oedipus menjawab : “Manusia; saat kecil, manusia berjalan dengan empat kaki dan tangannya, saat dewasa berjalan dengan dua kakinya dan saat tua berjalan dengan tongkatnya”. Setelah mendengar jawaban Oedipus yang benar, si Sphinx bunuh diri. Karena berhasil membunuh Sphinx, Oedipus diangkat menjadi raja Thebes dan juga dinikahkan dengan janda raja Laius, Jacosta. Mereka mempunyai empat anak: dua laki-laki, Poliniles dan Eteokles dan dua perempuan, Antigone dan Ismene.
Bertahun-tahun setelah perkawinan Oedipus dan Jakosta, sebuah wabah menyerang kota Thebes. Dalam arogansinya, Oedipus mengatakan akan mengakhiri bencana itu. Dia mengutus Kreon, saudara Jokasta, untuk menemui Orakel di Delfi, guna mencari petunjuk. Saat Creon kembali, dia mengatakan bahwa pembunuh raja Laius harus ditemukan, pembunuh itu harus dibunuh atau diasingkan agar bencana tersebut lenyap dari Thebes. Untuk mencari pembunuh itu, Oedipus bertanya pada Tiresias, seorang peramal buta, tapi Tiresias mengingatkannya agar usahanya untuk mencari pembunuh Laius tidak diteruskan. Karena terjadi pertikaian antara keduanya, maka akhirnya Tiresias mengungkap bahwa pembunuh sebenarnya raja Laius adalah Oedipus. Pada saat yang sama, seorang pesuruh datang dari Korinth, dan mengabarkan bahwa Raja Polibus, yang Oedipus anggap masih sebagai ayahnya, telah wafat. Utusan itu juga mengungkap bahwa Oedipus sebenarnya adalah anak angkat dari Polibus. Jokasta akhirnya menyadari identitas sebenarnya dari Oedipus, dia kemudian lari ke istana dan menggantung diri. Saat mendapati Jokasta telah tewas, Oedipus kemudian membutakan dirinya, dan pergi dari Thebes ditemani anaknya Antigone. Akhirnya dia meninggal di Kolonus setelah mendapatkan perlindungan dari raja Theseus.
Kedua anak lelaki Oedisius, Eteokles dan Polinikes berbagi kerajaan. Mereka memerintah bergantian setiap tahun. Akan tetapi saat tiba giliran Eteocles memerintah kerajaan, Polinikes menolak menyerahkan tahtanya. Terjadilah peperangan yang diakhiri dengan kedua saudara tersebut saling bunuh. Kreon, saudara Jokasta menggantikan mereka menjadi raja, dia memutuskan bahwa Polinikes adalah seorang pengkhianat dan tidak diperbolehkan untuk dikuburkan. Antigone yang tidak menerima keputusan ini, berusaha menguburkan Polinikes, tetapi Kreon akhirnya membunuhnya juga
Kamis, 27 Mei 2010
sedikit soal hamlet
Pangeran Hamlet akhirnya memutuskan untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, namun karena pada dasarnya ia adalah orang yang kontemplatif dan pemikir, dia menundanya, dan malahan terpuruk dalam melankoli dan menjadi hampir gila. Claudius dan Gertrude mengkhawatirkan perilaku aneh pangeran dan berusaha mencari tahu penyebabnya. Mereka kemudian menugasi dua orang sahabat Hamlet, Rosencrantz dan Guildenstern, untuk mengawasinya. Ketika Polonius, tangan kanan Lord Chamberlain, sesumbar mengatakan bahwa mungkin Hamlet sedang tergila-gila pada anak gadisnya, Ophelia, Claudius akhirnya memutuskan untuk memata-matai perbincangan mereka berdua. Namun meskipun Hamlet tampak tergila-gila, ia tidak terlihat mencintai Ophelia. Ia malah menyuruhnya menjadi biarawati.
Suatu ketika sekelompok aktor keliling datang mengunjungi Elsinore, dan Hamlet mendapat ide untuk mengetes perasaan bersalah pamannya. Dia akan menyuruh aktor-aktor itu memerankan semacam reka-adegan pembunuhan ayahnya, dan tentunya, apabila memang Claudius bersalah, ia pasti akan bereaksi . Tatkala adegan pembunuhan itu dipentaskan di atas panggung, Claudius bangkit dan meninggalkan ruangan. Hamlet dan Horatio sepakat bahwa reaksi itu membuktikan bahwa memang Claudiuslah yang membunuh Raja Hamlet.
Pangeran Hamlet berencana untuk membunuh Claudius, tepat di saat ia mendapatinya sedang berdoa. Karena ia menyangka bahwa membunuh Claudius dalam kondisi sedang berdoa akan mengirimkan jiwanya ke sorga, Hamlet kuatir bahwa usaha balas dendamnya akan sia-sia. Ia pun memutuskan untuk menunda rencananya, menunggu waktu yang tepat. Claudius yang merasa keamanannya terancam seketika memerintahkan agar Hamlet dikirim ke Inggris.
Mendengar suara berisik dari balik mesin pemintal milik Polonius, Hamlet menyangka raja sedang bersembunyi di sana. Dia menarik pedangnya dan menghunusnya sepanjang pabrik, dan tanpa sengaja membunuh Polonius. Karena kejahatan ini, ia dibuang ke Inggris bersama dengan Rosencrantz dan Guildenstern. Bagaimanapun, rencana Claudius bagi Hamlet lebih dari sekedar pengasingan. Dia telah memberikan surat perintah bersegel untuk Raja Inggris untuk membunuh Hamlet.
Sepeninggal ayahnya, Ophelia menjadi gila karena kesedihan dan menenggelamkan dirinya di sungai. Putra polonius, Laertes, yang selama ini tinggal di Prancis kembali ke Denmark. Claudius meyakinkannya bahwa Hamletlah yang sepatutnya disalahkan atas kematian ayah dan saudarinya. Ketika Horatio dan raja menerima surat dari Hamlet yang menyatakan bahwa dirinya telah berpulang ke Denmawk karena bajak laut menyerang kapalnya dalam perjalanannya ke Inggris, Claudius menyusun rencana untuk menghabisi Hamlet dengan memanfaatkan hasrat balas dendam Laertes. Laerter akan bertarung dengan Hamlet dalam sebuah pertandingan olahraga, namun Claudius akan melumuri senjata Laertes dengan racun sehingga Hamlet akan mati apabila ia tertusuk. Untuk berjaga-jaga, ia juga membubuhi racun pada sebuah cawan berisi air minum, yang harus diminum Hamlet pada putaran pertama atau kedua.
Adu pedang pun dimulai. Hamlet menang pada putaran pertama, namun menolak untuk minum dari cawan itu. Tak dinyanya, Gertrudelah yang meminumnya dan seketika terbunuh oleh racun tersebut. Laertes akhirnya berhasil melukai Hamlet, namun Hamlet tidak terbunuh seketika itu juga. Malahan Laertes dilukai oleh mata pedangnya sendiri, dan setelah mengungkapkan pada Hamlet bahwa Claudiuslah yang bertanggung-jawab atas kematian ratu, dia meninggal karena racun telah menjalari seluruh tubuhnya. Hamlet kemudian menusuk Claudius dengan pedang beracun itu dan memaksanya meminum habis sisa anggur beracun itu. Claudius mati dan Hamlet menyusulnya setelah berhasil menunaikan dendam kesumatnya.
Senin, 14 Desember 2009
PALU TEMPOE DOELOE

pada awalnya wilayah kota palu atau yang di sebut “lembah kaili” atau “tanah kaili”, memiliki sistem pemerintahan raja-raja ( ada yang mengatakan sistem ini di serap dari kerajaan-kerajan bugis terutama kerajaan gowa yang memang sudah memiliki hubungan baik sejak dulu dengan raja-raja di tanah kaili).
pemerintahan kerajaan ini memiliki taga badan :
* patanggota, artinya pemegang kekuasaan yang merupakan menteri. Patanggota terdiri dari empat orang yang berfungsi sebagai badan eksekutif.
* pitunggota, artinya pemegang kekuasaan yang merupakan menteri. Pitunggota terdiri dari tujuh orang yang berfungsi sebagai badan legislatif.
* Watunggota, artinya pemegang kekuasaan yang merupakan menteri. Watunggota terdiri dari 8 orang yang berfungsi sebagai badan eksekutif.
Pemerintahan kerajaan tanah kaili dipimpin seorang raja yang dianggap dari keturunan “to manuru” atau dewa batara. Keturunan raja-raja di sebut madika. Lembah palu dahulunya di kenal adanya 4 daerah kerajaan :
- Kerajaan-kerajaan palu
- Kerajaan-kerajaan tawaeli
- Kerajaan-kerajaan sigi
- kerajaan-kerajaan banawa
Susunan pemerintahan kerajaan tanah kaili pada masa raja-raja di tetapkan oleh satu hukum yaitu hukum adat yang dimana menurut keturunan “galara” (menteri kehakiman pada jaman raja-raja) hingga saat ini hanya hukum itulah yang akan mampu mengamankan daerah lembah palu dari keadaan apapun juga termasuk yang sering terjadi belakangan ini.
susunan pemerintahan pada jaman itu adalah sebagai berikut :
a. Magau adalah raja yang dipilih dan dilantik secara adat.
b. Madika malolo adalah raja muda sebagai wakil magau yang syarat pemilihannya juga sama dengan magau yaitu secara adat
c. Madika matua adalah perdana menteri yang merangkap urusan luar negeri dan ekonomi, Dia diangkat atau diberhentikan oleh magau atas persetujuan baligau atau ketua kota pitunggota.
d. Punggawa adalah menteri dalam negeri
e. Tadulako adalah menteri pertahanan dan keamanan
f. Galara adalahmenteri kehakiman
g. Pabicara adalah menteri penerangan
h. Sabandara adalah menteri perhubungan laut
kemudian pada abad ke 19 belanda masuk ke lembah palu dan menaklukan kerajaan kerajaan yang ada dengan cara mengadu domba setiap kerajaan dan membuat perjanjian jangka panjang lalu menjadi perjanjian jangka pendek.
Setelah masa kemerdekaan,dan dengan sejalannya penyusunan pemerintah pusat, sesuai peraturan pemerintah No 33 tahun 1952 terbentuk daerah swatantra tingkat II Donggala yang selanjutnya melahirkan kota Administratif Palu sesuai peraturan pemerintah no 18 tahun 1978. Kota admnistratif palu resmi di bentuk tanggal 27 September 1978.